Annoying Neighbor

390 47 0
                                        

Ben baru sampai di rumahnya saat petang. Seharian ini, setelah urusannya dengan perempuan gila tadi selesai, Vernon mengajaknya ke rumah temannya yang menawari pekerjaan untuk membersihkan kebun-kebunnya.

"Vernon, aku sangat berterima kasih soal pekerjaan itu."

"Hey, itu belum seberapa dibanding apa yang ayahmu lakukan untukku." Vernon melongokkan kepalanya keluar jendela mobil. "Tetanggamu berisik sekali."

Ben menoleh ke rumah tetangganya, yang dia masih ingat adalah milik keluarga Oswald. "Kurasa anaknya sedang berpesta. Tuan dan Nyonya Oswald sedang menjenguk orang tuanya."

"Ah, anak muda," ujar Vernon mengerti. "Dia akan dapat masalah kalau nanti orang tuanya pulang."

Ben terkekeh mendengar kalimat Vernon.

"Kulihat, kau sudah membersihkan halaman rumahmu?"

Ben mengangguk. "Tadi sebelum ke tempatmu."

"Mampirlah lagi ke kedai, aku akan membuatkanmu makanan enak."

"Besok sepulang kerja, aku akan mampir."

"Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu."

"Hati-hati di jalan," ujar Ben sambil melambaikan tangan pada Vernon yang mulai melaju meninggalkannya.

Satu masalah sudah selesai, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan, Ben tidak perlu memikirkan dari mana dia akan mendapatkan uang dan makanan. Hal lain yang harus dia pikirkan saat ini adalah mencari orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang dialaminya selama 15 tahun ini. Diambilnya ponsel pemberian Vernon dan mencari sebuah nama keluarga, tidak perlu waktu lama. Nama itu begitu termasyur di Rotterfort, hampir semua sektor penting di kota ini dikuasai oleh mereka.

Jemari Ben masih menari di atas layar ponselnya, tapi kemudian kedua netranya membelalak sempurna saat membaca satu judul artikel di sana. Ernest Softucker tewas bunuh diri!

"Sial!" maki Ben dengan jemari yang mencengkeram erat ponselnya. "Kau sudah mati? Kita belum bertemu Ernest, tapi kenapa kau sudah mati?! Argh! Kau belum merasakan mendekam di dalam penjara atas perbuatanmu, Bajingan!"

Ben menggeram kasar, menendang meja kayu di depannya. Merutuki kematian Ernest Softucker yang terlalu cepat, kematian pria yang menyeret ayah Ben ke penjara atas tuduhan yang salah!

"Tidak! Tidak! Meskipun kau sudah mati, keluargamu tetap harus menerima pembalasanku, Ernest! Ya, kau masih punya seorang adik yang mewarisi seluruh harta kekayaanmu! Aku akan membuat adikmu bertekuk lutut di hadapanku, memohon untuk dikasihani hidupnya. Seperti yang kau lakukan pada ayahku! Di alam sana, kau akan menyesali semua itu! Kau akan berharap bisa hidup kembali untuk menolong adikmu!"

Ben kembali menekuri layar ponselnya, mencari segala informasi tentang keluarga Softucker yang masih tersisa. Membuat keluarga Softucker hancur adalah tujuan pertama Ben setelah dia keluar penjara. Satu pun, Ben tidak akan menyisakan anggota keluarga Softucker, semuanya harus menerima pembalasannya. Sepeser pun, Ben tidak akan menyisakannya untuk keluarga bedebah itu.

Fokus Ben pada layar ponselnya teralihkan dengan suara ketukan kencang di pintu rumahnya. Ben segera beranjak untuk membuka pintu, tapi dia tidak menemukan seorang pun di sana. Ben melongok ke luar, dan dilihatnya dua pria berlari seraya terbahak.

"Dasar bocah!" maki Ben, lalu tak mengacuhkannya.

Namun, baru beberapa saat berlalu, suara gedoran yang lebih kencang kembali terdengar. Ben kembali membuka pintu rumahnya, dan lagi-lagi dua bocah sialan itu terbahak! Persetan jika mereka masih bocah, Ben tidak peduli. Dia langsung mengejar kedua pria itu yang berakhir di rumah tetangganya yang sedang mengadakan pesta.

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang