#19 Abstraknya Para Pemuda

15 2 0
                                        

"Sana," usir Radit pada adiknya setelah memberi uang Rp2.000,00. Weni memutar bola mata malas menerima uangnya yang ia simpan di saku bajunya.

"Salim dulu woy!" dengan geram Weni mencium punggung tangan kakak tengahnya yang ia acungkan tinggi-tinggi itu.

Dasar kemed!

Kalau dihitung-hitung, seminggu dia bisa dapat Rp10.000,00. Jadi kalau sebulan sekitar Rp40.000,00 an dong? Wah asik juga. Kadang Radit memberinya uang Rp5.000,00 juga kalau ia dikorbankan jadi kambing hitam.

Begini caranya dia mau deh dijadikan kambing hitam.

Horay.

Dirinya bersorak dalam hati.

Ia berjalan dengan riang menuju sekolahnya. Melewati trotoar sambil bersenandung kecil. Menyapa bunga-bunga kecil yang tumbuh dengan rapi di pinggir jalan, juga banyak pepohonan yang menyebabkan jalanan terasa nyaman untuk sekadar berjalan santai.

Hal itu juga ternyata mengurangi polusi yang ditimbulkan kendaraan yang berlalu lalang. Ya walaupun kendaraan di sini tak sepadat di kota-kota besar.

By the way, Weni suka sekali dengan bunga bougenville yang tumbuh dengan elok itu. Di beberapa titik, satu pohon yang sudah dimodifikasi itu bisa berbunga dengan banyak warna.

Aroma bunga mawar pun tak kalah menyengat. Harum sekali tempat ini.

Tempat sampah yang dicat dengan gaya batik gebleg renteng khas Kulon Progo menghiasinya.

Ah, indahnya.

Sampai tiba di sekitar 50m ke sekolah, ada sebuah motor yang berhenti di drkatnya. Weni menoleh, huh, untung saja satu kategori sragam dengannya.

Di dahinya terbentuk lipatan-lipatan saat sang pemuda bermotor besar hitam itu membuka helmnya.

"Hei,"

Reno menyapanya.

Si pemilik senyum bulan sabit itu tiba-tiba saja selalu ada di dekatnya. Memberikan senyum maut mempesonanya itu. Tanpa sadar, Weni menjadikan itu dalam list favoritenya.

Mau tak mau ia tersenyum kecil menanggapi. Melambaikan tangan kecil.

"Elo jalan kalau berangkat sekolah?" tanyanya di atas motor.

Weni mengangguk saja.

"Nggak dianterin gitu? Orang tua lo? Atau nggak naik motor sendiri?" tanya Reno lagi.

Weni tersenyum kecil, "lagi enggak aja kak. Biasanya juga dianter ko,"

Reno manggut-manggut. Menggaruk tengkuknya tak gatal. Tiba-tiba lidahnya kelu mau mengucapkan sesuatu. Canggung sendiri jadinya.

"Eumm," gumamnya.

"Mm mau bareng?" tanyanya pelan.

Weni mengangkat alis mendapat ajakan manis itu. Kuping pemuda itu memerah entah kenapa.

Eh? Kak Reno salting?

Weni meringis saja, "ngga usah deh kak. Pagar sekolah aja udah kelihatan dari sini," tolaknya sehalus mungkin.

"O-oh gitu ya. Hem," ucapnya tak tahu mau ngomong apa.

"Yaudah kak. Aku duluan," sambil mengarahkan jempolnya ke arah sekolah.

Reno mengangguk.

Saat gadis tinggi itu sudah beberapa langkah di depan, Reno mengacak rambutnya kesal.

Gimana ini ha?!

Harusnya kan jemput depan rumah? Tapi masalahnya itu lho. Dia tidak tahu rumahnya gadis itu...

Beberapa meter di belakang pemuda itu.

Radit.

Mengernyit tak paham.

Kalau adiknya memang sedang dekat dengan Jeno, kenapa nggak dibonceng sih? Gini caranya dia nggak usah deketin Weni!

Dia sengaja masih di belakang karena tadi melihat Reno mendekati adiknya itu. Biar sektengil apapun adiknya itu, dia tak mau terjadi apa-apa padanya.

Menggeleng pelan menyingkirkan apapun saat ini.

Menyalakan motornya lalu memutar pegangan gasnya. Motornya melaju pelan melewati pemuda bulan sabit itu. Mengklakson kecil pemuda itu.


Sedangkan Reno. Masih menatap punggung gadis itu yang makin menjauh. Menghembuskan napas pasrah.

Lalu memakai helmnya lagi. Bersiap menghidupkan mesin, pandangannya menoleh menatap motor yang baru saja melewatinya. Mengklaksonnya sambil menyapa menggerakkan kepalanya pelan.

Reno ikut menganggukkan kepalanya.

Radit?

Lah nggak bareng Weni? Bukannya pacaran?

***





***

Jadi Reno sama Radit itu kenal. Tapi hanya sekadar kenal nama, tidak berteman sedekat itu.

Mereka berdua sih sama-sama bingung.

HAHAHAHAHAHAHA

SIRIUS STARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang