Chapter ketiga hari ini.
Warning, chapter ini tidak didedikasikan untuk kalian yang uwuphobia 🙏
~JENTAKA~
"Gugurkan anak itu, Jungwon. Dengan begitu kamu aja terbebas dari permainan benang takdir tuhan. Kamu bisa kembali bersekolah dan meraih cita-citamu menjadi atlet taekwondo. Bukankah itu terdengar seperti akhir yang bahagia?"
Jungwon terus melamun sepanjang perjalanan menuju rumah. Tatapannya kosong menghadap hamparan bangunan serta ruko yang berkelebatan saat mobil mereka melintas. Tidak terbesit olehnya akal untuk menggugurkan anaknya sendiri, tapi kalau yang dikatakan Taeyong adalah kebenarannya ... Apakah dia siap suatu saat nanti?
Jay di kursi kemudi sampai heran dengan perilaku Jungwon. Tidak biasanya pemuda itu diam dan tidak bicara satu patah kata pun sejak keluar dari restoran tadi. Bahkan, Jungwon tidak menoleh padanya saat dipanggil, atau setidaknya menyahuti perkataannya.
Jay semakin merasa janggal dengan sikap Jungwon, pemuda itu bersikap acuh padanya dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggunya. Itu benar-benar bukan sifat seorang Jungwon, menurut Jay.
"Jungwon!"
Lagi, panggilannya diabaikan begitu saja. Jungwon beranjak ke kamar dan berbaring di atas ranjang tanpa menoleh ke arah Jay yang bersandar pada pintu.
"Lo kenapa?" Jay mendekat dan duduk di pinggiran ranjang.
Jay menghadapkan Jungwon ke arahnya. Jay terkejut karena ternyata Jungwon sedang menangis, terbukti dengan mata pemuda itu yang sembab dan pipinya yang basah.
"Kamu kenapa?" Dia mengubah cara bicaranya sesuai permintaan Jungwon.
Jungwon menepis kasar tangan Jay di pinggangnya. Jungwon beranjak duduk dan ingin berdiri, tapi tangannya dicekal oleh Jay.
"Lepasin, Jay. Aku mau cuci muka," kata Jungwon dingin.
Jungwon pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Dia mendekat kembali ke ranjang untuk mengambil guling, dan berniat tidur di kamar sebelah sampai suasana hatinya membaik.
Jay menarik tangan Jungwon sehingga pemuda itu kembali tertidur di atas ranjang, Jay berpindah posisi menjadi mengukung tubuh Jungwon di bawahnya.
"Jay, lepas!"
"Nggak, sebelum kamu cerita kenapa."
"Aku nggak ken--hmmph."
Jay menahan pergelangan tangan Jungwon dan melumat bibir pemuda itu sedikit kasar. Jay merasakan pipinya yang basah, sontak Jay langsung membuka matanya dan melihat tepat ke dalam mata Jungwon yang menangis.
"Hei, kenapa? Badan kamu sakit?"
Jungwon menutup wajahnya dengan telapak tangan saat Jay sudah melepas cekalan tangannya. Dia terisak keras dan tidak membiarkan Jay mengelap air matanya, tangisan Jungwon membuat Jay kaget dan bingung harus melakukan apa.
"Sini deketan, cerita ayo."
Jay mendudukkan tubuh Jungwon dan memeluk pemuda itu erat. Jungwon semakin memperkeras tangisannya dan meremas punggung Jay guna menyalurkan rasa sakitnya.
Jay membiarkan kemejanya basah dan punggungnya menjadi objek remasan Jungwon. Pemuda itu menangis sampai sesenggukan, itu membuat Jay tidak tega dan merasa kasihan.
Diam-diam Jay selalu membaca artikel tentang kesehatan ibu hamil di ponselnya. Jay tahu kalau ibu hamil itu emosinya tidak stabil, dan sepertinya itu yang sedang terjadi dengan Jungwon.
"Masih nggak mau cerita?" Jay bertanya lembut. Dia bahkan sudah benar-benar mengganti cara bicaranya.
"Hiks, j-jangan tiba-tiba cium. Aku berasa murah banget di depan kamu." Jungwon berucap patah-patah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fiksi Penggemar"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
