Heart to Heart

151 10 1
                                        

Ben menarik napas panjang dan tatapannya lurus pada langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Biasanya sarang laba-laba atau atap yang hampir roboh akan menjadi pemandangan rutinnya setiap kali ia membuka mata, tapi kali ini berbeda. Tidak ada hal-hal menjijikkan, hanya atap kayu yang kokoh dan sebuah lampu gantung. Sisi ranjang di sebelahnya yang kosong sudah terasa dingin. Itu berarti Ella sudah cukup lama meninggalkannya.

Di luar masih gelap, dingin, dan sepertinya gerimis. Menikmati suasana yang menenangkan seperti ini memang pas dengan ditemani secangkir minuman hangat. Mungkin selain itu, juga mengulang kegiatan panas dan penuh gairah yang beberapa saat lalu ia lakukan bersama Ella. Memikirkannya saja membuat Ben ingin tertawa keras sekali. Ia masih tidak menyangka akan berakhir kembali bercinta dengan Ella. Itu adalah satu dari sekian banyak hal yang diinginkannya, tapi berada di bagian bawah daftarnya. Namun, jika bercinta bisa membuat Ella tergila-gila padanya, itu juga tidak ada ruginya bagi Ben.

Hujan menggantikan gerimis di luar sana dan tidak ada tanda-tanda Ella akan kembali ke sisi Ben. Hal ini membuat Ben bingung sekaligus penasaran. Tanpa repot-repot mengenakan pakaiannya kembali, Ben keluar kamar dan mencari keberadaan Ella. Ia tidak menemukan Ella di ruang tamu, dapur, atau pun di kamar tamu lainnya.

"Ella!"

Ya, Tuhan! Jangan bilang kalau Ella bersembunyi lagi di gudang! Untuk apa ia melakukan hal itu? Ben melangkah kembali menuju dapur, lalu menyibak horden di atas tempat cuci piring. Kedua matanya memicing, berusaha menerobos jauh di antara rintik hujan ke arah gudang. Suasana begitu gelap dan Ben tidak yakin kalau Ella ada di sana.

Ben menggeram kesal! Lalu kembali ke kamar untuk memakai celananya, tapi baru saja ia akan memungut pakaiannya dari kolong ranjang, ia mendengar bunyi berdebam dari arah luar. Waspada, Ben segera memakai celana, lalu berlari menuju pintu depan pondok. Ia membuka pintu itu dengan tergesa dan menemukan Ella terduduk di serambi, basah, menggigil, dan menangis.

"Apa yang kau lakukan?!" teriak Ben kesal, sembari membantu Ella berdiri, lalu menggendongnya masuk.

Ben segera mengambil selimut dan handuk untuk Ella, lalu menyalakan perapian.

"Keringkan badanmu. Aku akan buatkan segelas susu panas," ujarnya.

Dengan cekatan Ben memasak air dan menuang bubuk susu ke dua cangkir. Sesekali ia melihat Ella yang sama sekali tidak melakukan perintah Ben. Gadis itu hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah perapian. Setelah menyeduh dua cangkir susu panas, Ben kembali duduk di samping Ella. Diraihnya handuk yang menggantung di tangan Ella, lalu perlahan mengusap rambut Ella. Entah apa yang dipikirkan gadis ini. Dari mana saja? Ini masih tengah malam!

"Minumlah," ucap Ben, seraya menyodorkan secangkir minuman hangat. Kemudian ia beranjak ke kamar Ella untuk mengambil baju ganti. "Cepat ganti pakaiakanmu."

Ella menerima pakaian yang diulurkan Ben dan tanpa basa-basi, ia langsung membuka bajunya. Ben tertegun untuk beberapa saat. Meski ia sudah melihat seluruh tubuh Ella, tapi ia cukup kaget dengan tindakan Ella yang benar-benar tidak tahu malu seperti sekarang ini.

"Kau dari mana?" tanya Ben yang sudah menemani Ella duduk di depan perapian. Ia mengambil bantal-bantal dari kamar dan selimut—karena Ella menolak beristirahat di kamar—lalu menumpuknya bersama bantal sofa. Seperti membuat sebuah benteng yang mengelilingi Ella, yang memilih berbaring di depan perapian.

Ella tidak menjawab. Gadis itu hanya menarik selimutnya lebih tinggi hingga sebatas lehernya. Ia masih menatap lurus ke arah lidah-lidah api yang bergerak di hadapannya.

"Baiklah, kalau kau tidak mau bercerita," pasrah Ben, lalu ia turut berbaring di samping Ella.

Tanpa diduga Ben, Ella tiba-tiba saja bergerak, mendekat pada Ben. Bahkan ia memeluk Ben dan menjadikan dada polos Ben sebagai bantalnya. Ben bisa merasakan rambut Ella yang masih basar, tubuhnya juga sedikit gemetar, dan itu semua membuat Ben tidak punya pilihan lain selain membalas pelukan Ella. Tangannya mengelus pundak Ella, seolah menenangkannya.

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang