Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ara? Sebelah kamu kosong?"
Ara yang tadinya sedang memijat-mijat pelipisnya untuk mencoba menahan rasa kantuk itu langsung tersentak kaget ketika pak Sungjin memanggil namanya.
Ya siapa coba yang gak kaget lagi gak fokus tiba-tiba dipanggil sama guru.
"Ad—"
"Kosong pak, Choi Bomin hari ini gak sekolah. Izin pulang kampung ada acara keluarga," balas Chaewon, si sekretaris di kelas itu.
"Oh yasudah kalau begitu untuk sementara Hyunjin duduk disana dulu ya. Nak Hyunjin, kamu bisa duduk di bangku kosong sebelah Ara ya, nanti bapak akan carikan tambahan bangku lagi untuk kamu di kelas ini," ujar pak Sungjin yang diberi anggukan paham oleh Hyunjin.
Karena hanya bangku Ara saja yang kosong saat itu jadi memudahkan Hyunjin untuk tau siapa 'Ara' yang dimaksud oleh sang guru.
Pemuda itu berjalan menuju bangku Ara yang ada di nomor dua dari belakang bangku dua dari pintu. Pandangan semua penghuni kelas pun masih setia tertuju padanya.
"Gue izin duduk disini, ya?" ucap Hyunjin yang membuat Ara mengambil tasnya yang sebelumnya ada di kursi itu lallalu mengangguk pelan.
Oh ayolah, disini masih dengan Lee Ara yang matanya ingin tertutup untuk tidur.
"Baik anak-anak, hari ini pelajaran saya kan? Karena hari ini ada rapat guru dan osis jadi saya hanya akan memberikan kalian tugas ya."
Langsung terdengar pekikan senang yang tertahan dari seluruh murid di kelas itu setelah mendengar pernyataan dari pak Sungjin barusan.
"Buku LKS halaman 50, latihan soal dari nomor 1 sampai 5 saja ya nak. Dikerjakan di buku latihan, pertemuan selanjutnya kita periksa bersama."
"SIAP PAKK!"
"Bapak keluar dulu ya. Jangan ada yang main-main! Tugasnya dikerjakan dengan baik! Bapak permisi ya nak.."
Sekepergian pak Sungjin, suasana kelas kembali jadi ramai. Seperempat dari anggota kelas memilih untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Sungjin tadi, tetapi tiga perempatnya tampak tidak peduli dengan tugas tersebut.
Alias, murid baru di kelas itu lebih menarik perhatian mereka ketimbang tugas matematika pak Sungjin.