Ini rada di skip, ya.
Sebelum baca, vote dulu.
~JENTAKA~
"Loh, kok nggak berhenti?"
Jungwon menoleh ke arah Jay, lelaki itu tetap menancap gas menuju sekolah. Hanya tinggal beberapa meter lagi sebelum sampai, bisanya Jungwon akan minta diturunkan di sana karena takut anak lain curiga dan menimbulkan gosip baru jika mereka ketahuan satu mobil ke sekolah.
Tapi, kali ini Jay tidak menurunkan Jungwon di tempat biasa.
"Emangnya lo nggak capek jalan terus?" jawab Jay memperlambat laju mobilnya ketika memasuki kawasan sekolah.
Jungwon memainkan sedotan susunya dengan gigi, di tangannya ada satu kotak susu ibu hamil yang dibawanya ke sekolah. Jay sudah melarang karena bisa bahaya jika anak sekolah tau apa yang diminum Jungwon, tapi pemuda itu kukuh ingin membawa karena rasanya enak. Jungwon sekarang lebih suka meminum susu kemasan yang langsung diminum daripada yang biasanya dibuatkan pelayan.
"Capek tau, nggak liat perut aku udah segede ini?" Jungwon menunjuk perutnya sendiri.
Hari ini dia membalut baju seragamnya dengan jaket kebesaran berwarna biru langit. Itu menyamarkan ukuran perutnya yang sudah terlihat kalau sedang hamil, meski tidak sebesar kehamilan biasanya pada kaum wanita.
"Serius udah empat bulan? Kecil banget, nggak keliatan kalo lagi hamil." Jay bertanya saat sudah menepikan mobilnya di tempat parkir.
Jungwon menggeplak bahu Jay dan memasukkan bungkus bekas susunya ke dalam tas, tidak mungkin Jungwon membuang bungkus itu ke tempat sampah sekolah.
"Ini kan aku tutupin pakai jaket, kalau jaketnya dibuka juga keliatan tau!" dia bersungut lalu keluar lebih dulu dari mobil Jay.
Jay menyusul Jungwon dan merengkuh pinggang pemuda itu dari samping. Anak-anak lain yang sedang berkeliaran di koridor lantai dasar menaruh atensi seluruhnya pada mereka berdua. Sebagian bahkan mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel mereka, ini akan menjadi berita trending topic satu bulan ke depan jika dipajang ke mading dan akun gosip sekolah.
"Tampar gue, ini nyata kan anjir?!"
Para murid perempuan ricuh
karena Jay terlihat sangat dekat dengan Jungwon, sebenarnya mereka tertinggal berita apa tentang hubungan dua orang itu?
Sesampainya di kelas, Jay tidak langsung masuk dan malah berbalik pergi. Hanya Jungwon yang langsung masuk ke kelas dan menaruh tas di kursinya. Saat dia masuk, kelas begitu hening, seluruh penghuninya sedang memerhatikan Jungwon yang baru saja datang.
"JUNGWON, INI SERIUS YANG DIKIRIM SAMA AYU?!"
Jake berteriak heboh sambil menujukkan ponselnya yang menampilkan foto Jungwon dan Jay yang sedang berangkulan di sepanjang jalan menuju kelas.
"Iya, kenapa emangnya?"
Jake menutup mulutnya dramatis, seperti adegan di FTV jika sedang terkejut akan sesuatu.
"Gila, kalian pacaran?!"
Jungwon diam, kalau dia bisa menjawab maka dia akan berkata kalau dia dan Jay bahkan sudah menikah dan akan menjadi orang tua dalam waktu beberapa bulan lagi.
Sunoo menengahi pembicaraan mereka, dia berperan menjadi sahabat yang baik. Sunoo tahu kalau Jungwon dan Jay sudah menikah, oleh karena itu Sunoo berusaha mengalihkan perhatian anak kelasnya yang ingin menginterogasi Jungwon seperti habis melakukan pembunuhan berantai.
Keributan di dalam kelas dihentikan oleh suara high heels yang menggema menuju kelas. Mereka tergesa duduk di bangku masing-masing sambil berpura-pura membaca atau mengerjakan sesuatu.
"Selamat pagi, anak-anakku yang cantik dan ganteng.."
"Pagi, Bu!"
"Dikarenakan Pak Hadju yang berhalangan hadir, ibu akan memberikan kalian tugas yang mudah."
Mereka semua mendengus, artian mudah bagi guru mereka ini sangat bertolak belakang dari definisi mudah yang sesungguhnya.
"Kalian rangkum dari bab 8-10 minimal lima lembar buku catatan, setelah itu membuat soal pilihan ganda 15 dan essay 10. Dikumpulkan paling lambat besok, sebelum jam pelajaran pertama dimulai."
Sudah dibilang, jangan terlalu percaya akan omongan seseorang. Mudah dari segi mananya?
"Yahh bu, gabisa dikurangin dikit?"
"Mau saya kurangin nilai kamu?" Bu Gita menghunuskan tatapan laser pada Sunghoon yang duduk di kursi paling pojok belakang.
"Jangan bu, cukup sekali aja saya nggak naik kelas karena merah di pelajaran ibu." Sunghoon mengaku kalah argumen dengan gurunya yang satu ini. Tahun kemarin dia tidak naik kelas karena nilainya kosong di pelajaran Bu Gita.
"Ini Jay kemana? Anak satu itu kebiasaan suka bolos pelajaran. Nggak puas dia kemarin tinggal kelas?"
Jungwon tersenyum kecut sambil mengusap pelan perutnya. Semoga saja anaknya tidak mengikuti jejak buruk ayahnya yang malas itu, lebih baik seperti dirinya saja yang pintar dan penyabar. Kalau soal wajah sih tidak apa-apa kalau mengikuti Jay, karena suaminya itu kalau dilihat-lihat tampan juga.
Jangan bilang Jay, ya? Nanti suaminya itu kepedean.
"Cepat kerjakan! Semua itu akan berguna untuk ulangan akhir semester bulan depan, jadi gunakan waktu kalian sebaik mungkin!"
Jungwon lantas membuka buku paketnya dan membalik lembaran sesuai yang ada di daftar isi. Dia menyalin bagian yang penting dari apa yang ada di bab 8-10, Anak-anak lain tidak mau ambil pusing. Mereka hanya menyalin rangkuman yang biasanya ada di akhir bab.
Bu Gita izin keluar setelah memberikan tugas untuk mereka. Jungwon mengambil ponselnya dan menchat Jay yang masih belum masuk ke dalam kelas. Dia mendadak ingin memakan buah mangga dan stroberi untuk siang nanti. Untuk kali ini kemauan dirinya, bukan anaknya lagi.
You
Jay, aku nggak mau anak aku nanti malu karena tau Papanya tinggal kelas dua kali.|
Oh iya, aku mau beli buah-buahan. Pulang sekolah nanti, kamu temenin aku ke pasar swalayan, ya?|
~JENTAKA~
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
