On Fire
Saat temanmu menyebalkan, pukul saja dengan tongkat benderaku.
•
•
•
Siang ini, Jidan yang sudah sampai rumah dan mandi kini tiduran santai di teras rumahnya. Dengan bayangan gadis lucu itu berputar di pikirannya.
Terkikik sendiri dengan gilanya.
Uh, gadis itu manis sekali. Tubuhnya yang tak tinggi tapi juga tak pendek itu membuatnya ingin menyandarkan kepala saat ia lelah.
Dengan memeluk boneka beruang warna birunya (Ical), Jidan mulai memejamkan matanya karena lumayan lelah saat ekskul komputer tadi.
Tak lama kemudian, suara motor besar memasuki halaman rumahnya.
Jidan yang mendengar sayup-sayup mendecak kecil. Kenapa selaluuu saja ada tamu saat dia sedang di rumah?!
Mau tak mau dia harus sopan, kata mama.
Membuka mata dan duduk bersiap menyambut tamu. Melihat pemuda dengan hoodie hitam dan celana abu-abu longgarnya masuk ke terasnya dengan santai lalu duduk di kursi ujung dengan wajah datar.
Jidan melongo melihat pemuda itu.
Dia melengos saja, lalu kembali tiduran. Malas sekali meladeni orang tidak jelas.
Dulu saja, pemuda yang kini duduk dengan raut wajah datar itu pernah datang ke rumahnya untuk sekadar minta makan lalu pergi.
"He ini gue datang lo bukannya sambut gua?!" protesnya.
Jidan melengos, "ck. Ngapain lo?" juteknya.
Pemuda itu, Reno, "gue yang harusnya nanya," ucapnya dengan nada kesal. "Lo ada hubungan sama Weni?" tanyanya menembak dan terus terang.
Jidan yang baru memejamkan matanya sebentar langsung melotot.
"Ha?" beonya.
"Ha ho ha ho dasar tukang keong," kesal Reno.
"Apaan elah. Weni? Temen gue? Napa?" tanyanya bingung. Dirinya sampai terduduk dari tidurnya.
"Lo nggak usah deh suka-sukaan sama cewek. Masih kecil lo!" peringatnya.
Jidan makin mendelik, menunjuk dirinya sendiri, "gue nih 15 tahun loh bang. Gue dah bisa bereproduksi," ambigu Jidan si bocah tengil.
Reno hampir tersedak walau tak sedang memakan apapun. Mengumpat tanpa suara karena takut jika terdengar ibunya Jidan.
Pemuda itu mendekat. Matanya diarahkan ke boneka biru di samping Jidan. Jidan yang tahu arah mata Reno segera melindungi Ical boneka kesayangannya.
"Woi woi!" tahannya. Reno berusaha menggapai boneka sialan itu. Dengan Jidan yang terus menepuk tangan pemuda itu.
Saling mengumpat tak terhenti.
"Ngapain sih lo! Jangan ganggu Ical!" peringat Jidan menonjok dada Reno walau tak sekeras itu. "Gue tendang nih, gue tendang?!" ucapnya mengacungkan kaki panjang ramping nan mulusnya ke arah area burungnya Reno berada.
Pemuda itu ganti menendang kaki putih itu dengan kesal, lalu melengos lelah karena tadi baru selesai latihan marching.
Kemudian menepuk bahu Jidan keras dengan tenaganya yang sekuat baja itu. Jidan merintih saja tak membalas. Sadar diri ototnya hanya setipis kertas hvs.
"Goblok," ucap Reno yang lelah masih sempat menoyor dahi Jidan lalu menidurkan diri di tempat Jidan tadi tiduran. Jidan segera berlari masuk ke dalam rumah menyembunyikan Ical.
Reno merengek kecil sambil menonjok-nonjok udara yang tak bisa dirasakan itu dengan gemas.
Pemuda putih itu kembali dengan tangan membawa es sirup jeruk. Mau kembali tiduran tetapi sudah ditempati oleh orang lain. Terpaksa dirinya mengalah dan duduk di kursi.
Menyeruput esnya dengan keras hingga menimbulkan suara SLURPPPP.
Lalu mengangkat kaki dengan santainya dan bermain ponsel pintarnya. Tak memperdulikan pemuda yang sedang dimabuk cinta itu.
Reno mendecak keras, "gue mana?!" tanyanya tak santai sama sekali.
Pemuda putih itu menoleh dengan sebal, "apasih?"
"Itu sirupnya!"
Jidan yang memang akhlaknya minus itu malah menepuk bokongnya mengejek. Lalu melanjutkan bermain ponsel.
Reno yang tak digubris menggeram lagi untuk kesekian kalinya. Gemas sekali dengan kelakuan non-akhlak temannya yang lebih muda setahun ini.
"Eh lo.." ucap Jidan menggantung dan masih melanjutkan bermain ponsel.
Jeno melirik saja.
"Eh lo suka ya sama Cici?" tebak Jidan dengan santainya. Kini pandangannya sudah fokus ke pemuda yang tiduran sambil menutup wajahnya dengan lengan itu.
"Siapa Cici?" tanyanya tak tahu menahu.
Jidan melengos, "Cici sama dengan Weni," jelasnya.
Panggilan yang imut sekali. Tetapi memang, gadis manis itu sering dipanggil Cici oleh teman sekelasnya. Tabiatnya yang suka malu-malu saat bersama orang baru membuat siapa saja gemas.
"Kok Cici sih?!" protes Reno.
"Napa emang? Lucu kok," Jidan mulai mengeluarkan sisi menyebalkannya. Ah, sepertinya Jidan memang selalu menyebalkan kapanpun di mana pun alias 24/7.
Jeno kini sudah duduk dengan wajah menahan emosi. Mengira jika Jidan memang akan menjadi saingannya. "Nggak lucu kalau kita suka sama satu cewek yang sama Dan," ucapnya menunjuk Jidan dengan kesal.
Jidan terkikik geli. Lalu lanjut tertawa, hingga tertawa ngakak hingga terpingkal-pingkal.
Menepuk tangannya saking gelinya.
"Oohh jadi itu cewek yang dibilang Raja waktu itu? Mayan juga selera lo," ucap Jidan setelah tertawa. Tapi masih lanjut tertawa.
Reno yang merasa itu pernyataan benar jadi malu sendiri. Hormon esterogen dalam tubuhnya naik cepat sekali dari dalam perut. Rasanya pipinya sudah mulai memerah kini.
Jidan yang melihat Reno malu-malu malah jadi jijik. Tawanya hilang begitu saja, "jijik banget lo malu-malu gitu," Reno yang mendengar kata itu langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali, lupa kalau ini Jidan si kurang ajar.
Rasanya ingin melemparkan apa saja ke kepala Jidan agar cowok itu diam.
"Eh tapi Cici tinggi loh bang," akhlaknya mulai kembali normal kini.
Reno keki sendiri mendengar pemuda itu memanggil dengan nama panggilan imut itu, "Weni aja. Apaan sih Cici-cici segala," protesnya.
Jidan bodoamat.
"Napa kalau tinggi? Masih tinggian gue juga," sungutnya.
Jidan menahan tawa, "tinggian gue ah. Cuma lebih lima senti doang Lo mah," entah apa maksudnya, Jidan hanya ingin mengusili Reno saja.
Reno memberikan lirikan tajamnya.
Memang sih Jidan lebih tinggi darinya walaupun dia lebih muda. Tapi nggak harus diperjelas juga kan??!!
"Minta nomornya," palak Reno langsung.
"Ogah,"
Reno menggeram sebal sekali. Berhadapan dengan Jidan membuat darahnya bisa naik jika begini.
Kesabarannya sudah habis. Dirinya berdiri menuju pemuda bermulut licin itu. Menguleknya hingga berbusa kalau bisa.
Jidan yang melihat seperti ada efek api-api di belakang Jeno langsung berlari masuk ke dalam rumah diikuti kejaran Reno.
"MAMAAAAA!"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Fiksi RemajaBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
