Jidan: Weni suka banget es krim rasa vanilla bang
Reno: bagus
Reno: mantab
Jidan: kalo Jidan sukanya pop ice rasa taro
Reno: ntar kalo gue dapet gaji pkl
Jidan mendecih.
Gimana mau jadi tim sukses kalau nggak ada yang masuk mulut gini?! Kemarin dia di iming-iming dibeliin cilok DNS yang kebetulan lewat. Jidan yang suka sekali dengan cilok langsung tergiur. Lumayan dibeliin sepuluh ribu jadi dua bungkus, kenyang.
Tapi sekarang nggak dikasih apa-apa lagi nih?!
Kalau dipikir-pikir kenapa dia murah sekali ya?
***
"Bang kebab deket alun-alun kota enak bingits," ucap Weni dengan menggebu. Menatap kakak tengahnya ini yang sedang bertelungkup sambil main game onlinenya.
"Goblok!" umpatnya pelan kepada ponsel pintarnya.
Weni mendelik. Kok malah ngumpat sih?
"Bang kok gitu sama adek?" aktingnya pura-pura melas. Kenapa? Ya tentu karena dia mau kebab. Tapi berhubung kebab mahal, jadi dia minta kakaknya yang baru gajian di bengkel elektronik milik paman mereka.
Radit tak mempedulikan. Masih fokus sama gamenya.
Sudah biasa. Adiknya ini jika sudah mengeluarkan seribu jurus sok-manisnya itu artinya dia mau minta sesuatu.
"Bang," rengek Weni memeluk tubuh kurus Radit yang kini tiduran.
Radit tak bergeming.
"Bangggggg," rengek Weni makin menjadi.
Radit yang gamenya terganggu mendecak kecil merasa terusik karena beberapa kali tangannya tersenggol ke kanan kiri akibat ulah adiknya.
"Batagor aja," ucapnya kini.
"Yaudah yuk!" semangat 45. Radit kaget begitu saja karena adiknya semangat membara.
Radit melirik sinis saja.
"Satu jam lagi. Lagi lost streak ini," semangat Weni padam begitu saja. Garis wajahnya datar. Memukul bahu kakaknya lalu menyembunyikan wajahnya di permukaan kasur. Kesal sekali dengan abangnya ini.
"Dek jajan yuk?" ucap Affan yang tiba-tiba masuk ke kamar Radit.
Weni langsung bangkit berdiri menyambutnya, "eittsss, bang Affan ganteng banget. Ayoklah," lalu menggaet lengan Affan keluar.
Affan menahan langkah Weni. Menatap Radit, "sama Radit. Abang cuma mau nitip bakso urat deket gereja khatolik sana,"
Weni mencebikkan bibirnya, "nggak makan sana aja bang? Kan lebih enak?"
"Nggak usah. Weni mau nggak?" tanya Affan.
"Mau lah!"
Ucap Radit dan Weni bersamaan. Tahu-tahu saja Radit sudah berdiri merapikan kaos hijaunya.
"Yaudah nih duitnya. Jangan lama-lama," ucapnya menyerahkan uang berwarna biru ke Weni lalu berlalu keluar kamar. "Eh ya, ayah bunda katanya mau bakwan kawi," gadis itu mengangguk patuh.
"Yuk dek," ajak Radit.
Weni menatap Radit penuh selidik, "tapi lo tadi janji beliin gue batagor." tagihnya.
Radit menggaruk rambutnya asal, "iye-iye. Serah lu. Tapi gue ngasih lo cuma sepuluh rebu aja," lalu mengambil uang di laci meja belajarnya.
Gadis itu nyengir lebar.
"Nyengir aja lu," ucap Radit lalu mengalungkan tangannya ke pundak Weni dan berjalan bersama.
***
"Anjir itu Radit!" pekik Rendi tertahan.
Rendi, Reno, Doni dan Mark sedang berada di lesehan soto bathok yang sangat murah meriah di pinggir alun-alun kota.
