Antusiasme pencinta filmya di Medan membuka semangat Kira menjalankan semua sisa kota tujuannya. Setelah kurang lebih 2 minggu terbang dari kota ke kota lainnya dengan jadwal yang sangat padat dan badan yang hampir remuk karena menumpuknya kegiatan, 5 kota dapat dicoret Kira dari daftar dalam buku kecilnya. Medan, Makassar, Malang, Surabaya dan Semarang. Hanya tersisa Yogyakarta, kota kecintaan semua orang.
Kira adalah satu di antara jutaan manusia lainnya yang mencintai Jogja seperti ia mencintai kota kelahirannya sendiri. Lahir di Jakarta, berdarah Medan, tidak menyurutkan cintanya untuk Yogyakarta. Setiap melakukan promosi film seperti yang sedang dilakukannya sekarang, Kira selalu paling bersemangat dan menanti pergi ke kota satu itu. Alasannya sederhana, dan mungkin sama seperti orang lainnya di luar sana. Jogja indah dan hangat. Beberapa film yang sempat ia kerjakan juga berlatar di Jogja, maka dari itu ia mengenal kota ini dengan baik. Selain itu juga karena tahun mahasiswinya ia habiskan di kota bakpia ini.
"Tahu nggak? Jogja itu kota paling indah buat jatuh cinta loh, Ki."
Kira menolehkan kepalanya kaget mendengar suara Gevan yang teramat dekat. Jelas saja, pria itu kini tengah berdiri persis di sebelahnya dengan tubuh yang dicondongkan ke arahnya. Mereka baru keluar dari bandara dan sedang menunggu kendaraan yang akan menjemputnya. Bukan hanya perasaan Kira, namun juga disadari oleh anggota tim produksi dan pemain film ini bahwa di mana ada Kira biasanya di sana akan ada Gevan. Ria, asisten sutradara Kira bahkan sempat mempertanyakan hubungannya dengan Gevan yang langsung Kira jawab sejelas mungkin untuk menghindari kesalahpahaman. Kenyataan bahwa Kira memiliki pacar sepertinya sama sekali tidak mengusik kegencaran Gevan mendekati Kira. Pria itu jelas berpikir hubungan jarak jauh yang dijalani Kira akan secepatnya kandas.
Kira tersenyum kikuk, "Iya ya mas?" balasnya setengah hati.
"Karena indah dan hangat, kayak kamu," ujar Gevan lagi, blak-blakan.
Kira tidak tahu harus membalas apa jadi ia hanya tersenyum lagi.
"Nanti temenin mas keliling Jogja yuk, Ki? Kamu sering kan kesini?" lanjut Gevan bertanya, menempatkan Kita pada posisi sulit. Mau menolak namun tak sampai hati dan tak punya alasan, atau menerima meski tidak ingin.
"Eum... kayaknya kita penuh sampai malam deh mas, aku nggak yakin ada waktu buat jalan lagi?" sahut Kira ragu, berharap jadwalnya benar-benar penuh sampai malam.
"Ada kok, aku barusan baca jadwal. Jam enam kita udah kelar di tempat terakhir. Malioboro mau nggak? Nggak jauh dari lokasi promo yang terakhir dan hotel." Gevan menatap Kira penuh harap. Kira sendiri sebenarnya mendengar kata Malioboro jadi teringat rencananya yang memang ingin pergi ke sana karena sudah lama tidak ke pusat perbelanjaan ramai itu. Tapi ketika sekarang Gevan yang bertanya, ia jadi dilanda ragu.
"Ya udah, nanti aku tanyain anak-anak ya, yang pada mau ikut siapa aja." Kira mengangkat jarinya mengeluarkan idenya mengajak yang lainnya.
Gevan menarik bibirnya membentuk garis lurus. Ia hanya bertujuan mengajak Kira, bukan yang lain. Ia ingin pergi berdua bersama Kira, maka ia mengajak Kira secara pribadi dan bukan terang-terangan mengajak yang lainnya.
"Kalau pergi berdua doang kamu nggak mau ya?" tanya Gevan mengubah raut wajahnya.
"Eh, bukannya nggak mau mas. Cuma bukannya lebih enak rame-rame? Siapa tahu yang lain pada mau ke Malioboro juga kan," sergah Kira akan pertanyaan Gevan.
Gevan berpikir sejenak. Kalau ia meminta pergi berdua lagi, akan sangat terdengar seperti paksaan. Lebih baik pergi ramai-ramai dan nanti memisahkan diri daripada malah tidak jadi pergi sama sekali. Atau lebih parah, dianggap pemaksa oleh wanita yang disukainya.
"Ya udah, tanyain aja. Nanti kita cabut dari hotel jam tujuh aja ya?"
Kira mengangguk menjawab pertanyaan Gevan. Secepat kilat, Kira membuka ponselnya dan menanyakan dalam grup besar film ini dan siapa saja yang mau ikut dengannya bersama Gevan ke Malioboro nanti malam, namun jawaban yang didapatnya membuatnya mendesah pasrah dan Gevan diam-diam tersenyum. Tidak ada yang berhati malaikat ingin menemani mereka. Kebanyakan memilih tinggal di hotel karena ingin mengistirahatkan tulang yang sudah tak berbentuk dan sisanya sudah memiliki rencananya sendiri. Bisa-bisanya dari semua yang menjawabnya, tidak ada yang memberi respon seperti yang diharapkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LINGER (Completed)
ChickLit"Melepas kamu nggak semudah membenci kamu, Kinira." Jeshiro mencintai Kinira; Seperti air yang selalu kembali ke lautan. Seperti buah yang selalu kembali ke tanah. Seperti matahari yang selalu terbit dari timur. Jeshiro, adalah rasa yang selalu...
