Mendapat notifikasi dari smartphonenya, sang kakak tengah.
Radit: lu pacaran sama Reno?
Radit: bagus
Radit: suruh dia anter pulang
Gadis manis itu ternganga begitu saja. Apa-apaan ini?!
Dengan emosi gadis itu menekan layar smartphone nya.
Weni: PAAN
Weni: cuma duduk sampingan doang
Weni: JEMPUT GUE KALO NGGAK GUE ADUIN BUNDA
Radit: gue batalin pesanan skinker lu
Gadis itu menggeram dengan kesal. Dia lupa kalau sedang memesan produk skincare online tadi siang saat bertemu di kamar mandi sekolah. Kenapa juga harus nitip ke Radit?!Kenapa nggak Bunda atau Affan saja?!! KENAPA?!!!
Reno yang sedari tadi memperhatikan itu tertawa geli dengan pelan.
Kalau dilihat-lihat, gadis tinggi ini manis sekali. Pipi gembulnya serasa mau tumpah jika sedang mengomel. Bibir bulatnya yang kerap kali menggerutu lucu. Juga mata bundarnya yang kadang mengerjap polos.
Tak sadar, pemuda itu tersenyum sambil menikmati wajah manis ini.
Kalau begini caranya, dia pulang naik angkot saja. Tapi kan ini hampir maghrib? Kalau dia nanti lihat mbak kunti di jalan masuk gang gimana?! Kan nggak mungkin kalau angkot masuk gang?! Mana harus melewati kuburan lagi.
Weni rasanya mau nangis.
"Hei," ucap Reno. Pemuda itu mengacungkan plastik bungkus cilor.
Dirinya terkaget karena ternyata pesanannya sudah jadi.
"Eh udah ya? Pak ini u-"
"Udah-udah. Makan aja," ucap pemuda itu lembut.
"Eh? Udah dibayar kak?" beonya. Reno mengangguk sambil tersenyum hingga segaris matanya menghiasi.
Gadis itu terpana dengan senyum itu. Entah kenapa suka saja melihatnya. Senyum yang lembut itu sangat nagih untuk dilihat.
Tanpa sadar Weni sudah diam dengan bibir terbuka kecil. Melongo menatap si kakak kelasnya ini. Reno memiringkan wajah nya, dan gadis itu malah mengikutinya.
Lalu dengan sedikit ancang-ancang pemuda itu memajukan wajahnya membuat Weni kaget. Dengan refleks ia memundurkan wajahnya.
Reno malah tertawa tanpa dosa.
"Lucu banget lo. Gue nggak tau lo selucu ini," ucapnya dengan tawa yang masih tersisa.
Dengan kikuk gadis itu mengerjapkan mata. "Besok aku ganti uangnya," seraya menormalkan suatu getaran aneh dalam dadanya.
Pemuda itu mengangguk saja, "eh itu udah ada adzan. Katanya lo dijemput?" ucapnya mendengar adzan maghrib "Nggak bisa jemput kali. Yuk gue anter," katanya lalu menarik lengan Weni pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SIRIUS STARS
Teen FictionBerjalan mengendap-endap pada samping ruang alat musik. Mendengar sesuatu yang sangat asing bagi kupingnya. Tak sadar ada laki-laki tinggi yang baru saja beli jajan tahu sambel di kantin Mak Nah. Mendelik, "He ngapain lo kayak cicak nemplok di temb...
