Just like any other day

101 10 1
                                        

"Kau baik-baik saja?" tanya Vernon seraya mendorong segelas brendi ke depan Ben. "Kau sudah dengar kabar terbaru tentang Sam?"

Ben mengangkat wajahnya menatap Vernon.

"Kuharap, ini tidak ada kaitannya dengan luka di wajahmu, Ben. Atau..." Vernon menghela napas. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau nekat menemuinya? Apa kau tidak bisa memulai hidup baru seperti yang diinginkan ayahmu?"

"Apa kau bisa melakukannya jika ini terjadi pada Peter?"

"Bukan begitu, Ben. Maksudku, kau boleh saja menemuinya untuk meminta penjelasan, tapi tidak perlu menghajarnya sampai mati."

Ben menurunkan gelas brendinya, keningnya mengerut. Terakhir kali ia melihat Sam empat hari lalu, Ben yakin pria tua itu masih bernapas, bahkan mengacungkan pistol ke gerombolan yang hendak menculik Ella.

"Berita dari mana itu? Aku tidak membunuhnya!" desis Ben tepat di depan wajah Vernon, matanya kemudian melirik koran lokal yang terbengkalai tak jauh dari mereka. Ben membaca sekilas isi berita yang ada di kolom paling kiri. Kini ia tahu mengapa Vernon menuduhnya membunuh Samuel. "Apa yang tertulis di sini adalah benar, Paman Vernon. Di berita ini ditulis bahwa Samuel mati, karena pukulan benda tumpul di kepalanya. Tapi itu bukan aku yang melakukannya, itu ulah gerombolan penculik yang ingin menculik Ella. Sam menyuruh kami kabur dan meninggalkan dirinya. Bahkan sebelum aku pergi, dia masih berteriak minta maaf padaku tentang perbuatannya di masa lalu."

Kedua mata Vernon menyipit. Pria itu masih belum sepenuhnya percaya dengan cerita Ben. Namun, Ben tidak ambil pusing dengan prasangka Vernon, karena memang itulah yang terjadi kemarin. Sam masih berdiri di sana dengan tangannya yang mengacungkan pistol saat Ben menggendong Ella kembali ke mobil dan melaju pergi. Sekilas, Ben bisa melihat kilatan amarah di mata para penculik itu, dan Ben yakin, hal yang terjadi selanjutnya adalah mereka melampiaskan amarah pada Samuel, hingga membuat pria itu mati.

"Aku bersumpah atas nama Maxwell Cerg!" pungkas Ben dengan telapak tangan kanannya yang terangkat. "Aku memang membenci Sam, tapi aku bukan pembunuh."

"Sam menceritakan semuanya padamu?"

"Aku tidak yakin bahwa dia menceritakan semuanya," kekeh Ben. "Dia hanya minta maaf dan memintaku untuk mengunjungi kawannya di Blackford."

"Maksudmu di penjara Blackford?"

Ben mengangguk. "Dia bilang, orang yang menyebabkan kematian ayahku, ada di sana. Dia mendekam di penjara. Kau tahu apa yang lucu?"

Vernon terdiam.

"Dia adalah kawanku saat di penjara. Ternyata pria tua yang kuanggap sebagai keluarga di penjara adalah orang yang menyebabkan semua ini!"

"Siapa?"

"Arian. Arian Zachary Junior."

Tempo hari, Samuel memang tidak banyak bicara. Pria tua itu lebih banyak mengoceh soal wanita dan pulau impiannya daripada menjawab pertanyaan Ben. Perlu dua tinju di wajah Samuel untuk membuat Samuel fokus pada Ben, tapi syarafnya yang menua tidak mengingat banyak tentang kejadian di masa lalu. Hingga akhirnya sesuatu memantik ingatannya dan nama Arian Zachary Junior meluncur dari bibirnya. Jangan tanyakan kebingungan dan pertanyaan yang langsung memenuhi kepala Ben, saat nama kawan lamanya di penjara disebut.

Ben tidak ingin membuang waktu, setelah meninggalkan Ella di pondok, keesokan harinya ia segera pergi ke Blackford untuk mengunjungi Arian. Berulang kali pria itu meminta maaf pada Ben, karena telah berbohong padanya.

"Maafkan aku, Ben. Seharusnya sejak dulu, aku mengatakan siapa diriku yang sebenarnya. Tapi aku terlalu takut. Namun, sungguh, aku tidak tahu bagaimana Max bisa tertangkap. Berita terakhir yang kutahu dari ayahku, mereka semua berpencar, kabur dengan cek yang sudah mereka terima. Bahkan ayahku tidak memiliki kesempatan menggunakan cek itu untuk membebaskanku, karena mereka tidak mungkin kembali ke Rotterfort. Mereka sudah menjadi buronan. Aku minta maaf, karena tidak bisa mencegah ayahmu untuk mengakhiri hidupnya. Seharusnya, aku bisa melakukan sesuatu untuk kalian."

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang