XIX. Perfect Story Line

40.2K 2.8K 16
                                        


"Nggak ada rencana balik?" Vio menganggukkan kepalanya pada pelayan yang baru mengambil pesanannya kemudian kembali bicara pada Jesse yang kelihatan bosan mendengar pertanyaannya, seperti sudah mendengar pertanyaan ini ribuan kali.

Kopi hitam yang baru dipesan keduanya di coffee shop kecil dan deretan bangku di tengah padatnya Stasiun Gambir menjadi pilihan mereka untuk bertukar perpisahan.

Vio harus menaikki kereta menuju Yogyakarta dalam satu jam, dan Jesse harus menaikki pesawat kembali ke Amerika besok. Mereka sedekat itu sampai Jesse sama sekali tidak keberatan menghabiskan hari terakhirnya mengantar Vio. Garen si pengkhianat itu tentu saja memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, membiarkan Jesse dan Vio memiliki waktu kumpul keluarga dadakan.

"Ada. Nggak tahu kapan," jawab Jesse singkat, menyesap kembali kopinya.

Vio melebarkan matanya terkejut, jelas tidak mengharapkan jawaban tersebut dari Jesse. Vio mengira bahwa Jesse pasti tidak punya rencana untuk kembali. Dari 8 tahun lalu, setiap ditanya mengenai rencana kembali, ia pasti akan menjawab tidak ada, jadi kalau sekarang Jesse menjawab 'Ada', Vio berhak penasaran.

"Tumben. Udah baik-baik aja sama Kira?" tembak Vio tepat sasaran.

Tidak ada gunanya bertele-tele, toh memang selama ini Jesse berat hati datang ke Indonesia hanya karena Kira. Kadang sahabatnya itu tidak jujur mengenai hal ini, tapi semuanya terbaca dari bagaimana pria itu bertingkah. Vio mengulum senyumnya. Jesse mudah sekali dibaca jika sudah perihal Kira. Kemudian Jesse tersenyum, sangat hangat seperti dunia sedang begitu baik hati padanya.
                   
"Terlalu baik malah," balas Jesse tenang. Vio tersenyum. Tidak butuh satu menit untuk mengerti apa yang dimaksud Jesse.

Selama ini Vio berdiri paling sebagai garda paling depan pembela Jesse. Saat mengetahui apa yang Kira katakan dan sangkut paut perkataan tersebut dengan keberangkatan Jesse ke Amerika, Vio lebih dulu marah pada Kira. Lebih dulu menghubungi Kira untuk memberitahu apa yang wanita itu sia-siakan.

Mungkin karena setiap melihat Kira, Vio seperti sedang berkaca.

Vio tidak punya hak apa-apa untuk menilai Kira, karena ia juga tidak ada bedanya. Seharusnya ia bersyukur Jesse dan Kira sepertinya berakhir dengan baik-baik saja. Jadi ia tidak perlu mempertanyakan mengapa Jesse bersedia memberikan Kira kesempatan lagi.

Vio melirik jam tangannya, menyayangkan waktu yang bergerak terlalu cepat. Ia tersenyum lagi pada Jesse yang mungkin tidak akan dilihatnya dalam waktu dekat ini.

"I'm glad she didn't make it happen back then," ujar Vio, tidak dapat dimengerti Jesse.
                   
"Make what happen?"

"Lo sama Kira. I'm glad you guys didn't happen back then."

Jesse semakin menyipitkan matanya tidak mengerti. Ia tidak tahu harus menangkap pernyataan Vio sebagai sindiran dan apakah ia harus tersinggung atau tidak. Kalimat Vio bukan sepenuhnya dukungan, tidak tahu ada maksud apa di baliknya. Itu bukan kalimat yang sepenuhnya ingin Jesse dengar. Perkataan Vio hanya membuat Jesse berprasangka yang tidak- tidak.

Butuh beberapa menit sebelum Vio melanjutkan kata-katanya, memberi penjelasan akan kalimatnya yang sedikit tidak enak didengar.
                   
"Mungkin nggak sepenuhnya bener, tapi kalau lo sama Kira beneran kejadian delapan tahun lalu, I can't help but think that you won't make it now. Entah kenapa gue ngerasa kalau delapan tahun lalu lo nggak ke Amerika, atau kalau Kira nggak bilang apa yang dia bilang dulu, kalian nggak akan sejauh ini. So I'm glad she didn't make it happen."
                   
Perkataan Vio membuat Jesse termenung.

LINGER (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang