22. TO PANDU : Short

44 5 50
                                        

--Happy reading




Sedari tadi, Pandu benar benar tak melepas Nesya dari genggamannya. Laki laki itu, mengenggam telapak tangan Nesya possesif seolah tak mau kehilangan perempuan itu.

Nesya berusaha menstabilkan detak jantungnya. Genggaman tangan Pandu benar benar menyengat Nesya sampai ke jantungnya. Perempuan itu menjaga tangannya agar tidak berkeringat, kala merasa tak ada ruang udara pada tangan Nesya sedikit pun.

Mereka kini berjalan menuju puncak tempat mereka camping. Sebelumnya, terjadi dulu keributan karena Pandu yang kekeh ingin bersama Nesya. Dan pada akhirnya semua kalah atas Pandu. Laki laki dengan ego besar itu, akhirnya bisa terus berjalan di sebelah Nesya. Untungnya, Zian sibuk menjadi panitia kegiatan. Ketidak adaan Zian di kelompok Nesya memberi banyak peluang bagi Pandu untuk terus bersama Nesya.

"Nesya?" Ujar Pandu yang berusaha memecahkan keheningan di antara mereka. Nesya yang menunduk lantas menegakan pandangannya. Ia kemudian melirik pada Pandu yang tepat berada di sisinya.

"Hm?" Ujar Nesya.

"Gak jadi."

Nesya sebal. Ia memutarkan matanya malas, ketika melihat Pandu yang malah cengengesan.

"Nesya?" Ulang Pandu.

"Apa, Pandu?" Sahut Nesya menatap wajah Pandu malas.

"Kita mungkin gak pacaran, tapi lo punya gue. Slebew," Ujarnya jingkrak jingkrak. Nesya benar benar malu. Laki laki itu seperti jamet yang tersesat. Nesya hanya bisa beristigfar menanahan malu, sebelum perempuan itu bersiap mendorong Pandu dari atas sini.

"Istighfar, kesurupan asli tau rasa," Seru Rezza di belakang Pandu. Ia benar benar menggelengkan kepalanya, ketika melihat tingkah Pandu yang seperti barusan. Rezza benar benar berdoa agar Nesya tak merasa ilfeel ketika berada di dekan Pandu.

"Gue bahkan aneh sama orang yang mau deket sama Pandu. Belum tau aja mereka aslinya Pandu gimana," Sambung Ellzya yang tiba tiba berjalan di sisi Rezza. Rezza terkejut. Sedari tadi, ia hanya berjalan bersama Raihan. Tidak dengan Ellzya. Perempuan itu menyela Raihan dan Rezza, sehingga ia ada di tengah tengah mereka.

"Lo bisa temenan sama Pandu gimana ceritanya?" Tanya Raihan. Laki laki dengan tongkat di tangan kirinya itu, membalikan posisi badannya melirik pada Ellzya.

"Gue sama dia satu SD. Sama Nehand juga. Dari dulu emang itu tampilannya cuek. Gak bisa senyum sama orang orang. Termasuk gue. Waktu SD, Nehand sama Pandu sekelas. Tapi nggak sama gue. Mereka kelas A dan gue kelas B. Gue jarang banget ketemu muka Pandu disekolah. Paling paling kalau dia jalan sama Nehand. Nah tapi, gue sama si Pandu sering tiba tiba ketemu di jalan. Mungkin karena dulu kita satu perum. Terus karena gue sepupuan sama Nehand, jadi keluarga gue sering main ke rumah Om Jaya. Di sana ada Pandu. Dan kita bertiga main deh. Bertahan sampai SMP Karena gue pindah ke LA."

"Tapi gue salut sama lo Zya. Orang orang tuh kalau ketemu temen lama canggung. Lo langsung nyambar nyambar aja."

"Ya kali! Gue tuh sama Pandu deket banget. Sampai ketika mamahnya Pandu meninggalpun gue selalu nemenin dia."

"Pantesan si Pandu kayak deket banget sama lo."

"Ya emang kita deket! Lo gimanaaa sih, kan udah dikasih tau kalau gue sama dia deket," Sahut Ellzya kesal. Perempuan itu menghentakan kakinya sebal.

"Hehe, tapi gue gak yakin kalau lo gak ada perasaan sama si Pandu."

"Gue emang suka sama si Pandu. Gue bahkan udah ngungkapin perasaan gue sama dia. Tapi yaa mau gimana? Lo bahkan liat Pandu sebucin itu sama Nesya. Gue gak bisa apa apa." Ellzya hanya tersenyum pahit ketika melihat Pandu bahagia bersama Nesya. Ia merasa bahwa kebahagiaan Pandu seluruhnya berpusat pada Nesya. Tak benar jika perempuan itu tiba tiba merebut kebahagiaan itu dari Pandu.

TO : PANDU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang