1 / Agresif Boy

8.7K 811 80
                                        

~JENTAKA~

Brakk!

Pintu gudang didobrak secara tidak manusiawi dari luar, para lelaki yang sedang berkumpul di dalam sontak mengalihkan pandangan ke arah seorang pemuda yang datang dengan tangan mengepal kuat di sisi kanan dan kirinya.

Pemuda itu mengapit hidungnya menggunakan jari, gudang sangat penuh oleh asap rokok dan debu. Kalau tidak karena hal penting yang harus dia katakan, mana sudi dia harus menginjakkan kaki ke tempat para pembangkang aturan sekolah ini.

"Jay!"

Yang dipanggil sibuk menghisap nikotin dari celah bibirnya. Jay mendongak menatap pemuda itu dari atas sampai bawah, Jay pun membuang puntung rokoknya ke sembarang arah. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan pemuda itu.

"Nyali lo gede banget, berani ke sini sendirian, Jungwon Baskara." kata Jay terkekeh kecil.

Jungwon makin mengeratkan kepalan tangannya, dia menatap nyalang Jay yang beraktifitas seperti biasa. Sedangkan dirinya harus dihantui akan rasa takut dan menyesalmenyesal, ini sangat tidak adil.

"Ayo ikut, aku nggak bisa bicarain hal ini di depan mereka." Jungwon menarik tangan Jay keluar dari area gudang. Jay mengikuti langkah kaki kecil di depannya, satu tangannya dimasukkan ke kantung celana.

Hingga Jungwon berhenti di area belakang sekolah yang cukup sepi, sial Jay tidak menyangka kalau Jungwon akan memilih tempat seperti ini. Dari itu Jay langsung menyunggingkan senyum miring.

"Lo pengen kita main di sini, Jungwon?" Jay menaik turunkan alisnya menggoda.

Plakk!

"Jaga omongan kamu, tuan Jay yang terhormat." Jungwon sukses mendaratkan telapak tangannya ke pipi Jay.

Jay memegangi pipinya yang memerah karena bekas tamparan Jungwon. "Kali ini apa masalah lo sama gue, Jungwon?"

Jungwon mengambil nafas, dia terlihat lebih tenang daripada tadi. "Kamu kelewatan!"

"Lewat mana? Kalideres apa Cengkareng?" Jay masih sempatnya mengudarakan candaan, padahal Jungwon sangat serius dengan apa yang akan dia katakan.

"Serius, bangsat!" Satu umpatan keluar dari bibir mungilnya. Jungwon tidak pernah mengumpat di sekolah, dan ini kali yang pertama.

"Wow, agresif boy." Jay menepuk tangan.

Sudahlah, Jungwon tidak kuat berhadapan dengan manusia spesies purba seperti Jay.

"Gara-gara kamu, sekarang hidup aku lebih sengsara!" ujar Jungwon sedikit menaikan suaranya.

"Intinya, Jungwon." Jay bersedekap dada, dia bersandar pada dinding di belakangnya sambil memperhatikan Jungwon yang terlihat ketakutan.

"Ingat kejadian sebulan yang lalu?" Jungwon memulai.

Jay mengangguk. Tentu saja dia ingat acara studytour sekolah yang diselenggarakan bulan lalu, itu sangat membosankan— tadinya. Dia hampir melupakan kejadian malam itu.

"Karena kejadian itu, sekarang aku terancam keluar dari tim inti taekwondo." Jungwon akhirnya duduk di salah satu bangku dan mengigit kukunya sendiri.

Jay mendekat dan duduk di sebelah Jungwon. "Terus urusan gue apa?"

Sekali lagi, Jay merasakan pipinya ditampar kuat oleh Jungwon. Kepalanya sampai menoleh ke samping karena kerasnya tamparan Jungwon. Demi apapun, salah dia apa?!

"Aku hamil anak kamu."

Jay tertegun, dia langsung menatap Jungwon dengan mata serius. "Kameranya mana? Lo lagi ngeprank gue, ya?"

Jungwon malah merunduk dan menutupi wajahnya sendiri. Dia mulai menangis kencang. Jay menjadi panik dan menoleh ke sekelilingnya, kalau ada yang melihat bisa-bisa dia disangka melakukan yang tidak-tidak pada Jungwon.

Jay menarik Jungwon dalam pelukan, dia mengelus punggung Jungwon dan menepuk-nepuk kepala pemuda itu.

"Aduh, diem! Gue nggak bisa nenangin bayi nangis!" Jay kalang kabut, sebab tangisan Jungwon makin keras.

"Diem dong, nanti gue beliin baju gucci deh, suer! Ini gimana dieminnya, njing?!"

"A-akh.." Jungwon memegangi perutnya yang terasa keram. Dia menunduk dan mencengkram tangan Jay dengan mata terpejam.

"Eh, lo kenapa? Banyak amat drama hidupnya buset."

"Perut aku sakit banget." Jungwon masih memejamkan mata saat mengucapkan hal itu.

Jay mengarahkan satu tangannya untuk memegang perut datar Jungwon dari luar seragam. Jungwon mulai menarik nafas, dan menghembuskannya berkali-kali, dia menstabilkan rasa sakit itu sendiri.

Jungwon melihat tangan Jay di perutnya, dia langsung menepis tangan itu agar menjauh dan tidak menyentuh setiap inci tubuhnya. Jay meringis sambil mengusap-usap punggung tangannya.

"Seenggaknya, gue perlu bukti." ujar Jay tidak langsung percaya.

"Dua garis merah, aku hamil anak kamu."

Jungwon merogoh saku seragamnya, dia mengeluarkan sebuah surat yang dilipat kotak kecil, dan sebuah testpack dengan dua garis merah.

"Aku periksa ke dokter kandungan kemarin, katanya dia tumbuh sehat." Jungwon mengelus perutnya pelan, dia menoleh ke arah Jay yang tampak diam dengan tatapan kosong ke hamparan tanaman yang bergoyang terbawa angin.

"J-Jay..." cicit Jungwon takut, dia menarik sedikit seragam Jay untuk mendapat atensi lelaki itu.

Jay menoleh dengan tatapan datarnya, rahangnya mengeras. Dia mencengkram tangan Jungwon, membuat pemuda itu meringis kesakitan karena cengkraman Jay tidak main-main.

"Ayo kita aborsi, gue nggak siap jadi orang tua."

~JENTAKA~

Pagi-pagi diawali drama rumah tangga begini, ternyata seru juga :')

Jentaka ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang