13. Sakit tapi tak berdarah

44 5 6
                                        

Ikhlas itu memang butuh pernapasan panjang, ikhlas itu berat, berat banget, apalagi mengikhlaskan kamu sama dia. Namun, yakin cepat atau lambat aku pasti bisa dan kelak akan menemukan seseorang yang lebih baik dari kamu.

***

"Wes Mbak Maira, ojo nangis maneh, sapu tangan yang tak kasih dulu di bawa ndak?" tanyanya.

Aku hanya mengangguk karena bibir ini tak mampu untuk berucap.

"Yo wes diusap dulu kui air mata sampean, opo mau ke kamar mandi?Biar lebih seger mukanya ndak lungset ngunu?" sambunganya.

Aku menggeleng, mengeluarkan sapu tangan biru muda lalu perlahan mengusap ke wajahku oleh air mata.

"Piye? mau masuk sekarang?" tanyanya.
"Gus, boleh ndak aku nunggu di sini saja," lirihku.
"Nanti sampean di cariin Ummi, malah aku nanti di marahi Ummi karena ninggal sampean sendiri di sini,"

Kuambil napas dalam-dalam dan kuhempaskan perlahan dan kuulangi berkali-kali. Ikhlas, ikhlas, ikhlas Ya Allah. Lalu aku pun memasukan sapu tangan dan kotak kado kedalam tas Kembali.

Kami pun mulai memasuki tenda yang megah itu. Gus Hamam berjalan lebih dulu dan aku mengekor di belakangnya.

Suasana di kediaman Ning Hasna sangat ramai, para keluarga berkumpul menyaksikan hari bahagia putri mahkota Pesantren Roudlotut Tholibin. Rombongan dari pengantin putra pun sudah memenuhi tenda.

Dengan langkah ragu aku tetap melangkah masuk ke ruang tamu. Dimana akan dilaksanakan acara ijab qobul. Terlihat sang pengantin laki-laki duduk berhadapan dengan Kyai Dahlan untuk melangsungkan Ijab.

Allah, aku harus kuat, kuat, kuat. Gus Hamam duduk di sebelah kiri khusus untuk laki-laki, duduk lesehan, pun aku juga duduk di samping Ummi sebelah kanan khusus untuk tamu perempuan yang sebelumnya telah menyalami para tamu dan keluarga yang ada diruangan ini. Di tengah tepat sang pengantin pria beserta wali dan saksi.

Bisik-bisik kudengar tentang diriku yang di sebut sebagai calon mantu Ummi Ma'summah. Karena Aku masuk bebarengan dengan Gus Hamam. Aku tak menghiraukan itu. Karena saat ini, diriku hanya fokus pada bagimana caranya air mata ini tidak tumpah ruah membasahi pipi.

Aku menunduk tak mampu melihat pemandangan yang menorehkan luka di hati. Tiga kali Kak Nuafal Ijab baru berhasil dan kami yang menyaksikan berkata 'sah, sah, sah' syukur Alhamdulillah ucap semua orang yang menyaksikannya. Karena sempat bersitegang karena Kak Naufal selalu salah sebut nama sang pengantin wanita.

Ya, dia melihat kedatanganku. Mungkin kehadiranku membuyarkan konsentrasinya dalam menyebut nama ratunya.

Allah, Aku sudah ikhlas melepaskannya. Semoga menjadi keluarga Sakinah, mawaddh, warahmah.

***
Acara resepsi pun telah di gelar sepelas ijab qobul. Ummi ikut serta membatu menyiapkan makanan dan jajanan untuk disajikan kepada para tamu undangan begitu pun aku.

"Nduk, Sampean calonnya Gus Hamam to," ucap ibu-ibu sepantaran Ummi.

"Emm, mbo_" jawabanku terhenti kala ada seseorang yang menyelanya.

"Nggeh, Bu Lek," jawab Gus Hamam yang tiba-tiba datang dari arah pintu samping.

Aku? Ah, apa aku tidak salah dengar? Apa-apaan Guse ini. Kenapa mengiyakan ucapan ibu-ibu itu? Dan Ummi? Ah, Ummi malah tersenyum menanggapi jawaban putranya. Aku hanya menanggapi dengan senyum kikuk.

"Wah, ayune, sopo jenenge Nduk?" ungkapnya dengan raut sumringah.

"Maira, Bu," jawabku canggung dengan senyuman.

"Panggil Bu Lek aja seperti Gus Hamam, dia itu ponakkanku, Nduk," jelasnya sambil mengusap-usap lengan kananku.
Ya, beliau adalah adik ke dua Abah Kyai Khalid.

"Nggeh, Bu Lek," ucapku terbata, Beliau tersenyum bahagia.

Lantunan sholawat mengiringi acara resepsi ini dengan meriah. Ning Hasna tampak cantik dengan memakai baju warna biru muda dengan gaun yang menjuntai panjang. Sungguh, kecantikannya bak bidadari yang turun dari surga.

Siapa yang mampu menolak pesona Ning Hasna? Bahkan jika aku laki-laki juga akan tertarik pada pandangan pertama. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari raut kedua mempelai.

Aku melihat Gus Hamam di luar sedang bersendau-gurau kepada para tamu. Mungkin mereka temannya atau bahkan masih kerabatnya.

***
Setelah dhuhur acara pun selesai karena resepsi tadi di mulai pada jam sembilan. Sebagian para tamu undangan juga sudah meninggalkan tenda. Kini tinggal acara sesi poto-poto.

"Mai, ikut poto, ayo," titah Ummi.

Lagi dan lagi titah Ummi tak bisa ku tolak. Aku kira hanya berdua dengan Ummi tapi Abah Yai dan Gus Hamam Pun ikut berpose dalam Poto itu.

Jangan tanya hatiku? Hancur lebur bak di terjang angin topan berterbangan. Entah bagaimana hati itu akan kembali dalam bentuk semula. Aku berdiri di samping Ning Hasna di ikuti Ummi Ma'summah. Gus Hamam di samping Kak Nuafal di ikuti Abah Kyai.

Allah ... Ternyata pura-pura bahagia itu sangat menyakitkan. Apalagi bibir ini harus menyunggingkan senyuman termanis di atas luka hati yang memenjara jiwa.

"Selamat ya Ning, semoga selalu dalam kebahagiaan. Sakinah, mawadah warahmah. Aamiin," ucapku sambil memeluk Ning Hasna.

"Makasih Mbak, Gus kapan di halalin," ucap Ning Hasna sambil mengurai pelukanku dan menggenggam kedua tanganku.

"Secepatnya, doakan ya," jawabnya sambil tersenyum.

Gus Hamam yang berdiri di sampingku seakan tanpa beban melontarkan kalimat itu.

Sekilas aku melirik Kak Naufal terlihat terkejut akan pengakuan Gus Hamam.

"Selamat ustaz, semoga bahagia," ucapku kala di depan Kak Naufal. Dia hanya mengangguk. Aku melenggang pergi disusul Gus Hamam di belakangku. Seketika itu juga air mataku luruh menganak sungai.

"Mai,"

Panggilan Gus Hamam tak kuhiraukan kaki ini terus melangkah keluar, beliau mengikutiku. Aku berhenti saat sampai di parkiran mobil.

"Gus, Sakit," lirihku dalam Isak tangis yang menyayat kalbu.

***

TBC

Lentera Hati MairaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang