X. Talking About Chemistry

46.6K 3.3K 20
                                        


- - -

Kira mendelik risih pada Jesse yang menatap dirinya dalam. Sudah hampir 1 jam mereka duduk di sini, Jesse masih saja asyik memakukan matanya pada Kira. Jangan salah, tamu satu ini datang tak diundang, seperti biasa. Kira yang sedang serius mencoba memahami buku pelajarannya dan mengerjakan tugas tiba-tiba dibuat kaget lagi dengan kehadiran Jesse, meskipun seharusnya, sekarang ia sudah tidak terkejut lagi dengan kebiasaan Jesse muncul tiba-tiba.

Sudah 1 jam Jesse duduk disini, sudah 1 jam pula Kira mengabaikannya. Jesse yang tadinya bicara banyak, akhirnya memilih diam karena lelah. Kira tidak mengusir pria itu, karena tahu Jesse tidak akan menggubrisnya. Dan ia tidak mungkin meninggalkan meja ini karena hanya meja ini yang tersisa di kala perpustakaan ramai bukan main karena ujian yang di depan mata.

"Masih ngerjain soal yang sama? Mau dibantuin nggak?" tanya Jesse, berusaha mendapatkan perhatian Kira lagi.

Sudah hampir 15 menit Kira diam di soal yang sama. Kira sendiri ingin cepat-cepat selesai dan mengumpulkan tugas susulannya ke ruang guru, namun gurunya memberi soal yang susahnya bukan main.

Bukan rahasia lagi kalau Jeshiro termasuk salah satu siswa dengan otak paling encer di sekolahnya. Pengetahuan alam, pengetahuan sosial, Jesse handal dalam semuanya. Kelakuannya yang suka buat onar bersama Vio dan Ren saja yang menahannya menjadi siswa gemilang SMA mereka. Kira ingin mengiakan tawaran Jesse. Ia yakin kalau dibantu dari tadi, ia pasti sekarang sudah dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tapi gengsinya mengalahkan keinginannya untuk istirahat di kasur empuknya.

"Nggak usah. Bisa kok. Udah, lo balik aja. Ngapain juga masih di sini?" balas Kira ketus.

"Nungguin kamu. Ya udah kerjain aja pelan-pelan. Itu dicari dulu Ki, mol-nya. Kalau nggak dicari, yang lain juga nggak bakal ketemu," ujar Jesse, menyelipkan sedikit penjelasan yang ia tahu akan membantu Kira.

Jesse memperhatikan Kira yang mengerutkan dahinya, lalu perlahan mulai menggoreskan pensilnya lagi untuk mengerjakan. Tanda sudah mengerti.

"Nanti pulang sama siapa?" tanya Jesse lagi.

"Sendiri."

"Nggak sama Aldo?"

"Enggak."

"Berantem lagi?"

"Bukan urusan lo."

Jesse diam setelah balasan Kira yang terakhir. Ia juga sadar tidak punya hak untuk mengurus atau ikut campur masalah pribadi Kira, hanya kadang keingintahuannya keluar tanpa direncanakan.

Kira yang makin pusing melihat nomor yang semakin banyak menggaruk kepalanya yang tidak gatal dalam kesal. Rasanya ingin cepat-cepat lulus saja dan masuk ke dalam dunia perfilman keinginannya. Melepaskan diri dari kejaran fisika, kimia dan biologi.

Kira menghela napas lelah lalu menaruh kepalanya di atas meja. Gara-gara ia datang terlambat hari ini, wali kelas galak sekaligus guru kimianya itu memberinya tugas tambahan yang lama-lama bisa membuatnya keriting. Nanti ia jadi mirip pria di hadapannya, yang mulai memainkan ponselnya.

Jesse tidak bosan, hanya tidak ingin terlalu kentara masih ingin menatap Kira, makanya ia menyibukkan diri dengan layar kecil itu. Sejak mulai mengejar Kira pertengahan kelas 10 dulu, Jesse mengabaikan hampir semua pesan mereka yang ingin dekat dengannya. Kalau ditanya, ponsel Jesse tidak pernah sepi. Tapi Jesse sudah punya Kira, jadi tidak ada gunanya juga ikut kembali meramaikan. Meskipun Kira juga tidak peduli Jesse mau melakukan apa.

Jesse melirik Kira yang memejamkan matanya lelah. Ia kasihan juga melihat Kira begitu. Coba tadi ia meninggalkan Kira untuk pulang, gadis ini bisa tinggal disini sampai pintu gerbang sekolah ditutup. Jesse menepuk pelan tangan Kira yang diselonjorkan gadis itu di atas meja, sudah tidak peduli seperti apa lagi posisinya. Yang ia pedulikan sekarang hanya bagaimana caranya membakar buku kimia miliknya itu.

LINGER (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang