Kalau tahu Dovan akan menyambut kepulangannya dengan apartemen seperti kapal pecah, wajah brewokan tanda tak terurus dan aroma alkohol di seluruh penjuru ruangan, Jesse pasti menunda kepulangannya. At least until Dovan gets a hold of himself.
"Weh, balik juga lu!" Dovan mengangkat kaleng bir kosong di tangannya ke arah Jesse yang baru berjalan melewati pintu masuk.
Jesse tidak tahu harus bersikap seperti apa melihat sahabatnya itu berselonjor di atas lantai tanpa punya kesadaran untuk menyalakan lampu, membuat ruangan itu gelap gulita. Dovan benar-benar tidak tercipta untuk patah hati. Jesse juga tidak mengerti kenapa dari dulu dia selalu dikelilingi orang-orang yang bisanya mematahkan hati dan dipatahkan hatinya oleh orang lain.
Jesse mendorong kopernya asal dan mendudukkan dirinya di sofa. Ia tidak pernah menyukai perjalanan jauh. Badannya serasa ingin remuk dan lelahnya jadi dua kali lipat. Di luar dugaannya, ia tidak sesemangat perkiraannya untuk bisa kembali berada di sini. Ditambah melihat keadaan Dovan, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Gimana Indo?" tanya Dovan penasaran.
"Lebih baik dari tujuh tahun lalu."
"Lo ngapain aja sama sepupu gue? Will we be future cousins?" ceplos Dovan.
"I hope we will," balas Jesse tersenyum kecil. Dovan tersentak mendengar jawaban Jesse dan memuncratkan bir dari kaleng yang baru dibukanya tanpa dibuat-buat.
Sampai 2 minggu yang lalu, Jesse masih hampir membunuhnya karena terlahir sebagai sepupu Kira. Dasar pria labil.
"Aduh nggak peduli deh gue gimana ceritanya, tapi kalian serius jadian?"
Dovan masih menolak percaya. Sepupu petakilan dan sahabat gila kerja. Sampai mati pun Dovan tidak akan benar-benar percaya keduanya memiliki hubungan lebih. Jesse mengangguk ringan. Karena dibicarakan, ia jadi rindu Kira.
"Semoga lo baik-baik aja deh pacaran sama singa betina," cibir Dovan bergidik ngeri membayangkan nasibnya yang mulai sekarang pasti akan sering mendengar Jesse bicara menggelikan dengan Kira melalui telepon.
Jesse mengendikkan bahunya tidak tertarik untuk bicara lebih lanjut dengan Dovan. Jauh dari tempat ini membuatnya hampir lupa bagaimana melelahkannya bicara dengan Dovan. Yang barusan mencibir pun sekarang sudah tidak memedulikan Jesse lagi, beranjak membuka dan mengacak isi koper Jesse, berusaha menemukan satu kotak teri balado yang terbungkus rapih untuk makan malamnya. Jesse bukan satu-satunya yang Dovan tunggu dari kemarin.
Jesse berdecak kesal melihat keadaan semakin berantakan dengan bajunya yang sekarang berserakan mencuat dari dalam kopernya. Tinggal dengan Dovan bisa sewaktu-waktu lebih buruk daripada tinggal dengan balita.
"Oh iya, kemarin Amber ke sini. Lo nggak bilang lagi balik ke Jakarta?" ujar Dovan sembari memindahkan makanan yang dibawa Jesse ke piring untuk dipanaskan.
Alis Jesse bertautan. Ia tidak merasa memiliki janji yang membuatnya harus mengabari Amber bahwa ia sedang tidak ada di Amerika.
"Amber? Gue nggak ada janji sih sama dia. Udah agak lama nggak ngomong malah. I don't even know she's back in Cambridge," sahut Jesse bingung.
"Kayaknya baru balik sih, makanya nyariin lo. Kalau nggak salah dia balik kerja ke tempat lo juga deh," gumam Dovan sedikit tidak yakin juga. Wanita yang menghampiri apartemennya kemarin untuk menanyakan keberadaan Jesse tidak memberi banyak informasi tentang dirinya.
"Dia nggak punya nomor lo emang?" sambung Dovan bertanya.
Jesse mengerutkan dahinya. Kemungkinan besar tidak. Setelah ia mengganti nomornya dengan nomor baru karena ponsel lamanya hilang, tidak pernah sekalipun ia mendapat atau mengirim kabar pada Amber. Jadi berita kembalinya Amber ke Cambridge juga berita baru bagi Jesse.
KAMU SEDANG MEMBACA
LINGER (Completed)
Chick-Lit"Melepas kamu nggak semudah membenci kamu, Kinira." Jeshiro mencintai Kinira; Seperti air yang selalu kembali ke lautan. Seperti buah yang selalu kembali ke tanah. Seperti matahari yang selalu terbit dari timur. Jeshiro, adalah rasa yang selalu...
