34 / Prank

3.3K 453 67
                                        

Sebelum baca, vote dulu.
Tapi sebenernya aku lebih suka kalian komen daripada vote, hehe.

~JENTAKA~

"Karena usia pasien masih tergolong sangat muda dan dalam keadaan hamil besar, kami hampir saja mempunyai kabar buruk untuk kalian semua."

Degg..

Jay sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya, Jeno sigap menahan tubuh Jay yang hampir tumbang ke belakang. Dia menyampirkan satu tangan Jay pada bahunya untuk menjadi topangan berdiri.

"Sabuk pengaman mengurangi  kemungkinan kematian janin, sehingga masih bisa ditindak lanjuti dengan segera. Meski begitu, tolong lain kali lebih diperketat pengawasannya. Jangan biarkan istri anda duduk di kursi depan, agar hal seperti ini tidak terulang kembali."

Jay mendapat kejutan kabar yang sangat luar biasa. Tadinya Jay sudah berfikiran buruk terlalu jauh, misalnya harus memilih salah satu di antara mereka. Membayangkannya saja membuat Jay ingin bunuh diri.

Jay menyingkirkan tangannya dari pundak Jeno. Dia lega karena Jungwon dan anaknya baik-baik saja. Jeno di sampingnya juga terlihat sangat bersyukur, begitu juga Jaemin yang tadinya merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Jungwon.

"Boleh saya jenguk, Dok?"

Jeno melihat Jay dari samping, nada serta mata adik iparnya itu sangat mengekspresikan rasa cemas dan khawatir. Dalam hati dia mengucapkan syukur karena Jay sudah bisa menerima takdirnya sebagai suami serta calon ayah, meski umurnya masih terlampau muda untuk mendapat gelar kepala keluarga.

Jeno juga merasakan beberapa perubahan dari cara bicara Jay, sampai sifat dan sikap lelaki itu. Sepengelihatannya, Jay tidak pernah lagi memegang batang nikotin atau berkumpul dengan orang-orang yang attitudenya sudah hilang ke antah berantah.

Jay lebih sering menghabiskan waktunya di kantor Jimin dan menemani Jungwon di rumah. Rupanya Jay sudah belajar menjadi suami yang baik dengan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Jeno kagum dengan Jay yang begitu mengkhawatirkan Jungwon. Jay sudah termakan ucapannya sendiri. Dulu dia tidak menginginkan anaknya, bahkan berencana untuk mengaborsi darah dagingnya sendiri. Tapi, lihatlah sekarang ... Jay bahkan sangat takut untuk kehilangan calon anaknya.

Jeno ingin tertawa, tapi situasinya sangat tidak mendukung.

"Jaemin, ayo kita pulang. Biarkan Jay dan Jungwon bicara berdua, mereka butuh waktu untuk merenungkan apa langkah yang harus mereka ambil kedepan."

Jeno menggandeng Jaemin pergi dari area ruang UGD, mereka bergandengan tangan selama berjalan di koridor keluar. Jaemin setuju atas usul suaminya, Jay dan Jungwon harus belajar saling berkomunikasi satu sama lain. Dengan begitu mereka akan mengerti pentingnya arti bicara dari hati ke hati, tanpa menggunakan kekerasan.

***

Jay masuk satu jam kemudian saat Jungwon sudah terbangun dari pengaruh obat bius. Sengaja dia baru masuk sekarang karena tidak ingin menganggu Jungwon tadi. Lagipula lebih baik jika Jungwon terbangun sendiri, bukan karena ulahnya.

"Jungwon," panggil Jay saat menapaki kakinya di ruang inap VIP Jungwon. Sebenarnya Jungwon ingin dipindahkan ke ruang inap biasa, tapi Jay memiliki alasan yang kuat.

Jungwon yang tadinya sedang melihat ke langit ruangan, menolehkan  kepalanya sedikit. Dia tersenyum tipis saat melihat eksistensi Jay di ruangannya. Dia kira Jay tidak ada di sini dan akan lebih mementingkan berkas-berkas sialan itu, tapi dugaannya salah besar.

"Gimana, masih ada yang sakit?" Jay bertanya saat duduk di kursi yang disediakan. Dia menarik kursi itu mendekat pada ranjang Jungwon, lalu menggenggam tangan dingin Jungwon yang tergeletak di atas selimut.

"Sedikit. Ini kamu berlebihan banget sampe nyewa kamar VIP, padahal aku nggak kenapa-kenapa, loh."

Jungwon melihat ekspresi Jay yang tampak suram dengan bibir yang tidak mengulas senyuman sama sekali. Apa jangan-jangan Jay tidak suka kalau dia siuman? Apa Jay masih menginginkan anaknya mati?

"J-Jay, kamu kok kelihatan biasa aja? Apa kamu yang sengaja bikin aku begini, iya?"

Semenjak hamil besar, Jungwon seperti kehilangan guna otak pintarnya. Dia sering sekali overthinking dan menuduh Jay yang macam-macam, seperti sekarang contohnya.

"Hush! Kayaknya aku udah bangun stigma buruk banget, ya, buat kamu?" Jay terkekeh dan mengelus punggung tangan Jungwon.

"Bukan gitu, a-aku cuma takut kalau kamu masih pengen Jean pergi..." ujar Jungwon pelan.

"Aku nggak mungkin ngelakuin hal keji itu, Jungwon. Aku berani sumpah kalau sekarang aku pengen Jean ada di antara kita, jadi buang jauh-jauh persepsi buruk kamu."

"Ahahah, iya. Aku percaya, kok." Jungwon menggerakkan tangannya agar menjadi topangan duduk. Jay membantu Jungwon dengan memposisikan beberapa bantal agar Jungwon nyaman bersandar.

"A-ah.." Jungwon memegang perutnya sendiri. Mendadak dia panik, dia meraba-raba perutnya yang ternyata masih buncit. Dia bernafas lega karena anaknya merespon dengan sebuah tendangan kecil.

"Jay, Jean masih sehat 'kan?"

Jay terpikirkan sesuatu, dia ingin menjahili Jungwon dengan menakut-nakuti pemuda itu tentang fakta palsu.

"Jean..." Jay menggantung ucapannya. Dia merubah mimik wajahnya sesendu mungkin.

Jungwon mengguncang tangan Jay penasaran. Bisakah suaminya itu tidak mengulur waktu? Apalagi wajah Jay yang terlihat sedih, itu membuat Jungwon khawatir.

"Kenapa sama Jean, Jay?!" cecar Jungwon dengan mata berembun. Jika terjadi sesuatu pada anaknya, maka Jungwon akan paling merasa bersalah. Andai saja dia menuruti larangan Jay tadi sore, pasti sekarang dia sedang tiduran di sofa sambil menunggu pekerjaan Jay selesai.

"Dia..."

Jay menahan tawa, sebenarnya ini berlebihan. Tapi Jay ingin Jungwon juga tahu rasanya cemas dan khawatir di saat yang bersamaan.

"Kamu yang sabar, oke? Kita pasti bisa lewatin ini semua dengan lapang dada."

Jay menaruh satu tangannya di atas perut Jungwon, dia menggerakkan tangannya perlahan dan direspon oleh anaknya, walau sangat pelan.

"J-Jay ... Jangan bilang hiks J-Jean?"

Jay langsung mendekap Jungwon erat dan membisikkan keadaan yang sebenarnya terjadi.

"Kita harus sabar ... Karena Jean masih dua bulan lagi lahir ke dunia! Jadi makin pengen cepet-cepet liat Jean di rumah, hehe."

Jungwon mengelap kasar air matanya dan memukuli dada Jay brutal. Rupanya dia sedang dikerjai oleh suaminya, padahal Jungwon sudah sangat serius menanyakan anak mereka.

"Kamu bohongin aku! Aku marah, marah banget pokoknya!"

Jay mengaduh sakit seraya tangannya berusaha menghentikan pukulan Jungwon. Dia menangkap pergelangan tangan Jungwon dan manatap pemuda itu dengan raut serius.

"Jungwon.." Jay mendadak merubah situasi. Dia menghadapkan mata Jungwon agar bertubrukan dengan matanya.

"Aku mau ngomong serius tentang kelanjutan pernikahan kita, tentang Jean juga."

~JENTAKA~

Yakali Jean nggak jadi debut, bisa-bisa besok aku muntah paku grgr kalian. Bayanginnya aja udah serem ಥ‿ಥ

Jentaka ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang