Part 08
Selama di perjalanan, Sinta hanya terdiam mengingat perlakuan mertuanya dan Rehan yang hanya diam saja tanpa membelanya. Sedangkan saat ini Jonathan tengah menyetir mobilnya, tidak banyak yang lelaki itu bicarakan, karena ia sangat paham dengan kondisi Sinta sekarang.
Sedari tadi Sinta hanya termenung sembari sesekali menghapus air mata yang hampir jatuh, ia sendiri masih belum menyangka akan diperlakukan sebegitu buruknya di pernikahan Rehan. Padahal niatnya hanya ingin memberi mereka selamat dan meminta Anastasya untuk selalu bersama dengan Rehan apapun keadaannya, karena sekarang ia sudah tidak bisa menjaga ataupun hidup bersama lelaki itu.
Sinta sendiri bukan wanita kuat yang bisa terlihat baik-baik saja, ada kalanya ia juga menyesali kebohongannya untuk tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, bila ia tidak mau hamil karena memang kondisinya yang tidak memungkinkan. Jauh di dalam hatinya, Sinta ingin Rehan tahu penyakitnya, namun sepertinya ia masih belum sanggup mengatakan yang sebenarnya, terlebih lagi setelah Rehan berkata bila Sinta sudah menghancurkan seluruh impiannya.
Impian yang seharusnya dijalani berdua, namun harus kandas oleh orang ketiga, dan semua mimpi buruk ini tidak akan terjadi, andai Sinta tak memiliki penyakitnya. Sinta terus-terusan merasa bersalah, namun mengikhlaskan Rehan untuk wanita yang lebih sempurna, membuatnya merasa sedikit lebih lega. Setidaknya ia bisa membiarkan lelaki yang ia cinta menggapai harapannya, yaitu memiliki anak, meskipun bukan bersamanya.
Lagi-lagi Sinta dibuat menangis bila mengingat Rehan, air matanya terus-terusan keluar dari pelupuknya, membuat Jonathan yang sedari tadi memerhatikannya merasa mengkhawatirkan kondisinya.
"Kamu enggak apa-apa kan?" tanyanya ke arah Sinta sembari fokus menyetir mobilnya.
"Iya, aku minta maaf, aku pasti mengganggumu. Aku enggak tahu kenapa air mataku terus-terusan jatuh, dadaku juga terasa sakit. Padahal aku selalu ingin mengikhlaskan Rehan, tapi kenapa rasanya aku enggak bisa?"
"Kalau kamu enggak bisa, kenapa kamu membiarkan Pak Rehan menikah dengan selingkuhannya?"
"Karena aku enggak bisa memberikan apa yang Rehan inginkan."
"Seorang anak?"
"Iya ...."
"Apa kamu menyesal?"
"Mungkin ...."
"Aku enggak tahu masalah kalian serumit apa, tapi aku pikir seorang anak bukan sesuatu yang penting dalam sebuah hubungan. Mungkin, semua orang memang menginginkan anak untuk kebahagiaan mereka, tapi apakah enggak terdengar egois saat seseorang memaksa pasangannya untuk memiliki keturunan? Artinya dia enggak benar-benar mengutamakan hubungannya dan kebahagiaan pasangannya kan? Lalu apa yang harus kamu sesali?"
"Karena aku sangat mencintainya."
"Kalau kamu sangat mencintainya, ya kamu lakukan apa yang dia inginkan. Mudah kan?" jawab Jonanthan namun Sinta justru menggeleng pelan.
"Enggak semudah itu." Sinta menunduk lesu.
"Kenapa? Apa sebenarnya kamu memiliki alasan lain? Apa karena kamu merasa trauma dengan sesuatu yang berhubungan dengan hamil, melahirkan, atau punya anak? Kalau memang iya, seharusnya kalian bisa membicarakannya kan?" Jonathan terus memberi Sinta solusi, yang sebenarnya sudah sempat Sinta pikirkan, namun ragu ia lakukan.
"Aku memang memiliki alasan lain, tapi aku ragu memberitahu Rehan. Aku takut, aku cuma akan membuatnya khawatir. Tapi kalau dipikir lagi, untuk apa melakukannya? Sekarang Rehan dan Anastasya sudah menikah, akan punya anak, kedepannya mereka pasti akan hidup bahagia." Sinta menyunggingkan senyumnya, berusaha terlihat baik-baik saja dengan keputusannya. Sedangkan Jonathan hanya mengangguk, ia paham dengan apa yang Sinta rasakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second mate (TAMAT)
RomantikMengikhlaskan seorang suami untuk selingkuhannya, tentu saja sangat sulit untuk dilakukan semua wanita, tak terkecuali Sinta. Namun saat ia sadar kekurangannya, rasa sakit hati itu tenggelam dan menghilang. Sinta lebih memilih pergi dan merelakan. K...
