Hari yang paling Weni tunggu akhirnya datang. Hari Selasa dan Sabtu telah ditentukan untuk ekstrakurikuler marching band diadakan. Weni benar-benar excited sekali.
Bel tanda pulang berbunyi di jam 16.00. Murid yang tak ada keperluan di sekolah segera mengemasi barang dan pulang.
"Eh eh eh Jihan mau kemana?!" tegur Pak Toby si guru matematika karena melihat beberapa murid sudah mau keluar kelas.
Si murid yang dipanggil menghela napas sabar. Menoleh, "pak plis ya, nama saya itu Jidan. Jihan itu cewek pak," ucapnya dengan sabar.
Sementara Jihan, si murid cewek bermata bulat juga gigi kelincinya sedang sibuk dengan ponsel di barisan belakang tak mengindahkan apapun.
Pak Toby tepuk jidat, "oh iya. Lupa saya. Lagian nama kok samaan. Kalau kembar wajar, lah ini beda rahim kok nama sama," ucapnya membuat murid-murid melongo dengan kerandoman guru matematikanya ini.
Jidan dan beberapa temannya segera duduk kembali ke tempat masing-masing. Padahal tadi niatnya mau langsung kabur karena Pak Toby sedang sibuk mengurusi buku tugas.
Pak Toby segera mengakhiri jam pelajaran terakhir di hari Selasa.
Weni sangat bersyukur guru matematikanya di sini tidak semacam guru killer yang galak. Yang ada, gurunya malah sangat asik dan tak membosankan. Murid-murid malah senang diajar oleh Pak Toby si guru matematika.
"Pak Toby bikin ngakak aja dah," ucap Ayu di samping Weni yang sedari tadi menahan untuk tak tertawa dengan suara nyaringnya itu.
Weni hanya senyum menanggapi itu. Karena nyatanya, dia hanyalah penikmat di sini, bukan pemeran.
"Lo ada ekskul kan hari ini Wen?" tanya Ayu.
Weni mengangguk, "hu um," jawabnya singkat.
"Gue ikut dong," Weni mendelik.
"Ikut? Lo ikut marching? Kemarin kok gak datang?" tanyanya bingung.
Ayu tertawa, "gue kan bilang ikut elo, bukan marchingnya. Gue mau nonton doang,"
"Lah belum ada formasi keles. Ini nanti baru seleksi," jelasnya.
"Lah iya? Kirain langsung ada formasi," Ayu tertawa lagi. Ayu suka banget ketawa orangnya.
Weni geleng-geleng. "Yaudah gue mau nganter lo aja, gue mau muter sekolah ini dah," ucap Ayu masih tak lelah.
Weni mengangkat alis, "yaudah ayo. Tapi gue gak ikut elo jalan-jalan," ingatnya. Ayu mengangguk dan mengangkat jari membentuk 'OK'.
"Eh ya, gue bareng sama temen gue juga. Gak papa kan?" tanya Weni. Ayu mengangguk lagi, lalu menggandeng lengan Weni meninggalkan kelas yang masih ada beberapa murid.
***
"Gue kok pendek banget ya?" tanya Ayu yang berada di tengah-tengah Weni dan Yuna.
Melongo dengan tinggi si kedua teman barunya ini.
"Nggak ada masalah juga kan Yu," ucap Yuna yang sudah mulai akrab dengan Ayu si gadis michrophone.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Teen FictionBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
