Sebelum baca, vote dulu.
Bosen banget liat yang komen itu-itu aja. Sider nggak ada niatan nimbrung di kolom komentar, gitu? Sekali-kali ngehibur yang nulis.
~JENTAKA~
"Makasih, ya, udah mau jagain Mino. Pasti dia bandel banget, terus rewel juga."
Jaemin memeluk Mino yang bergelayut di kakinya, anak itu sangat merindukan Jaemin. Jungwon menggeleng, meski memang Mino itu rewel, tapi Mino yang selalu menghiburnya beberapa hari ini.
"Ini, gue ada oleh-oleh dikit buat lo. Baju, makanan, aksesoris, semuanya ada di situ." Jeno mengulurkan oleh-oleh darinya ke tangan Jay.
Sedangkan Jaemin menenteng dua tas dan memberikannya ke Jungwon. Pemuda itu membuka isi tas dan memekik senang karena isinya adalah baju-baju bayi yang sangat lucu.
"Terimakasih, Kak. Padahal nggak perlu repot-repot beliin ini."
Jungwon membawa tas itu ke sofa dan mengeluarkan satu set baju dari dalam sana. Itu berwarna pastel, sangat soft dan bisa dipakai oleh all gender. Jungwon sangat menyukainya karena terlihat natural.
"Liat tuh bini lo, dikasih baju bayi aja udah seneng banget. Lo ajak dia beli keperluan bayi sana, udah tujuh bulan 'kan?"
Jeno menyikut Jay di sebelahnya. Jay yang sedang memperhatikan Jungwon hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Entah dia mengerti atau tidak perkataan Jeno.
"Anak lo cewek apa cowok, bro?"
"Cowok," jawab Jay.
"Lo lagi berantem pasti sama Jungwon." Jeno menebak, itu karena Jungwon dan Jay yang keluar dari kamar berbeda dan tidak adanya interaksi antar mereka berdua.
Jay tidak menjawab, tapi dilihat dari raut wajahnya itu adalah kebenaran. Jeno mengerti, menikah di usia yang masih sangat muda memang rumit. Mereka berdua masih dalam proses pendewasaan diri sehingga sering kelepasan kontrol emosi.
"Mending kita ngobrol berdua, gue ada tips buat rumah tangga lo." Jeno menepuk pundak Jay sedikit kencang dan berjalan lebih dulu keluar.
Jay menoleh sekilas pada Jungwon yang masih sibuk membicarakan tentang bayi dengan Jaemin. Kalau dipikirkan, sepertinya dia memang harus mendengar nasihat dari yang lebih berpengalaman.
Jay menyusul Jeno keluar dan berdiri di belakang lelaki itu. Jeno duduk di kursi yang ada dan mempersilahkan Jay duduk bersebrangan dengannya.
"Coba cerita dulu, lo kenapa sama Jungwon?"
Jay menarik nafasnya dan menatap Jeno ragu.
"Sebenarnya di sini gue yang salah, gue nggak sengaja bandingin dia sama perempuan." Jay memijit pangkal hidungnya pening.
"Udah minta maaf?"
"Udah, tapi Jungwon nggak mau dengerin penjelasan gue." Jay semakin menyandarkan tubuhnya, dia sudah bingung harus bagaimana lagi cara agar Jungwon tidak mendiaminya seperti ini.
"Bukannya dia nggak mau denger, tapi dia udah muak dan capek ngalah terus." Jeno berkata jujur. Dulu, dia dan Jaemin juga pernah terjebak situasi yang sama dengan Jay, maksudnya bertengkar sampai pisah ranjang.
"Maksud lo?"
"Gini, mungkin Jungwon capek selalu ngertiin lo. Mau usaha sebesar apapun dia, tapi pasti dalam hatinya juga mau dingertiin balik. Kayak contohnya perhatian kecil lo buat dia, perlakuan lo sama dia. Gitu, loh!"
Jeno menjelaskan dengan kata-katanya sendiri. Sebenarnya itu dia dapatkan dari Jaemin, istrinya itu yang bilang seperti itu padanya.
"Sekarang lo pikir, ya. Jungwon lagi hamil, perasaannya sensitif terus emosinya sering naik-turun. Tapi, apa lo sering luangin waktu buat dia? Semacam quality time berdua sambil mikirin tentang masa depan keluarga lo, soal anak kalian."
Jay menggeleng. Seharusnya dia lebih menyisihkan waktu dengan baik untuk menemani Jungwon yang sudah masuk hamil tua. Dua bulan lagi dia akan menjadi ayah, tapi perilakunya masih kekanak-kanakan.
"Nah, itu dia! Jungwon cuma pengen lo lebih nyisihin waktu buat anak kalian. Emang dia nggak pernah bilang, atau ngeluh sama lo minta ini-itu. Tapi Jay, asal lo tau ... Jaemin waktu hamil aja rewelnya sampe ngerusuh satu keluarga besar!"
Jay terkekeh kecil, memang itu bukan rahasia lagi di antara mereka. Saat sepupunya itu hamil Mino, semuanya heboh. Setiap kali Jaemin meminta sesuatu pasti akan dikabulkan, meski itu aneh.
"Mikir, Jay. Gue denger dari Mama Yoon, pernikahan kalian awalnya itu cuma sekedar tanggung jawab lo sama anak di perut Jungwon aja. But, lo sadar nggak sih pernikahan itu lebih dari sekedar tanggung jawab?" Jeno membuka otak Jay lebar-lebar.
"Kasih sayang, cinta, tanggung jawab. Semuanya harus sama rata."
"Rumit, bang. Gue masih ragu buat bilang cinta ke Jungwon."
Jeno menumpukan wajahnya dengan tangan. Dia menertawakan sikap labil Jay di saat seperti ini.
"Lo salah. Kata siapa harus diucapin? Yang penting lo buktiin. Lo care sama dia, lo ada saat dia butuh, itu poin utamanya. Sekarang gue tanya, tau apa lo tentang orang hamil tua?" Jeno memancing.
"Gue sering searching, sih. Ibu hamil tua itu kakinya pada bengkak, gampang capek dan udah nggak bisa pergi jauh-jauh."
"Dasar tolol. Lo padahal udah tau, tapi kenapa nggak peka sama kondisi Jungwon? Diem-diem pasti dia sering banget mijit kakinya sendiri, nahan sakit sendiri. Persepsi lo sebagai suami dimana, hah?!"
Tamparan yang begitu telak. Jay tertegun karena perkataan Jeno benar-benar membuka akalnya lebar. Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk dalam kepalanya, tapi yang paling ingin Jay pertanyakan adalah.
"Apa pernah Jungwon mengeluh padanya?"
Tidak, jawabannya adalah tidak pernah sama sekali. Jay merasa tidak ada kolerasi antara dirinya dan Jungwon. Seberapa banyak hal yang tidak dia ketahui tentang Jungwon?
"Bener, gue tolol banget." Jay menundukkan wajahnya, rasa bersalah itu satu persatu memakan ego serta rasa gengsinya selama ini.
"Sekarang lo balik ke dalem. Omongin baik-baik masalah kalian dengan kepala dingin, jangan kebawa emosi. Api bakal adem kalau nggak dibales pake api juga."
Jay memantapkan niat untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya hari ini. Semuanya harus selesai dan tuntas tanpa ada bentakan atau cacian lagi, kali ini biar dia mengalah dan membiarkan Jungwon meluapkan seluruh rasa kesalnya.
"Thanks, ya, bang. Walau kadang ngeselin, tapi lo berguna juga ternyata."
Jay berkedip jahil dan melenggang pegi ke dalam menyusul Jungwon di ruang tamu. Dia melihat Jaemin yang sudah bersiap-siap pergi setelah mendapat pesan dari Jeno agar memberikan waktu pada Jay dan Jungwon berdua.
"Aku pulang, ya. Kamu baik-baik di sini, kalau butuh sesuatu jangan sungkan bilang sama aku, oke?" Jaemin tersenyum ke arah Jungwon seraya mengelus perut Jungwon sebentar.
"Kalau sampai Jungwon kenapa-kenapa, kamu yang aku potong dua belas bagian," ancam Jaemin pada Jay sebelum pergi pada Jeno yang menunggu di luar.
Tinggal mereka berdua, tidak ada siapapun lagi di rumah selain pasutri itu. Jungwon tergesa membereskan barang-barang yang ada di atas meja dan ingin cepat masuk ke kamarnya, tidak betah rasanya berdua dengan Jay saat situasinya masih panas.
Jay mencekal pergelangan tangan Jungwon, dia menaruh tas yang dipegang pemuda itu dan bertanya dengan raut wajah yang sangat serius.
"Bisa kita bicara sebentar, Nyonya Artabagus?"
~JENTAKA~
Ada yang bisa tebak endingnya di chapter berapa??
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
