Siang :)
Sebelum baca, vote dulu.
~JENTAKA~
Jungwon dan Jay duduk berhadapan di atas sofa ruang tamu. Ada sedikit jarak di antara mereka karena Jungwon tidak ingin terlalu menempel dengan Jay.
"Kamu mau ngomong apa? Cepetan, aku mau ke kamar lagi," ujar Jungwon tanpa melihat Jay.
Jay mendekatkan tubuhnya, meniadakan jarak di antara mereka. Jay memegang pundak Jungwon dan mengarahkan pandangan mereka agar bertemu pada satu titik. Jungwon merasa tersudut sekarang. Pandangan Jay benar-benar membuatnya takut dan tidak berani berkutik apalagi membantah.
"Jungwon, dengerin aku sebentar." Jay menumpukan tangan mereka yang saling menggengam di atas perut Jungwon.
"Aku minta maaf soal omongan aku. Aku tau kamu marah sama aku, tapi aku nggak bisa kamu diemin gini. Ayo kalo kamu mau pukul aku, tampar aku, caci maki aku sepuas kamu. Aku rela asal setelah itu kita balik seperti semula."
"Tampar aku, sekarang."
Jay mengangkat satu tangan Jungwon agar menyentuh pipinya. Dia siap jika Jungwon menamparnya seperti kemarin atau seperti awal Jungwon memberitahukan kehamilannya di sekolah. Jay tidak perduli, tamparan saja tidak cukup untuk menebus dosanya.
Jungwon bergeming, diam-diam dia menahan diri agar tidak menangis di hadapan Jay.
"Ini beda, Jay. Aku nggak masalah kalau kamu seharian ada di kantor tanpa kasih kabar, aku fine aja kalau kamu nggak pulang ke rumah karena urusan kantor. Tapi, kamu hina dan bandingin aku sama orang lain itu udah beda poin." Jungwon menyampaikan kekecewaannya, dia membiarkan bulir-bulir air mata itu mengalir di pipinya.
"Kamu mikir nggak sih kalau aku lagi hamil anak kamu? Aku capek loh bawa baby J kesana-kemari seharian, sendirian pula. Tapi aku mana pernah rewel minta kamu pulang nemenin aku?"
Jay menyimak penuh, setidaknya Jungwon secara tidak sadar mulai terbuka padanya.
"Udahlah, percuma aku ngomong sama manusia batu kayak kamu. Nggak bakal masuk di otak, yang ada aku makin emosi," sinis Jungwon berdiri.
Dia masuk ke kamarnya dan duduk di pinggiran ranjang. Jungwon meluruskan kakinya dan memijit pelan dari mata kaki sampai betisnya yang terasa pegal-pegal. Sesekali dia meringis karena rasa sakit saat jarinya memijat daerah yang nyeri.
Karena fokus memijit kakinya, Jungwon tidak sadar kalau Jay sudah berada di depannya dan menatapnya dalam diam. Jay mengambil tempat di samping Jungwon setelah sebelumnya mengangkat sedikit kaki pemuda itu dan menempatkannya di atas pahanya. Jari-jarinya mulai bergerak perlahan memijat betis Jungwon.
"Pelan-pelan, sakit.." Jungwon menahan tangan Jay yang sedang memijat kakinya.
Jay semakin memelankan pijatan tangannya. Sesekali ia sempatkan untuk menoleh ke Jungwon yang meringis tanpa suara, tapi wajahnya memerah karena menahan sakit.
"Kamu sering begini?" Jay melontarkan pertanyaan. Berharap saja itu tidak dianggap angin lalu oleh Jungwon.
"Setiap hari."
Meski hanya dua kata, tapi itu telak menusuk hatinya. Jadi setiap malam Jungwon harus menahan rasa sakit itu sendirian? Jay tidak bisa membayangkannya.
"Jungwon ... Aku nggak berguna banget, ya, jadi suami buat kamu?"
Jungwon mendecak, dia reflek menarik kakinya dan menatap tajam Jay yang tertunduk lesu. Entah kenapa dia tidak suka jika Jay justru merendahkan diri seperti itu, padahal yang dikatakan Jay adalah kebenarannya. Laki-laki itu tidak pernah ada saat dia membutuhkan sesuatu.
"Iya, kamu nggak berguna! Bego! Aku benci sama kamu!" Jungwon menimpuk Jay dengan bantal beberapa kali.
"Kamu nggak pernah ngerti kalo hiks aku mau kamu lebih sering luangin waktu di rumah!"
Jungwon meluapkan kemarahannya dengan menangis tersedu-sedu. Jay memeluk tubuh Jungwon, tapi sedikit terhalang oleh perut besar Jungwon.
"Udah, ya, marahnya... Kasihan baby J pasti ikut sedih liat orang tuanya berantem gini." Jay mengusap rambut Jungwon sayang sembari menciumi kening pemuda itu.
"Aku juga sedih tau!" sahut Jungwon mengelap wajahnya yang basah pada baju Jay.
"Nah, makanya ayo kita baikan. Aku janji bakal lebih luangin waktu buat kalian, gimana?"
"Janji?" Jungwon menjauhkan wajahnya yang sembab.
"Iya, janji."
"Janji juga jangan pernah bandingin aku sama siapapun lagi, ya?"
"Iya, sayang.."
Jungwon merona, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Jadi, kita udah baikan?" Jay bertanya memastikan.
Jungwon menjawab dengan anggukan pelan dan mengecup bibir Jay singkat. Jay menahan tengkuk Jungwon dan melumat bibir ranum itu dengan perlahan. Tidak ada nafsu di dalamnya, hanya penyaluran rasa rindu karena sudah berhari-hari mereka pisah ranjang.
Jay semakin memperdalam ciuman mereka dengan menggigit kecil bibir Jungwon dan mengisi rongga mulut Jungwon dengan lidahnya.
Jungwon mengalungkan tangannya ke leher Jay dan meremas rambut bagian belakang Jay seolah mengatakan kalau dia juga menikmatinya. Dia membalas ciuman Jay dengan membelitkan lidah mereka berdua, walau tidak sebaik Jay.
"Ummh.."
Jay memutus ciuman mereka dan menaruh kepalanya di leher Jungwon. Dia mulai mengecup tiap inci kulit leher putih itu sambil meninggalkan beberapa tanda di sana.
"Ngghh, J-Jay.."
Jungwon mendesah saat Jay menggigit lehernya cukup kasar. Dia yakin itu akan meninggalkan bekas ungu pada kulit lehernya besok. Jay bahkan terus menciumi lehernya dan turun sampai ke dadanya setelah membuka beberapa kancing kemeja yang dipakainya.
"J-Jay.." Jungwon mencengkeram pundak Jay. Itu membuat Jay menghentikan perbuatannya dan tersadar.
"Sorry, can't control my hormones." Jay mengusak kasar wajahnya dan mengaitkan kembali kancing kemeja Jungwon.
Dia berbaring di sebelah pemuda itu dan menarik Jungwon pada pelukan belakang. Jika dari depan sudah tidak bisa, karena Jay tidak ingin menekan perut Jungwon yang sudah buncit sekali.
Jungwon memejamkan matanya saat tangan Jay mengelus perutnya, belum lagi anaknya yang merespon dengan beberapa tendangan kecil dari dalam sana. Jay juga tampak menikmatinya, akhirnya dia bisa berdamai dengan Jungwon.
"Kamu udah cari nama buat Baby J nanti?" tanya Jungwon sesaat sebelum terlelap.
"Udah, tapi aku bingung banget. Semua namanya bagus-bagus." Jay berkata pelan di dekat telinga Jungwon.
"Yang pasti ada Artabagus-nya, 'kan?" Jungwon menggoda Jay. Meski pernikahannya belum diketahui khalayak, tapi tetap saja anaknya adalah bagian keluarga ini.
"Tentu, kamu maunya gabungan nama kita atau gimana?"
"Aku mau ada Nata-nya!"
"Jean Artabagus Nata?" Jay menyampaikan satu kandidat nama yang terlintas dalam kepalanya.
"Bagus, aku suka!"
Dugg..
Anaknya merespon, tendangan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Jungwon saja sampai memejamkan mata karena terkejut dengan tendangan anaknya yang dadakan.
"Kamu suka namanya, sayang? Wah ... Salam kenal Jean Artabagus Nata!"
~JENTAKA~
KATAKAN HAI PADA JEANNN!
Bukan sangwon eheq.
'JEAN ARTABAGUS NATA'
Btw, arti namanya bagus banget lho.. Kalo penasaran tunggu sampe chapter 41, disana aku spill arti namanya XD
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
