XXII. The Morning After

35.9K 2.5K 8
                                        


Kira menatap dengki Rena yang duduk berhadapan dengannya, lalu pada Jovan yang duduk di sebelah Rena. Ia bersumpah pada dewa-dewi tidak akan bercerita apapun lagi pada Rena si mulut ember satu ini. Seingatnya kemarin malam ia sudah mengancam Rena untuk tidak berkata satu kata pun pada Jovan, namun yang terjadi malah sekarang Jovan duduk di depannya sambil menyeringai, katanya ingin mampir sebelum berangkat kerja. Alasannya sih rindu, tapi Kira tahu Jovan disini untuk ikut-ikutan Rena menggodanya.

"Eh? Ini anak-anak mama kenapa bisa ngumpul semua gini pagi-pagi? Ki, Jo, kalian kapan datang?" Alea berjalan menuruni tangga terkejut melihat 3 anaknya duduk manis di meja makan, sebelum menyadari aura gelap milik Kira dan tatapan geli adik dan kakaknya.

"Aku baru datang kok ma, mampir bentar soalnya kangen," jawab Jovan sambil menaik-naikkan alisnya pada Kira membuat adiknya itu makin panas.

"Kamu kapan datang, Ki?"

"Tadi malam, ma. Ada kejadian gitu jadi Kak Kira harus pulang." Rena menjawab pertanyaan Alea sebelum Kira sempat berkata apa-apa. Kira melotot memberikan tatapan yang seakan berkata akan memanggang Rena apabila berkata lebih. Alea memanggut-manggutkan kepalanya.

"Kejadian apa, Ki?"

"Lokasi syuting hari ini dekat sini makanya semalam aku nginep." Kira menjawab secepat kilat agar tidak didahului Rena lagi. Ia sangat berharap mamanya tidak menanyakan akan syuting di mana ia hari ini, karena lokasi syutingnya hari ini adalah salah satu restoran di kawasan Senopati, yang jelas-jelas tidak dekat dengan rumahnya.

Untungnya Alea memutuskan untuk tidak bertanya lebih lagi dan beralih ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan spesial bagi acara kumpul dadakan langka ini. Alea tidak tahu saja, kalau anak-anaknya sudah siap membantai satu sama lain. Terutama Kira yang dirundung emosi.

Setelah mamanya berlalu, Jovan tidak menunggu lagi untuk membuka percakapan.

"Jadi, Jesse?" tembak Jovan tidak basa-basi.

Kira berusaha bersabar, tahu Jovan sudah menantikan momen ini, secara dulu ia yang selalu menjadi tumbal Kira untuk mengusir Jesse dari rumah ini.

"Iya. Puas lo?" tukas Kira kesal melihat wajah penuh kemenangan milik Jovan.

"Bang Jo, pokoknya lo harus bilang gue nggak ada di rumah. Bilang aja gue lagi ke rumah nenek kek, lagi makan sama Ara kek, apa kek, pokoknya gue nggak ada di rumah." Jovan berujar santai, mengulang kembali kata-kata yang saking seringnya Kira ucapkan dulu, bahkan hingga sekarang tidak luput dari ingatannya. Kalau tidur saja, kadang ia masih suka bermimpi sedang menyeret Jesse pergi dari pekarangan rumahnya.

Rena yang mendengar itu hampir terpingkal, sedangkan pipi Kira memanas malu sendiri ketika diingatkan pada tingkah lakunya dulu.

"Udah ah bang, lo udah terlalu tua bangka buat ngeledekin gue. Mendingan pagi ini kita sarapan dengan damai, nanti hari Sabtu gue traktir makan, ya ya ya?" Kira mengedipkan sebelah matanya, menyogok kedua saudaranya dengan rencana traktiran akhir pekan, yang tentu saja, seperti dugaan Kira... diterima tanpa pertentangan sedikitpun. Dua manusia tidak tahu malu ini selalu saja. Mereka tidak sungguh-sungguh ingin meledek Kira. Seperti yang sudah-sudah, Rena dan Jovan hanya sedang membentuk aliansi untuk memerasnya.

Alea kembali dari dapur tidak lama kemudian membawa beberapa macam lauk pauk untuk sarapan besar mereka pagi ini. Ibu tiga anak itu jelas terheran mendapati anak sulung dan bungsunya yang tersenyum lebar. Namun setelah mendapati wajah cemberut Kira, ia langsung membaca jeli keadaan meja makan pagi itu. Sudah jelas, Jovan dan Rena habis mengerjai Kira. Rumah ini selalu hangat meski ramai ketika ketiganya berkumpul, itulah yang paling dirindukan Alea.

LINGER (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang