On Heart
Kibaran benderamu seolah memberiku lampu hijau tuk menggebuk lima bundaran tom
•
•
•
Latihan dimulai.
Anggota yang kemarin masuk tim A kini masuk bagian perkusi. Dengan 2 anggota tambahan untuk tom dan juga bass.
Latihan perkusi ada di dalam ruang kelas IPA yang lebih dekat dengan ruang alat musik. Sedangkan untuk melody di ruang sebelahnya, kelas matematika.
Memang tak ada kelas yang dikhususkan untuk setiap jurusan. Setiap berbeda pelajaran, para murid yang akan pindah ruangan untuk menemui kelas gurunya.
Rasanya sudah seperti sekolah rasa kuliah saja.
Dan poin yang lebih menarik, disaat pergantian jam, jika beruntung bisa melihat para gadis cantik ataupun cowok tampan dari jurusan masing-masing.
Ya, lumayan lah untuk sekadar cuci mata.
Sedangkan pemain colour guard, di lapangan dalam dekat air mancur. Dengan bendera warna kuning polos. Beranggotakan sepuluh anggota yang membentuk barisan rapi.
Latihan berjalan lancar-lancar saja.
Perkusi sedang latihan untuk bagian lagu A. Dengan menggebuk bass maupun senar drum ataupun tom.
Hari Sabtu pagi ini SMK N 1 Aurora dipenuhi suara gebukan perkusi maupun suara dari terompet, pianika maupun bellira. Juga beberapa anggota ekskul lainnya. Anggota marching yang ada di unit 2 pun ikut latihan di sini.
Walaupun hari libur, sekolah ini tak benar-benar libur, bahkan kantin pun tetap buka.
Dan satu mata, melirik ke luar melewati jendela. Melihat para anggota colour guard sedang berlatih.
Gadis bertubuh tinggi itu terlihat paling menonjol dengan rambut dikuncir kuda tinggi. Wajah putihnya terlihat memerah terkena sinar matahari langsung. Ah, manisnya.
Tanpa sadar, Reno menikmati raut wajah manis itu. Hingga ujung bibirnya tertarik kecil ke atas.
Sangking menikmatinya, dia tak tahu materi yang baru saja diberikan oleh Pak Agus.
Fauzan yang menunggu Jeno jadi menolehkan kepala seutuhnya. Dua adik kelas yang notabene jadi anggota tom sudah bergabung dengannya melihat kertas yang diberikan tadi.
"Ini ketukannya dua atau tiga kali bang?" tanya Rafi pada Fauzan.
Fauzan malah kaget ditanya seperti itu. Yang kapten kan Reno, dia juga yang paling paham. Fauzan mah hanya menjadi pengikutnya saja. Sebenarnya, dia datang ke sini juga karena paksaan cowok mata kecil itu.
"Eh ntar-ntar. Gue panggil kapten dulu," ucapnya.
Melihat pemuda mata kecil itu sudah nemplok di tembok dengan kepala dilongokkan ke jendela, ia mendelik. Dirinya yang memang kepo ikut melongokan kepalanya. Dirinya yang lebih tinggi dari pemuda itu dengan mudah melihat di balik kepala pemuda itu.
Fauzan mengitari arah pandang Reno. Yang dia lihat hanyalah para anggota colour guard yang sedang berlatih.
"Wah, mata lo ya Jen," gumamnya tak sadar karena melihat semua anggota colour guard cewek semua. Nilai plusnya, cantik-cantik + bodynya aduhai.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Fiksi RemajaBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
