#26 Rencana Ke Depan

8 0 0
                                        

Hari ini Weni diantar ayah karena Radit pagi ini tidak langsung ke sekolah, melainkan ke Jogja untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan jurusan TEI. Bukan kehendaknya, tapi ini perintah dari sang guru. Radit pun tak sendiri, melainkan bersama tiga temannya dan dua guru. Mereka naik kereta dengan biaya ditanggung pihak sekolah.

Perlengkapan yang dibeli merupakan perlengkapan untuk kegiatan unjuk kejurusan yang akan datang 2 bulan lagi.

Enaknya jadwal sekolah tapi bisa keluar.

"Assalamualaikum ayah," gadis tinggi itu mencium tangan sang ayah saat dirinya sudah turun dari boncengan.

"Waalaikumussallam. Jangan nakal di sekolah!" peringat ayah pada anak bungsunya.

Weni menipiskan bibir sambil membenahi letak totebag di pundak kirinya. Ayahnya ini masih saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil. "Iya ayahku yang tampan,"

Ayah tersenyum menatap putrinya yang dulu sering dia bawa mancing di laut kini sudah beranjak remaja. Bahkan tinggi seperti dirinya. Terkadang, bahkan setiap hari ia merasa khawatir akan maraknya kenakalan remaja yang penuh dengan dunia luar, ia sangat takut karena anak gadisnya ini benar-benar rupawan yang sangat menarik perhatian siapapun. Ia selalu berdoa untuk keselamatan putrinya ini.

"Nanti telpon ayah kalau sudah mau pulang. Kalau nggak ya mas mu itu," pesan ayah sebelum menghidupkan stater motor NMaxnya. "Ayah ke klinik dulu," lalu motor hitam itu melaju dengan tenang membelah jalanan yang tak terlalu ramai ini.

Gadis itu melambai dan tersenyum kecil menatap ayahnya yang penyayang itu.

Kemudian mendengus begitu saja mengingat si kakak tengahnya yang selalu mengantar dirinya hanya sampai simpang empat di depan.

Tak ambil pusing, kaki jenjangnya melangkah memasuki gerbang yang tinggi menjulang itu bersama dengan pada murid lain.

Baru saja melewati hall, pundaknya disentuh kecil oleh seseorang dari belakang.

"Eh?" kagetnya.

Ah, pemuda bulan sabit.

"Tumben bawa totebag?" tanyanya begitu saja. Gadis tinggi itu tersenyum tertahan karena pagi-pagi begini sudah ditemui pangeran bulan sabit-ups.

"Kan nanti latihan marching,"jawabnya seadanya. Dirinya yang memang tinggi itu tingginya sama dengan dagu Reno.

"Loh nggak pulang dulu?" kaget Reno.

Weni menggeleng, "walaupun nggak jauh banget, tapi rumahku nggak sedekat itu. Toh aku juga nggak bawa kendaraan, jadi ya langsung aja," jelasnya dengan sedikit tersipu karena pandangan pemuda itu rasanya tak mau lepas dari matanya.

Reno tersenyum menampakkan eye smile menawannya itu.

Benar-benar favorite Weni sekarang ini. Mata bulat nya menatap pemuda itu terpana.

"Ya nanti kalau mau pulang dulu gue anter," ucap pemuda itu lembut.

Akhirnya gadis itu menampakkan rentetan gigi mungilnya yang putih yang rajin ia rawat, tertawa kecil dengan riang hati. "Nggak perlu kak. Aku sama temen juga," katanya. "Eh aku mau ke atas, kak Reno?" tanyanya menunjuk tangga di sampingnya dengan jempolnya.

Reno tampak terkejut, "ahh, gue juga kok," ringisnya.

Weni tersenyum manis menanggapi. Reno sangat menyukai senyum itu. Dirinya sampai tak berani menatap profil gadis itu walaupun hanya dari samping.

Ternyata seperti ini rasanya menjadi Eja. Selalu bucin. Sekarang Reno telah membenarkan aksi bucin 1000%nya Eja.

Tapi ada yang berbeda. Eja sudah ada status, sementara dirinya tidak.

***

Setelah gadis itu masuk lab, Reno bisa bernapas dengan normal lagi. Tanpa disadari, dirinya selalu mencium aroma sampo yang menguar dari rambut lebat gadis itu yang dikuncir kuda itu.

Apa sih samponya? Dia mau juga.

Tak peduli dirinya dicap bodoh karena ikut naik tangga padahal pagi ini kelasnya ada di bawah.

Berjalan menyusuri koridor lantai dua dengan senyum yang tak kunjung pudar itu, dirinya rela ditatap aneh oleh banyak murid yang sedang di koridor.

Sampai di ruangan 205, sebuah suara menginterupsi dirinya. "Tch. Habis ngapel mas Reno?" tanya seorang pemuda dengan sinis.

Reno yang sudah hafal luar kepala lantas mendengus. Memicingkan mata pada pemuda bertubuh kecil itu.

"Nape lu? Iri?" tanyanya sambil mendekat lalu duduk dengan gayanya saat duduk di angkringan alun-alun.

"Kagak, cuma kasian aja. Bukan siapa-siapa soalnya," lalu tertawa pongah dengan ngakaknya.

Reno menatap pemuda kecil itu sinis.

"Iye-iye yang jadi sangker terus udah ada adek-adekannya di Polsek," sindirnya lalu berdiri dan beranjak. Malas sekali diejek terus seperti ini.

"Tunggu gue go publik ya mas Reno calon buciners!" teriak Rendi.

Sial.

Rendi sudah ada incaran dan sudah ada tanda-tanda mau go publik. Pemuda itu tak bohong tadi.

Eja? Sudah tak usah dibicarakan lagi.

Raja? Pemuda itu sedang sering adu bacot dalam game online nya bersama seorang gadis yang masih dia cari identitasnya. Katanya juga sekolah di sini.

Jidan? Dia masih kecil. Masih suka diawasi sang nenek saat main keluar rumah, gimana mau main cewek?

Mark? Susah ditebak. Berbeda unit sekolah membuat pemuda itu menyembunyikan banyak hal. Tetapi Reno pernah melihat ada pop up pesan pada ponselnya. Namanya Giselle kalau tidak salah.

Doni? Dia paling misterius. Kerjanya kelayapan cari cewek, tapi tak pernah dapat. Alasannya, semua cewek cantik, jadi nggak mungkin dipacarin semua kan? Jadi tunggu saja nanti pada waktu yang tepat.

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 14, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SIRIUS STARSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang