Sebelum baca, vote dulu.
Rekomendasi cerita HeeWon dong, genrenya apa aja bebas...
~JENTAKA~
Jungwon berusaha memejamkan matanya saat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam. Dia berguling ke kanan dan kiri, tetapi matanya enggan tertidur. Pada akhirnya Jungwon menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan menopang kepala dengan bantal.
"Huhu, aku pengen peluk Jay.."
Dia menimang lagi, apa iya dia harus mengetuk kamar sebelah untuk meminta Jay tidur satu kamar dengannya lagi?
Menuruti gengsi hanya akan membuat segalanya lebih rumit. Jungwon menurunkan satu kakinya ke lantai dan mulai menapaki langkah menuju kamar sebelah.
Tok..
Tok..
"Jay.."
Jungwon mengetuk pintu kamar yang ditempati Jay. Tidak ada jawaban dari dalam sana, pasti Jay sudah tertidur pulas. Jungwon mendorong sedikit pintu itu yang ternyata tidak terkunci.
Dia melangkah masuk dengan perlahan sambil memegang perutnya. Lampu di bagian koridor mati, sedangkan di bagian kamar dibiarkan menyala. Jungwon menghembuskan nafasnya saat melihat Jay yang masih terjaga, lelaki itu sedang sibuk membalik tiap lembaran kertas di atas mejanya.
"Umm.. Jay?"
Jay menoleh, dia melepas kacamata bacanya dan menatap Jungwon datar. Kepalanya pening karena harus disibukkan dengan berbagai hal, mulai urusan sekolah, perusahaan, dan sekarang ditambah masalah keluarga.
"Ngapain lo kesini?"
Jungwon memilin ujung baju tidurnya, kakinya tidak bisa diam bergerak kesana kemari. Dia malu jika harus berkata ingin memeluk Jay, dan menginginkan Jay kembali tidur satu kamar dengannya.
"Kamu lagi sibuk, ya?"
"Lo liat sendiri gue lagi ngapain, Jungwon. Gue sibuk, pake banget." Jay menekankan kata sibuk.
Jungwon menatap Jay sedih. "Tadinya aku mau minta kamu peluk, t-tapi kalo kamu sibuk nggak apa-apa kok."
Jay yang tadinya sedang membaca satu persatu kata yang ada dalam berkas itu sontak berhenti. Apa tadi kata Jungwon?
"Aku keluar, ya? Kamu jangan begadang, nanti sakit."
Jay hanya memperhatikan saat Jungwon berjalan menjauhinya dan keluar. Dia menghela nafas bimbang, apa dia harus lebih mementingkan pekerjaan?
"Akh, sialan!" Jay membereskan berkas-berkas itu dan berdiri.
Jay keluar dari kamar tempatnya tidur beberapa hari ini, dia berjalan ke arah kamar Jungwon dan langsung masuk tanpa mengucapkan permisi. Toh, ini kamarnya juga kok.
Jungwon di dalam sana sedang memeluk bantal dan tidur menyamping ke kanan. Jay mendekati Jungwon dan mengambil bantal yang sedang dipeluk oleh pemuda itu. Jungwon menatap Jay aneh, kenapa tiba-tiba datang ke kamar ini? Bukannya dia sibuk?
"Tidurnya jangan miring kanan, nggak bagus buat orang hamil." Jay berkata sambil merubah posisi Jungwon menjadi miring ke kiri.
Jungwon hanya diam saat Jay mengatur tubuhnya. Dia merasakan kasur di sebelahnya bergerak, rupanya Jay merebahkan diri di samping Jungwon dan menarik pemuda itu pada pelukan hangat.
Jay menambahnya dengan mengusap-usap punggung Jungwon dari dalam baju tidur yang pemuda itu kenakan.
Jungwon terkejut, dia mendongak untuk melihat wajah Jay yang terkesan biasa saja. Lelaki itu memejamkan matanya sambil mengusap punggungnya. Jungwon senang, dia mencari posisi nyaman dalam pelukan Jay dan mulai memejamkan matanya.
Damai.
Itu yang Jay rasakan saat memeluk Jungwon beserta calon anak mereka. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Jungwon guna menghirup aroma yang keluar dari tubuh pemuda mungil itu. Sangat manis sampai rasanya Jay melepas semua beban yang hinggap di pundaknya seharian ini.
"Nggh-- geli, Jay."
Jungwon menggerakkan tangannya untuk mendorong sedikit kepala Jay. Nafas panas lelaki itu mengenai lehernya, menimbulkan sensasi geli yang membuat Jungwon meremang.
Ucapan Jungwon tadi membuat Jay bergairah, Jay membalik posisi dengan berada di atas pemuda itu. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Jungwon yang menarik minatnya sejak awal. Jay mulai melumat bibir itu, menggigit kecil dan menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Jungwon.
Pemuda itu tidak menolak, Jungwon justru mengalungkan tangannya ke leher Jay. Hormon ibu hamil itu menyeramkan, tapi Jay menyukainya.
"Mmmh."
Jay memutus ciuman mereka, dia mengelap sisa saliva yang mengalir di dagu Jungwon. Lihatlah pemuda itu dengan bibir yang basah karena ulahnya, Jungwon terlihat sangat panas.
Jungwon menutupi wajahnya dengan telapak tangan, dia malu karena ketahuan menikmati ciuman mereka. Pasti wajahnya memerah seluruhnya, Jungwon bahkan tidak berani membuka matanya.
Jay berusaha mengumpulkan kesadaran dengan mengingat kalau Jungwon sedang hamil. Ah, apa yang dia lakukan barusan? Kenapa dia bisa kehilangan kontrol?
"Sorry kelepasan." Jay membaringkan tubuhnya di samping Jungwon.
Pemuda itu tidak menjawab, Jungwon membalikkan tubuhnya membelakangi Jay. Dia malu jika harus bersitatap dengan Jay.
Jay mengulum senyumnya, dia mengerti sekarang. Pasti Jungwon sedang menahan malu. Padahal mereka sudah pernah melakukan lebih dari sekedar ciuman, dan itu yang menyebabkan hadirnya satu nyawa lagi di antara mereka berdua.
Jay mendekatkan tubuhnya dan memeluk Jungwon dari belakang. Dia kembali menaruh wajahnya di leher Jungwon dan sengaja meniup-niup telinga pemuda itu.
"Jay.." Jungwon merengek. Bagaimana dia bisa tidur jika Jay terus meniup telinga serta lehernya?
Jay terkekeh, dia mengarahkan satu tangannya ke dalam baju tidur Jungwon. Dia mengelus perut Jungwon dan memejamkan matanya.
Jungwon terhenyak, sentuhan itu terasa sangat hangat. Telapak tangan Jay benar-benar mengelus perutnya! Astaga, Jungwon tidak percaya ini. Jay melakukannya tanpa harus dipaksa olehnya terlebih dahulu!
Jungwon mengulas senyuman lebar. Elusan Jay sangat nyaman sampai membuat kantuk menghampirinya, Jungwon memejamkan mata dan tertidur dalam pelukan Jay.
Jay membuka matanya saat merasakan Jungwon bernafas dengan teratur. Cepat sekali pemuda itu tertidur, Jay menghentikkan elusannya pada perut Jungwon.
Posisi seperti ini mengingatkanya akan malam panjang yang menjebak mereka berdua dalam satu insiden panas. Malam itu, Jay seolah siap menanggung segala resiko dari apa yang diperbuatnya pada Jungwon.
Dan malam itu ... Jungwon sudah memberikan segalanya pada Jay. Harga dirinya pun diambil dengan begitu mudahnya oleh lelaki itu, Jungwon jatuh dalam sebuah dosa besar yang menghancurkan masa depannya sendiri.
~JENTAKA~
Chapter depan, teh, anu ... Ngerti maksudnya, 'kan? Rate M 🌝
Kalo aku nggak up berarti males/lupa pencet publish, bukannya belum ngetik. Chapter mah banyak, tapi kan sesuai timbal balik dari kalian eheheh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
