12 / Online Shop

4.1K 537 43
                                        

Haloo!!

~JENTAKA~

"Jungwon Baskara, will you be mine?"

Degg..

"Ahahaha, bercandaan kamu lucu banget." Jungwon tertawa palsu, dia melihat Heeseung yang sama sekali tidak tertawa.

"Gue nggak lagi bercanda, Jungwon. Bisa nggak jangan lo anggap perasaan gue selama ini cuma guyonan?" Heeseung menegaskan ucapannya kembali, sudah cukup beberapa tahun ini dia selalu dianggap main-main.

"A-aku nggak tau harus jawab apa." Jungwon  membuang muka ke lain arah. Setotal mungkin agar tidak melihat Heeseung di depannya.

"Iya, gue tau. Maaf tiba-tiba nyatain perasaan kayak gini. Gue cuma pengen perasaan ini nggak gue pendem terus selamanya." Heeseung berusaha tersenyum, walau dalam hatinya kecewa.

"Habis ini ... Kita bakal kayak biasanya kan? Kamu nggak bakal jauhin aku?"

Katakanlah Jungwon egois, dia tidak menerima pernyataan cinta Heeseung tapi menginginkan Heeseung terus bersamanya. Itu sama saja seperti mempermainkan perasaan orang lain, Heeseung akan terjebak selamanya dalam cinta bertepuk sebelah tangan. Dalam kata lain, Heeseung hanyalah pelarian.

"Tentu, nggak ada alasan buat gue ngejauh."

***

"Masih inget rumah, nyonya Jungwon?"

Jay menunggu kedatangan Jungwon di ruang keluarga. Dia bersedekap dada sambil bersandar pada tembok, matanya menatap tajam Jungwon dari atas sampai ke bawah. Jungwon saja tidak berani menatap balik Jay, lelaki itu sangat menyeramkan sekarang.

"Puas pacarannya?" Jay bertanya sinis.

"Aku nggak pacaran." Jungwon menjawab.

"Terus apa namanya itu jalan berduaan, pegangan, pelukan, kalo bukan pacaran?!" Jay bahkan mulai berani membentak Jungwon. Pemuda itu menunduk ketakutan, sebelumnya jika Jay marah tidak pernah sampai membentak.

Tangan Jungwon mengepal kuat, emosinya tidak stabil akhir-akhir ini. Dia mudah sekali marah atau menangis tanpa alasan yang jelas.

"TERSERAH! AKU CAPEK SAMA KAMU!"

"Lah, yang minta dinikahin siapa?" sahut Jay menyindir.

Jungwon mengulum bibirnya ke dalam, dia menahan tangis. "Aku marah sama kamu, jangan ngomong sama aku lagi!"

Dia menghentakkan kakinya menuju kamar dan membanting pintu kasar. Jungwon bersandar pada dinding dan mengambil nafas dengan susah payah. Dia melempar tasnya ke atas ranjang karena kesal.

"Kenapa Jay selalu marah sama aku? Padahal aku kan cuma beli dimsum bareng Hesa, lagian siapa suruh dia langgar janji?" Jungwon menggerutu sambil menggulingkan tubuhnya di atas ranjang.

Masih ada banyak kamar di rumah ini, pasti Jay tidak akan merasa bersalah padanya.

Cukup lama Jungwon ada di posisi itu, hingga pintu diketuk dari luar. Pemuda itu mendudukkan tubuhnya dan mengambil bantal untuk persiapan diri kalau itu Jay.

"Siapa?"

"Ini bibi, Den."

Jungwon menurunkan bantalnya, dia kira itu Jay.

"Masuk, Bi nggak Jungwon kunci."

Seorang pelayan dengan umur yang hampir menginjak kepala lima, masuk ke dalam kamarnya. Dia membawa nampan berisi beberapa vitamin dari dokter, dan air putih.

"Den, lupa minum vitamin tadi pagi, ayo minum sekarang vitaminnya."

"Bibi jangan panggil saya Den, panggil Jungwon aja, ya." Jungwon menyeret bokongnya mendekat.

"Aduh, nanti bibi usahakan deh."

Jungwon mengangguk, rambutnya yang panjang bergerak naik-turun terbawa. Dia mengambil gelas air putih dan vitamin yang sudah disediakan.

"Siapa yang suruh bibi ngasih ini ke Jungwon?"

"Anu.."

"Siapa, Bi?"

"T-tuan Jay yang suruh bibi masuk ke kamar Den Jungwon untuk memberikan vitamin."

Jungwon mau tidak mau menerbitkan senyuman. Ternyata walau Jay sedang marah padanya, tapi lelaki itu tetap peduli dengan anak mereka. Dasar tsundere!

Jungwon segera meminum vitaminnya dan mengembalikan gelas itu ke atas nampan.

"Terimakasih, Bi. Jungwon mau tidur, nanti nggak usah dibangunin makan malam, ya."

"T-tapi..."

"Usstt! Jangan pakai tapi-tapi, Jungwon capek. Besok aja makannya sekalian sarapan!"

Jungwon berdiri dan mengantarkan Bibi itu sampai depan pintu. Sekalian melihat ada Jay atau tidak diluar, hehe. Ternyata lelaki itu tidak ada di ruang keluarga ataupun ruang tamu, Jungwon langsung berbalik ke kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang.

"Bosan juga, ngapain ya?"

Jungwon mentap ikon online shop yang sudah berjamur di ponselnya. Dia jarang membuka aplikasi seperti itu, dan tiba-tiba saja dia teringin melihat-lihat baju bayi. Lihat saja kok, karena jika belum berumur tujuh bulan Jungwon tidak berani membeli perlengkapan bayi apapun, katanya sih pamali.

Dia mencari baju bayi di kolom pencarian. Ada banyak sekali, baik laki-laki ataupun perempuan. Semuanya terlihat sangat menggemaskan, ada berbagai jenis.

"Kira-kira anak aku laki-laki atau perempuan?" Jungwon mengelus perutnya, ada banyak baju anak bayi perempuan yang menarik minatnya.

"Kelamin kamu baru ketahuan nanti kalau sudah empat bulan.." Jungwon mendadak badmood, kenapa sih kelamin anaknya tidak bisa dilihat sekarang?

Jungwon akhirnya hanya melihat-lihat baju berwarna natural yang bisa dipakai oleh laki-laki ataupun perempuan. Dia memasukan beberapa baju yang menarik minatnya ke dalam troli, akan dia pesan nanti kalau kandungnya sudah berumur tujuh bulan.

"Sepatunya juga deh."

Dia juga mencari sepatu-sepatu yang imut dan bisa dipakai berbagai gender. Dia juga memasukan sepatu itu ke troli dan akan dipesan berbarengan dengan baju tadi.

"Pokoknya nanti kalau udah tujuh bulan, aku mau beli semua ini, titik."

Jungwon bahkan menambahkan beberapa jaket dan mencatat barang-barang yang diperlukan nanti di troli. Seperti baby walker dan sejenisnya.

Jungwon mematikan ponsel, dia meloncat-loncat selama berjalan ke kamar mandi.

"Kata orang kalau jadi pemalas saat sedang hamil itu berarti anaknya laki-laki, tapi aku maunya perempuan ...."

~JENTAKA~

Kalian tim laki-laki atau perempuan?

Atau.. Kembar?

Oh iya, makasi 6k lebih pembacanya! 😍💗

Jentaka ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang