Assalamu'alaikum...
Gus Hamam kembali lagi...
Salam sayang dari Gus Hamam.
Love kalian semua... 😍🥰😘
Happy Reading!!!
POV GUS HAMAM 2
***
"Le, dari mana?" tanya Abah saat aku masuk rumah setelah menjawab salamku. Abah duduk bersila di ruang tamu, membaca kitab kuning.
"Anu, Bah. Dari mushola," lirihku sambil duduk di samping beliau. Perlahan Abah menutup kitab tersebut, melepas kacamatanya dan menatapku.
"Le, nek seneng cah wedok kui langsung dilamar, Ojo malah bertindak yang di larang oleh agama, itu bahaya nanti malah jadi fitnah,"
Aku mengernyitkan kening, mencoba mencerna apa yang beliau katakan.
"Maksudnya, Bah," tanyaku heran.
"Sopo cah wedok seng karo sampean di mushola? " selidik Abah sambil menepuk pundak kananku.
"Bah," aku menunduk karena aku tahu bahwa apa yang aku lakukan tadi salah. Dan Abah mengetahuinya.
"Ngapunten, Bah," sambungku.
"Ojo diulangi maneh, Le. Sampean ki dadi panutan, kudu iso njogo nama baikmu opo maneh pesantren iki," nasihat Abah.
"Nggeh, Bah, Ngapunten," lirihku menunduk dan mencium punggung tangan beliau berkali-kali.
Karena malam semakin larut Aku dan Abah beranjak dari tempat duduk lalu masuk ke kamar masing-masing.
Duduk di tepi ranjang berlahan mengambil kertas lecek yang sudah tak berbentuk itu dalam saku baju koko yang kupakai.
"Astaghfirullah," lirihku. Saat aku membaca surat tersebut.
Aku tercekat tak percaya, bahkan surat itu aku baca berkali-kali dan isinya sama. Pantas saja Maira begitu terluka. Bagaimana tidak? Orang yang dicintai menikah dengan wanita lain. Aku yang hanya membaca suratnya saja ikut merasakan sakit hati. Apalagi yang mengalaminya. "Semoga Allah menguatkan hatimu, Mai," aku menghela napas berat.
Sungguh sakit ketika kita berpisah tapi bukan atas keinginan kita sendiri. Melainkan karena orang lain. Mereka berdua pasti terluka oleh rasa yang memaksanya untuk mengikhlaskan dan merelakan untuk pergi.
Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal. Apalagi sudah ada niatan untuk menikah, akan tetapi harapan mereka pupus karena sebuah perjodohan. Ah, semoga kisah cintaku berakhir bahagia.
"Maira, aku berjanji akan membahagiakanmu," gumamku dalam hati.
***
Hari dimana pernikahan Ning Hasna sepupuku telah tiba. Ya, Ustaz Naufal telah di jodohkan oleh Ning Hasna putri dari Pak Lek Dahlan yang tinggal di Jogja, saudara kandung Abah.
Hatiku merasa tak karuan kala mendengar Ummi meminta Miara menemani beliau untuk hadir di pernikahan Ning Hasna. Aku mencoba memberi saran agar Mbak Mila saja yang menemani Ummi. Namun, saran itu di tolak oleh Beliau.
Aku menatap nanar Maira sekilas, dia menunduk dan tetap bergeming tiada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Bagaimana mungkin dia hadir di pernikahan orang yang mungkin masih ia cintai? Bukankah itu sangat menyakitkan? Kita menyaksikan orang yang dulu kita damba untuk menjadi pendamping hidup, nyatanya menyebut nama orang lain saat ijab qobulnya. Membayangkan saja aku tak sanggup, terlalu sakit untuk dirasa.
***
Setelah kurang lebih menempuh perjalan tiga jam dari Ngawi ke Jogja. Kini tiba di kediaman rumah Pak Lek Dahlan. Terpampang jelas di gapura depan 'Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin'. Sebuah tenda megah warna biru muda yang tampak elegan dan mewah.
Setelah mobil terparkir di depan mushola yang terletak di samping ndalem Pak Leh Dahlan, Kami semua turun. Namun, tak sengaja aku mendengar Maira izin ingin ke kamar mandi. Ah, menurutku itu hanya alasannya saja untuk tidak ikut masuk ke ndalem. Mungkin dia juga tidak tahu di mana kamar mandiya.
Benar saja, setelah Abah dan Ummi pamit masuk dulu ke ndalem. Maira menangis. Sungguh hatiku sangat ngilu melihat wanita yang aku cintai menangis karena orang lain.
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas bermotif bunga. ingin dia titipkan padaku untuk di berikan pada sang pengantin. Namun, aku menolaknya.
Setelah beberapa saat aku menasihatinya dia pun mau masuk ke ndalem. Tak lupa dia mengusap air matanya dengan sapu tangan yang telah aku berikan waktu itu.
Ijab qobul yang dilangsungkan mendadak menjadi tegang karena Ustaz Naufal dua kali salah menyebutkan nama lengkap Ning Hasna. Mungkinkah karena kedatangan Maira?
***
Dia kusebut sebagai calon istriku saat ada ya bertanya. Kalian tahu? Wajah syoknya sangatlah menggemaskan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama ketika Ummi mengajaknya untuk poto bersama dengan sang mempelai. Lagi dan lagi Maira memperlihatkan senyumnya di atas luka hatinya. Maira, aku tahu di baik senyumanmu ada hati yang hacur, remuk, patah sepatah-patahnya.
Setelah dhuhur kami pamit undur diri, sebuah kotak kado yang ingin di berikan Maira kepada Ustaz Naufal sengaja aku menyuruhnya untuk di letakkan di atas meja yang terdapat tumpukan kado dari para tamu undangan.
Cukup sudah drama pura-pura bahagia. Itu sungguh sangat menyedihkan.
"Gus, kapan dihalalkan?" tanya Ning Hasna padaku saat Miara memberikan selamat kepada Ning Hasna masih dengan menggenggam tangan Maira.
"Secepatnya Ning, doakan ya?" jawabku santai dengan senyum termanisku. Eh,
"Alhamdulillah akhirnya Mas laku juga," ledeknya.
Aku melihat Ustaz Naufal terperangah atas pengakuanku. Maira, dia tidak menanggapi apapun setelah mengucapkan selamat kepada Ustaz Naufal lalu melenggang pergi.
Benar saja dugaaku, tangisnya tumpah ruah di parkiran. Rasanya aku ingin memeluknya untuk mengurai rasa sakit di hatinya. Andai sudah halal. Dan untuk kesekian kalinya dia menangis di depanku.
Waktu cepat berlalu kini sebulan setelah peristiwa itu aku merasa Maira mengindariku. Tak pernah sekalipun berbicara padaku kecuali jika aku yang bertanya. Itu pun dengan jawaban yang singkat. Hanya 'nggeh, Gus, Mboten, Gus'.
Ada apa denganmu Maira? Jika aku berpikir bahwa aku bisa memilikimu dengan mudah, nyatanya kau semakin menjauh. Ragamu memang dekat denganku. Namun tidak dengan hatimu. Tak bisakah kau membuka hatimu untukku maira?
***
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Lentera Hati Maira
Romance(Follow dulu sebelum baca🥰) *** Maira Wardatul Jannah, seorang santriwati yang menjadi Abdi ndalem dan diam-diam dicintai oleh Gusnya. Yakni, Muhammad Hamam Al-Azizi. Sedangkan Maira sudah memiliki tambatan hati sejak di bangku Madrasah Aliyah du...
