"Gimana, rumah lo?"
Suara Vey membuyarkan lamunan Kira yang sedang berguling malas di atas kasurnya. Membantu Mirei dengan segala urusan pernikahan ini sedikit membuatnya lelah, begitu juga ketiga sahabatnya yang lain. Bayangkan saja jika dirinya yang menikah, bisa remuk tubuhnya.
Kira sudah mendambakan rumah impiannya sejak setahun lalu, namun sulit menemukan waktu untuk benar-benar fokus memikirkan itu di sela kesibukannya.
Kira bangkit dari posisi telentangnya lalu menatap Vey dan Tisha yang duduk di lantai bersandar pada kaki kasur. Ara yang sibuk membantu Mirei mengecek semua hal dengan Wedding Organizer-nya memasang tajam indra pendengarannya tanpa menatap Kira.
"Tinggal nunggu kontak temennya Dovan. Katanya sih orangnya dateng minggu depan, tapi gue belum tahu hari apa. Dovan juga lama banget ngasih nomor doang." Kira memautkan bibirnya.
Pasalnya sejak mengabari Kira bahwa temannya setuju untuk membantunya, sepupunya itu malah seperti hilang ditelan bumi.
"Lah, lo belum tahu orangnya?"
Kira menggeleng pada Vey.
"Namanya bahkan juga belum?"
Kira menggeleng lagi.
"Yang lo tahu tentang temennya Dovan ini apa?"
"Dia lulusan MIT. Orang Indo asli."
Tisha membuka mulutnya tak percaya. "Udah itu doang?"
Kira mengangguk. Ia juga tak merasa ada yang salah. Dia yakin temannya Dovan ini orang baik dan pasti tidak aneh- aneh. Mereka bisa kenalan kapan saja.
"Ki, lo nggak ngerasa ganjil ya?" Mirei meletakkan ponselnya lalu membalikkan badannya menatap Kira intens. Yang ditatap mulai gugup meski tak ada yang perlu membuatnya gugup. Ia bahkan tidak tahu Mirei akan bicara apa.
"Ganjil... kenapa?"
Tampaknya bukan hanya Kira yang dibuat bingung. Ketiga sahabatnya yang lain juga menatap Mirei penasaran apa yang akan menjadi kalimatnya selanjutnya. Mirei mengerutkan dahinya.
"Aneh nggak sih? Dia sekarang di Amerika, dia lulusan MIT, anak arsitektur, minggu depan dia balik ke Indo. Mungkin nggak sih dia Jesse?"
Semua orang yang ada di kamar berwarna abu-abu itu terperanjat, menahan napas sepersekian detik, sebelum Kira memecahnya dengan tertawa gugup.
"Ya nggak mungkin lah, Rei. What are the odds that it would be him?"
Kira secara tak langsung meminta sahabatnya yang lain untuk mengiakan perkataannya. Kira butuh mereka untuk juga berkata tidak mungkin teman yang dimaksud Dovan adalah Jesse. Dunia tidak sekecil itu. Lagipula kalau benar itu Jesse, Kira yakin seratus persen pria itu akan menolak permintaan Dovan.
Kira mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Tidak ada satu kalimat bantahan pun yang keluar dari mulut-mulut sahabatnya yang biasanya banyak bicara. Bahkan tidak dari Ara, dengan segala pemikiran logis dan realistisnya. Satu kamar serempak bungkam.
Kira memutar bola matanya, oh ayolah. Ada angin apa teman-temannya berpikir seperti ini?
Selain bahwa Jesse lulusan arsitektur MIT, jujur Kira memang tidak mengetahui apa-apa lagi tentang Jesse. Ia tidak tahu Jesse tinggal di mana, dengan siapa dan apa kabarnya. Kira sepenuhnya hilang kontak dengan pria itu. Bahkan ketika teman-temannya secara gamblang sering bertukar kabar dengan Jesse, Kira tidak pernah ambil bagian. Ia cukup sadar diri. Meskipun dengan sadar diri berarti ia juga belum pernah menghubungi Jesse untuk minta maaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
LINGER (Completed)
ChickLit"Melepas kamu nggak semudah membenci kamu, Kinira." Jeshiro mencintai Kinira; Seperti air yang selalu kembali ke lautan. Seperti buah yang selalu kembali ke tanah. Seperti matahari yang selalu terbit dari timur. Jeshiro, adalah rasa yang selalu...
