Poor, Little Ella!

121 11 4
                                        

Seolah langit turut berduka, tiada matahari bersinar di langit Rotterfort beberapa hari ini. Peristiwa penembakan di depan teater menjadi tajuk utama hampir seminggu lamanya. Selama itu pula Ernest Softucker mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk mencari pembunuh istri dan adik perempuannya. Setiap hari, ia akan datang ke kantor polisi dengan satu koper uang untuk informasi apa pun tentang komplotan pembunuh. Namun, sudah hampir seminggu pula, belum ada kabar tentang para pelaku. Polisi menduga para pelaku sudah meninggalkan Rotterfort setelah melakukan pembunuhan. Tentu saja Ernest tidak percaya begitu saja. Diam-diam, ia juga menyewa penyelidik swasta, bahkan sayembara dengan hadiah ratusan juta untuk setiap kepala pelaku.

"Sampai kapan kau akan seperti ini?"

Ernest mendongak dari lembaran dokumen di mejanya. Tersenyum kecil melihat adik iparnya yang terlihat sama tidak bergairahnya seperti dirinya, setelah kehilangan istrinya. "Kalau kau datang hanya untuk menceramahiku agar berhenti mengejar para pembunuh itu, lebih baik kau pulang saja."

"Mereka sudah kabur, Er. Polisi juga mengatakan bahwa mungkin itu perampokan yang gagal dan berakhir dengan terbunuhnya istri-istri kita, Camilla dan Veronica."

"Masa bodoh dengan hal itu, aku tetap akan mencari mereka. Aku yakin, penembakan itu memang sudah direncanakan. Jika memang itu suatu perampokan acak, maka salah satu di antara mereka tidak akan mengejarku dan Ella!"

"Mereka mengejarmu?" tanya James.

"Ya, aku yakin, dia mengincarku, tapi suara sirine polisi membuatnya takut."

"Kau sempat melihat wajahnya?"

Ernest menggeleng. "Terlalu gelap, dia juga memakai topeng."

"Kau sudah mengatakan ini pada polisi?"

"Ya, mereka bilang, kami beruntung tidak ditembak."

"Ya, polisi benar," ucap James. "Sudah jam delapan malam, kau tidak ingin pulang untuk makan malam? Setidaknya, Ella membutuhkanmu untuk mengantarnya tidur, seperti yang biasa dilakukan ibunya."

Ernest menghela napas pelan. Sejak Ella keluar dari rumah sakit dan dinyatakan baik-baik saja, Ernest belum sempat menemuinya—lebih tepatnya tidak berani menemui putrinya. Ernest terlalu pengecut, ia takut Ella akan bertanya tentang kejadian malam itu dan Ernest belum bisa memberikan jawaban apa pun.

"Neneknya ada di rumah, 'kan? Dia akan menggantikan Vero bercerita tentang pangeran dan putri."

"Baiklah," ujar James mengalah, tidak ingin memaksa Ernest lagi. Seperti dirinya, tidak ada yang mampu memaksanya berhenti berkabung untuk Camilla, hanya waktu yang mungkin bisa menjawabnya. "Aku akan sampaikan pada ibu dan Ella, kalau kau sedang sibuk."

***

Hampir sebulan sudah Ernest kehilangan istri tercintanya, dan akhirnya sebuah kabar yang menggembirakan datang. Polisi mengabarkan bahwa mereka menangkap satu anggota komplotan perampok. Mendengar hal itu, Ernest bergegas pergi ke kantor polisi untuk melihat bagaimana wajah pembunuh istri dan adiknya.

Sesampainya di kantor polisi, seorang polisi menghadang Ernest yang hendak masuk ke ruang interogasi. Polisi itu tahu, jika Ernest dibiarkan melewati pintu ruangan, maka pria itu tidak akan segan-segan menghabisi tersangka yang hanya bisa menunduk dengan tubuh yang gemetar itu. Tidak perlu waktu lama bagi polisi untuk memenjarakan pelaku, karena ia mengakui seluruh perbuatannya. Hanya tiga kali persidangan dan pria bernama Maxwell Cerg kini mendekam di balik jeruji penjara Blackford.

Tertangkapnya Maxwell Cerg, ternyata tidak membuat Ernest puas. Obsesi dan kegilaannya setelah melewati malam berdarah di teater itu ternyata tidak berkurang. Ia tidak lagi berperan sebagai kepala keluarga yang penyayang dan pengusaha yang gila kerja, melainkan pria bengis yang terobsesi untuk mencari pembunuh keluarganya. Kegilaannya itu, benar-benar membuatnya lupa telah memiliki seorang putri yang masih membutuhkannya. Ernest tidak lagi menghabiskan waktu bermain bersama Ella di akhir minggu, menceritakan dongeng sebelum tidur, atau sekedar memeluk gadis kecilnya saat menyambut kepulangannya.

Pengawal Nona MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang