#13 Langkahnya yang Terhenti

30 6 2
                                        

On Feelings

Benderamu turun, tomku juga menyendu


Reno yang juga berada di kantin memperhatikan garis wajah gadis itu yang sedang menopang dagu. Pipinya yang gembul mencuat lucu.

"Yang mana sih?" tanya Fauzan pelan sambil mengikuti arah pandang Reno.

Reno yang sedang memperhatikan dalam diam terkejut bukan main. Ya gimana ya, Fauzan kepalanya mepet sekali dengan dirinya. Bahkan pipi mereka hampir bersentuhan. Kalau saja Reno tak segera mengalihkan wajahnya, mungkin bibirnya sudah menempel dengam bibir Fauzan.

Secara refleks, Reno menoyor pipi pemuda itu 'pelan' lalu mengumpat pelan. "Jangan deket-deket. Maho lo," umpat Reno.


"Buset bisa rontok nih muka gue!" Fauzan balik menoyor pipi tirus Reno yang tidak seberapa itu. Lalu berpindah tempat di sisi depannya. Reno tak menggubris sama sekali, daging dalam tubuhnya telah berganti menjadi otot.

"He, kalo suka ya deketin. Ngapain diliat dari jauh gitu. Nggak dapat apa-apa," ceramahnya. Lalu meminum es teh dalam gelas aqua yang ia jadikan gelas karena airnya sudah habis. Es tehnya dari mana? Tentu minta kepada orang terdekat.

Reno mendecak keras. "Enteng banget ngomong," nyinyirnya.

Fauzan mendelik. Mulutnya sudah ia buka untuk makan batagor dalam plastik yang disobek bagian ujung bawahnya, "iyalah," santainya.

Reno dengan putus asa menaruh kepalanya ke meja di depannya. Menggeram frustasi kini.

Suka sama cewek kok ribet gini sih?!

Niatnya mau dipacarin, tapi mau bergerak saja dirinya sudah ciut duluan. Ntar kalau dia disalip bagaimana?

Mengingat kemarin anak kelasnya membicarakan adik-adik kelas cewek yang cantik-cantik. Murid perempuan di sini tak terlalu mendominasi, jadi kalau ada yang cantik sedikit langsung tenar dikalangan manapun.

Apalagi, gadis incarannya masuk dalam list lambe anak kelasnya. Rreno merasa tak suka ada yang membicarakan gadis itu, tapi juga tak ada hak untuk melarang.

Jadi, dia akan berusaha untuk mendapatkan hati cewek itu. Tanpa ada yang tahu.

"Gimana nih Can gue minta nomornya?" pemuda itu mendongakkan kepala dengan wajah memelas.

Baru saja mau membuka mulut, suara peluit Pak Agus sudah dibunyikan tanda latihan akan dilanjut lagi.

"Ntar aja. Pak Agus dah kangen gue," ucapnya lalu menyeruput es tehnya sampai habis. Batagor yang masih sedikit dia kunyah banyak-banyak agar muat dan langsung membuang sampah plastiknya ke tempat sampah terdekat.

Jeno mengumpat dalam hati.

Lalu juga mengikuti Fauzan untuk kembali.

Sebelum itu, matanya melirik gadis itu yang sudah berdiri dan melangkah keluar kantin.

Dalam hati merapalkan kalimat jika dia pasti bisa mendapatkan hati gadis itu.

Inget Ren! Lo harus jadi kayak Mail-nya Mei-mei!

Bergerak dengan cool dan tampan.

***

Latihan marching hari ini selesai di jam 11 siang. Terhitung sudah mereka dua jam latihan.

Reno yang dari tadi menunggu waktu berakhir segera melesat mengembalikan tomnya ke ruang alat musik setelah para pelatih pergi.

Fauzan yang melihat itu melongo saja.

Gue harus dapat nomornya!

Reno sudah menata tomnya dengan rapi. Lalu disusul anggota lainnya yang mengembalikan alat dengan antri.

Pemuda itu keluar sambil menenteng pemukul tom milik pribadinya itu. Berjalan melewati koridor untuk menemukan si gadis .

Dicarinya kesana kemari. Melangkahkan kakinya untuk menemukannya. Saat sampai di pinggir lapangan, pemuda itu akhirnya melihat gadis itu. Ternyata sudah mau pulang dengan menenteng backpack putihnya.

Berdiri menuju Hall sambil mengetik cepat di layar smartphonenya.

Reno memantapkan diri untuk menemui gadis itu, Weni.

Langkahnya pelan saja sambil mempersiapkan kalimat apa nanti yang akan ia lontarkan.

Saat langkah gadis itu sudah memasuki lantai koridor, tiba-tiba saja gadis itu belok kanan.

Dan ada pemuda tinggi berlari menemuinya yang datang dari belokan. Lalu mengetuk pundak gadis itu kecil.

Jidan?

Reno melotot sangking kagetnya. Ngapain tu bocah di sini?!! batinnya geram.

Pemuda itu segera balik badan menyembunyikan diri di balik meja di hall. Mengepalkan tangan menyumpahi Jidan.

Kini dirinya duduk sendiri sambil memperhatikan pergerakan yang dilakukan Jidan.

Pemuda berwajah kecil itu tertawa sambil memberikan kertas entah kertas apa. Dilanjutkan dengan tawa gadis itu yang tampak puas. Keduanya tertawa bersama dengan riang membuat Reno geram dengan pemuda berwajah kecil itu.

Lalu seperti mengajak pergi, Weni dan Jidan melangkah bersama. Keduanya menjauh dari koridor.

***

Dikarenakan latihan sudah selesai, Weni mulai membuka ponsel pintarnya setelah tadi menaruh tongkat bendera pada tempatnya.

Menghubungi seseorang.

Weni: lo masih di sekolah?

Jidan: masih

Jidan: lo udah selesai ya marchingnya?

Weni: iya udah

Lalu saat sampai di koridor, pemuda yang sedang dia chat mengetuk bahunya pelan dari belakang membuatnya kaget.

"Eh, Jidan," sapanya.

Jidan tersenyum kecil, "di lab masih ada Pak Haki. Yuk langsung aja," ajaknya.

"Tapi emang gak papa nih? Gue kan gak ikut ekskul komputer," tanyanya ragu.

"Ya nggak papa lah. Kan lo juga mau tanya soal mapelnya pak Haki. Pasti deh dibolehin," argumennya meyakinkan. "Nih gue tadi habis fotokopi buat lo,"

Gadis itu melongo begitu saja. Baru kali ini bertemu orang baik nan polos seperti Jidan, ini cowok lho. Padahal untuk fotokopi satu lembar paling hanya Rp 250,00. Niat sekali cowok ini.

Weni mengucap terima kasih, lalu tertawa kecil, "karena lo yakin banget gue mau deh. By The Way makasih ya,"

Jidan mengangguk sama-sama, "ada gue, ntar gue bantuin. Yuk," ajaknya lalu mulai melangkah lebih dulu. Diikuti gadis itu.

***

SIRIUS STARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang