~JENTAKA~
"Eh, Won. Lo udah nyatet kisi-kisi pts kemaren?"
Sunghoon ini bodoh atau bagaimana, jelas-jelas dua hari kemarin Jungwon tidak masuk dengan alasan sakit. Memang benar sih sakit, tapi sakitnya lain..
"Kan aku nggak masuk, Hoon."
Sunghoon menggaruk belakang kepalanya, benar juga. Kenapa dia bertindak bodoh begitu, ya?
"Emangnya kemarin dikasih kisi-kisi apa?" Jungwon balik bertanya.
"Nggak tau, gue cabut. Tapi gue denger dari Jake sih, kemarin dikasih kisi-kisi ulangan geografi." Sunghoon menjawab sambil mengambil buku latihan orang di belakangnya dan menyalin tugas.
Gila, padahal minggu depan ada ulangan tengah semester, tapi tugas tetap diberikan pada mereka semua. Gurunya itu berniat membunuh mereka atau apa? Mereka diharuskan belajar dan mengerjakan tugas, belum lagi dibuat pusing oleh omongan para guru yang memojokkan murid pembolos. Seperti Sunghoon dan Jay.
"Nih, gue ada kisi-kisi kemaren."
Jay melempar satu rangkap kertas yang berisi kisi-kisi ulangan geografi. Dia melempar itu tepat di atas meja Jungwon, tapi Jay bahkan tidak menoleh untuk sekedar say hello di pagi hari yang suram ini.
"Kamu dapat darimana?" Jungwon membalik lembaran kisi-kisi itu.
"Mau nggak? Jangan banyak tanya udah, simpen aja." Jay mengancam sambil mengambil lagi kertas itu.
Jungwon menggeleng dan merampas kertas itu dari tangan Jay. "Iya aku mau, tapi aku pulanginnya besok, ya? Soalnya mau aku salin dulu di buku catatan."
"Nggak usah."
"Apa?" Jungwon menoleh ke arah Jay. Sejak menikah, Jay menjadi duduk di sampingnya.
"Nggak usah salin, itu buat lo."
"Terus kamu gimana?"
"Gue mah gampang, lagian juga nggak bakal gue pelajarin." Jay berkata mudah, karena dia tidak pernah belajar saat ulangan. Modal hitung kancing atau mencontek teman sebelah.
"Terimakasih."
Jay kali ini menoleh ke arah Jungwon, pemuda itu menepuk bahunya pelan.
"Papa Jay." Jungwon berujar sangat pelan, kondisi kelas sangat ramai. Karenanya dia berani mengatakan hal itu pada Jay. Dia tersenyum singkat dan mengeluarkan buku paket dari dalam tasnya.
Jay menatap Jungwon datar, dia menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan senyuman.
Beberapa saat kemudian jam pelajaran pun dimulai, seorang guru masuk sambil membawa setumpuk buku tebal di tangannya. Dia meminta sekretaris kelas untuk mencatat kisi-kisi ulangan di papan tulis.
***
Bel pulang berbunyi, siswa yang menganggap kelas sebagai neraka sudah pergi lebih dulu meninggalkan kelas. Anak-anak lain berbondong-bondong pergi dengan saling merangkul, atau melontarkan candaan selama menuruni tangga.
Dan Jungwon ... Dia tidak termasuk dalam bagian keduanya.
Jungwon berdiri di depan kelas sambil memainkan ponselnya. Dia menunggu seseorang yang katanya ingin bertemu dengannya untuk memulangkan sesuatu.
"Won, udah nunggu lama?"
Jungwon mengantongi ponselnya dan tersenyum. "Nggak kok, santai aja."
Heeseung membuka tasnya dan memberikan sabuk hitam Jungwon yang sempat dia lepas waktu itu. Sebenarnya Heeseung ingin memulangkan ini ke kosan Jungwon, tapi pemuda itu ternyata sudah tidak tinggal di sana lagi.
"Gue mau pulangin ini." Heeseung memberikan sabuk itu pada Jungwon. Pemuda itu menerimanya dengan hangat.
"Makasih, ya. Maaf ngerepotin kamu terus."
Heeseung terkekeh dan merangkul pundak Jungwon. "Kayak sama siapa aja."
Mereka menuruni tangga dengan posisi sedekat itu, bahkan Heeseung tak segan-segan untuk memeluk pinggang Jungwon dari samping.
"Lo udah deposit?"
Jungwon berhenti sebentar. Ah, dia lupa belum deposit untuk bermain judi online. Papa mertuanya sangat posesif, bahkan dia keluar dari rumah untuk ke supermarket terdekat saja harus diawasi bodyguard.
"Nanti liat aja." Jungwon sedikit menjauhkan tubuh mereka. Baru kali ini dia merasa tidak nyaman bersentuhan langsung dengan seseorang, apa mungkin karena kehamilannya?
"Oh iya, gue ke kosan lo waktu itu, tapi kok udah ganti pemilik?"
Jungwon mengigit bibir bagian dalamnya, sial dia harus menjawab apa? Tidak mungkin dia mengatakan kalau sekarang dia tinggal satu rumah dengan Jay. Dan dalam waktu beberapa bulan lagi, dia akan menjadi seorang ibu.
"Emangnya ada situs baru?" Jungwon mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada, gue baru nemu kemaren. Cari aja, Bayanslot88. Khusus pengguna baru cashback 30%." Heeseung menaik turunkan alisnya, menjahili Jungwon baginya sangat mudah. Jika saat jam sekolah dimulai mereka hanyalah teman satu ekstrakurikuler, tapi sebenarnya diluar jam sekolah mereka bahkan lebih dekat dari itu.
"Tapi—" Jungwon merengek, sejujurnya itu sangat menggiurkan. Tinggal seorang diri di ibukota itu rumit.
Padahal kalau dipikirkan lagi, untuk apa Jungwon masih ingin berjudi? Semuanya sudah dia miliki. Kekuasaan, kekayaan dan masa depan yang terjamin.
"Sini gue depo-in nanti kalo menang bagi dua."
Jungwon meninju lengan Heeseung, tanpa minta pun pasti dia akan membagi hasil judinya sama rata.
Mereka berjalan melewati koridor menuju gerbang sekolah yang masih terbuka lebar. Saking serunya mengobrol, mereka tidak memperhatikan tanda lantai basah yang terpasang di dekat mereka.
Jungwon tergelincir, dia memejamkan matanya bersiap untuk menyentuh lantai. Tapi tangan Heeseung sigap menarik pinggangnya dan mencegah Jungwon terjatuh. Reflek lelaki itu cukup bagus, Jungwon lega karena anaknya baik-baik saja.
Dia mengalungkan tangannya ke leher Heeseung. Mereka bersitatap beberapa saat sampai Jungwon tersadar dan memalingkan wajahnya. Heeseung yang kikuk akhirnya melepas pelukan pada pinggang Jungwon.
"Maaf, tadi reflek." Heeseung menjelaskan.
"Kenapa minta maaf? Justru aku mau terimakasih banget sama kamu. Karena kamu, an—"
"An?" Heeseung mengulang perkataan Jungwon.
"Eh, aku mau pulang buat belajar ulangan minggu depan. Kamu hati-hati, ya!" Jungwon mencari alibi, padahal dia tadi hampir saja kelepasan bicara di depan Heeseung.
Dia berlari ke arah keluar, tapi tangannya justru dicekal oleh seseorang yang sedang bersandar pada tembok sambil memainkan ponsel.
"Ada hubungan apa lo sama Hesa?" Jay menarik Jungwon menuju mobilnya.
"Nggak ada, dia teman aku." Jungwon menjawab sambil memasang sabuk pengaman. Jay mencengkram bahu Jungwon dan menghadapkan pemuda itu agar melihat ke arahnya.
"Coba jelasin ke gue, suami mana yang rela istrinya dipeluk cowok lain." Dia menjeda ucapannya sebentar, Jay menginjak pedal gas dan terkekeh hambar.
"Udah ketahuan selingkuh masih aja bilang temen? You want to fool me?"
~JENTAKA~
Sesuai judul :)
Eh, aku mau tau dong. Kalian tau cerita ini darimana? Lewat promosi aku di cerita sebelah, atau yang lain?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