Reno sudah bercerita dengan 'geng' nya soal gadis itu.
Di sekolah mereka sudah memantau si gadis tinggi itu.
"Mana sih ceweknya? Cantik?" Mark ikut mengintip. Mencari di mana dan siapa gadis yang sedang dimaksud.
"Ye mata lo!" ucap Rendi mengusap wajah Mark.
"Elu sih sibuk ngosis. Kalau ke sekolah nggak mampir kantin dulu," Doni baru datang dengan segelas kopi panasnya. Lalu mencomot gorengan tahu yang berada di tengah-tengah mereka. Lalu menaikkan kaki sebelahnya.
Mark melengos malas, "gue nih nyibuk yang produktif. Lah lu apa? Sibuk nonton doang," sinisnya tak terima lalu ikut mengambil gorengan.
"Nonton apa lu Don?" tanya Rendi tak tahu menahu.
"Cinta suci,"
Rendi tersedak tempe mendoannya. Lalu sibuk membuka air putih dalam botol yang masih disegel.
Mark tertawa ngakak hingga terpingkal-pingkal. Menepuk punggung Jeno yang ada di sebelahnya membuat pemuda itu mendecak terganggu.
Di antara 7 anggota Shining-rice-lovers, (anggota mereka) Mark ini yang sangat recehan. Kadang hal biasa saja bisa jadi hal yang lucu untuknya.
"Reno nehhh, nontonnya film blue. Cita-citanya pengen jadi pemeran utamanya," ucap Rendi bangga. Reno diam saja sambil makan bakwan dengan emosi.
Masih tak percaya apa yang dia lihat barusan.
Radit?
Si kakak kelasnya itu ternyata juga mengincar gadis itu? Bahkan sudah jalan berdua?! Sudah sedekat itukah?!!!
Tawa Mark yang tak kunjung henti itu tak menganggunya sama sekali. Biasanya Reno akan sebal dan menyumpal mulut receh itu dengan apapun kalau dia sudah capek mendengar tawa berisik itu.
Suara motor mendekat dan berhenti di depan mereka. Kebetulan mereka duduk lesehan di pinggir jalan kiosnya si pemilik angkringan ini.
Lalu duduk menyeruak di antara Reno dan Mark.
Fahreza Abidzian.
Dipanggil Mas Eja.
"Eh tumben ke sini? Nggak ngapel lu?" tanya Rendi.
Eja menggeleng, "dah tidur," ucapnya diiringi tepukan tangan sok kagum dan Rendi si cowok kecil.
Tatapan Reno menyayu begitu saja. Kini! Pembahasan Doni tentang Irish Bella si artis favoritenya itu yang ternyata sudah menikah dan sudah punya satu anak membuat Reno benar-benar jengah. Disaat suasana sedang cocok untuk menggalau ini kenapa malah yang dibahas Irish Bella sih?
"Gue nih, pengen punya cewek namanya Bella," ucap Doni menggebu padahal bakwan masih memenuhi rongga mulutnya.
"Bella Poarch noh," celetuk Rendi.
"Beda kasta kali," Eja ikut nimbrung dengan gaya coolnya itu menimbulkan guratan wajah kesal di wajah Doni.
"Bella, bella apa yang nyenengin?" sela Mark setelah tawanya selesai.
Lipatan-lipatan kecil menghiasi dahi Rendi, Doni maupun Eja. Sedikit kaget si cowok blasteran ini jago gombal seperti ini.
"Ape?"
"Bella-yan tanganmu padaku, HAHAHAHAHhahahahahaha," by the way, hanya Mark sih yang tertawa.
Eja yang merasa aneh dengan cowok di sebelah kirinya itu menoleh. Mendapati pemuda itu yang tak ikut nimbrung mengerutkan kedua alis tebalnya.
Menyentil lutut pemuda itu yang ditekuk.
Reno menghembuskan napas pasrah. Merasa langkahnya berat sangat.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Teen FictionBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
