Huft.
Selesai sudah jobnya malam ini. Lumayan capek ternyata membantu Radit menyusun kabel-kabel berserakan dan berwarna-warni itu. Hanya melihat satu kabel yang sedikit besar dengan empat warna berbeda itu saja Weni sudah pusing.
Kok bisa ya Radit hafal semua jurusan lampu-lampu itu?
Pada pameran yang akan datang dua bulan lagi, jurusan Weni, Multimedia, pada finalnya akan menampilkan karakter animasi yang dirancang oleh kelas dua belas. Animasi yang dipamerkan akan diputar menggunakan teknologi canggih yang disusun semua anak jurusan Multimedia.
Wah, membayangkan saja Weni sudah merasa bangga, tak menyangka sekolah di smk tak seburuk itu, bahkan sangat mengasyikkan.
Besok jadwalnya sangat sibuk. Mulai dari paginya belajar mata pelajaran, siangnya menyusun script untuk digunakan pada Adobe Flash, lalu malamnya latihan marching.
Ah, menjadi sibuk tak seburuk itu asal menyukainya.
Ngomong-ngomong, soal marching. Dia sudah menguasai banyak 'gaya' penggunaan flag. Rasanya sudah lega jika telah paham materi.
Meraba-raba sekitarnya, tangan panjang itu akhirnya menemukan benda pipih warna hitamnya.
Grub kelasnya sedang ramai.
Tetapi dia memilih untuk menunda membukanya karena teman-temannya sedang berlomba-lomba untuk typing.
Lalu dirinya membuka satu chat teratas dari temannya.
Yuna: besok langsung latihan atau pulang dulu?
Weni: kalau pulang nyampe nggak waktunya?
Yuna: menurut gue nggak
Yuna: langsung aja deh Wen daripada pulang, males
Weni: oke
Weni: gue bawa bekal doubel kalo gitu
Yuna: bilangin bunda gue minta sandwich kesukaan
Weni: gampang
Weni terkekeh melihat chatnya. Yuna sudah seperti anaknya bunda saja kalau seperti ini. Bahkan rasanya bunda sama sayangnya pada Yuna.
Baru saja mau menutup aplikasi chat, ada pesan personal yang masuk lagi.
Reno: oy
Gadis itu mengernyit. Macam sudah akrab saja. Tapi juga dalam lubuk hatinya, dirinya merasa senang pemuda itu menghubunginya setelah sekian waktu hanya menjadi penonton story.
Tak ingin dicap adik kelas kurang sopan, dirinya tetap membuka chatnya dan mulai mengetik.
Weni: apa kak
Di ujung sana, si pemuda bulan sabit itu menggigit gemas kuku jarinya. Gemas sekaligus takut tentang apa jawaban gadis itu.
Dan ternyata fast respon!
Dirinya merasa dibuat terbang dengan kecepatan gadis itu menjawab chatnya.
Tepat setelah menyadari bahwa dirinya seperti sangat cepat merespon, gadis itu merasa malu sendiri. Dia tak mau jika dicap seperti sedang menunggu pesan dari pemuda itu.
Reno: ahaha nggak apa
Reno: test kontak doang
Shit.
Weni membulatkan matanya membaca pesan itu. Dia tak suka jika pesan macam itu!
Pemuda itu pun ia rasa sangat bodoh telah menulis tulisan tak berguna itu.
Sekarang pemuda itu sedang memutar otak menilik gadis itu tak kunjung membalas pesannya walau sudah dibaca. Jangan-jangan gadis itu merajuk?
Sial.
Kalau begini caranya dia harus menghubungi Eja si buciners. Kalem-kalem begitu, jiwa bucinnya sudah sangat tak tertolong jika menyangkut tentang gadisnya. Ibaratnya, stadium 4.
Reno: Ja gue mau chat doi tapi nggak punya topik
Eja: yaudah gausah
Reno: buset jutek
Eja: Lo ganggu banget
Eja: ini gue mau telpon sama bidadari tapi Lo malah chat gue
Eja: tanya Rendi aja sana!
Reno menipiskan bibir saja. Malam-malam begini memang jadwalnya Eja membuka ponsel untuk menghubungi bidadarinya.
Masa tanya Rendi? Bagaimana jika nanti dia diejek?
Mark?
Boleh dicoba.
Reno: kasih tau gue gimana cara biar bisa chat panjang sama cewek
Reno: buru
Pesannya tak kunjung dijawab padahal dibawah namanya ada tulisan online. Orang-orang pada kenapa sih?!
Mana pesannya pada gadis itu belum dibalas pula. Ini namanya Gatot! Gagal Total!
Padahal cuma mau pendekatan.
Double sial!
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Novela JuvenilBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
