26k. Sehari naik seribu pembaca, tapi yang komen itu-itu aja :)
~JENTAKA~
Jungwon membuka mata saat merasakan tangan lembut menyentuh keningnya. Pandangan pertama yang dia lihat adalah mata bening milik suaminya, Jay. Jungwon beruntung sekali memiliki suami seperti Jay, saat dia kelelahan karena mengurus Jean yang rewel sebab tumbuh gigi, ada Jay yang rela izin tidak masuk sekolah demi menggantikan posisi Jungwon bagi Jean.
"Gimana keadaan kamu?" tanyanya.
Jungwon menarik senyum tipis, meski terasa menyakitkan di bagian pipi.
"Aku udah baikan, Jay."
Jay membalas senyuman Jungwon, kemudian dia meraih gelas yang ada di atas nakas.
"Minum, ya?" Jay menyodorkan segelas air putih. Jungwon segera mengangkat setengah tubuhnya untuk duduk dan meraih gelas itu.
"Mau makan buah? Aku kupasin apel, mau?" Jay menaruh kembali gelas tadi dan mengambil apel dan pisau.
"Nggak usah, Jay. Aku bisa sendiri," tolak Jungwon karena merasa baik-baik saja.
Pada dasarnya, dia saja yang saya tahan tubuhnya rendah. Jean berkali-kali lebih rewel dari biasanya karena mulai tumbuh gigi. Usia Jean sekarang sudah sembilan bulan, anaknya itu sudah bisa duduk dan merangkak menghampiri dirinya.
"Jean mana?" tanya Jungwon begitu memakai buah anggur yang disediakan oleh Jay.
"Lagi dijagain Mama, katanya sih biar aku bisa urus kamu yang lagi sakit. Jean juga udah nggak panas lagi badannya, dia sekarang malah suka gigitin mainan yang aku beliin kemarin," jelas Jay menaruh punggung tangannya di kening Jungwon.
"Aku udah nggak sakit, kok. Kamu jangan khawatir begitu, aku cuma kecapean aja karena Jean tiga hari rewel terus," ujar Jungwon menurunkan tangan Jay dari keningnya.
"Maaf, ya. Gara-gara aku, kamu jadi izin sekolah gini," lanjutnya merasa bersalah.
"Hei, kamu nggak usah merasa bersalah. Ini kemauan aku sendiri, kalian itu dunia aku, aku akan lakuin apapun untuk kalian." Jay mengusap pipi Jungwon lembut.
"Dengan perlakuan kamu yang begini, aku makin takut.." gumamnya tanpa sadar.
"Kamu ngomong apa, Jungwon?"
"Nggak, bukan apa-apa. Aku mau liat Jean, kasian dari pagi dia nggak ketemu aku." Jungwon menyingkirkan selimut tebal yang membalut tubuhnya.
"Jean ada di kamar Mama, ayo aku temenin." Jay mengangkat satu tangan Jungwon pada pundaknya. Dia memapah Jungwon menaiki tangga menuju kamar Yoongi yang ada di lantai dua.
Tok.. Tok..
"Ma, Jungwon mau ketemu sama Jean!" Jay mengetuk pintu kamar Mamanya.
Yoongi membukakan pintu kamar dan kembali lagi pada Jean yang bermain di atas karpet bulu dengan berbagai mainan yang berserak di atasnya. Jean pasti banyak merepotkan neneknya, terbukti degan Yoongi yang terlihat kewalahan.
"Aduh.. Maaf, ya, Ma. Jean emang aktif banget, Jungwon jadi ngerepotin Mama."
Jean mendongak, dia melihat keberadaan Jungwon. Jean menenteng mainannya dan merangkak mendekati kaki Jungwon yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat dia duduk sebelumnya. Jean menggigit mainannya di samping kaki Jungwon sambil tangannya menarik-narik ujung celana bahan yang Jungwon kenakan.
Jungwon menunduk dan menyamakan tingginya dengan Jean yang tampak senang dengan kedatangan Jungwon. Dia mengulurkan tangan mungilnya ke depan, mengkode agar Jungwon menggendongnya. Jungwon segera mengangkat bantalan lemak menggemaskan itu pada gendongan dan mencubit pipi gembul anaknya.
Jean tertawa, menunjukkan deret gusinya yang mulai tumbuh gigi.
"Jean udah makan apa, Ma?" tanya Jungwon pada Yoongi yang sibuk membereskan mainan Jean yang berserak di kamarnya.
"Tadi dia makan puree kentang, satu mangkuk kecil habis. Pintar sekali," puji Yoongi.
"Wah, Jean bilang apa sama grandma?" Jungwon memancing agar Jean bicara.
"Mumumumu!" Jean berceloteh tidak jelas.
"Ma, kata Jean terimakasih karena sudah temani Jean main. Iya, 'kan, sayang?" Jean menjawab dengan tawa khas anak bayi, yang mengundang cubitan gemas dari Yoongi dan Jungwon. Jay bahkan merasa dia akan terkena diabetes melitus jika terlalu lama dihadapkan dengan dua buntalan manis seperti Jean dan Jungwon.
"Sama-sama, sayangnya grandma." Yoongi tersenyum lebar kepada Jean.
Jungwon menggendong Jean keluar dari kamar Yoongi diikuti Jay dari belakang. Tadi pagi Jungwon mendadak panas dan memuntahkan semua sarapan paginya, Jungwon juga mengaku tubuhnya terasa sakit karena kurang tidur selama tiga hari kebelakang. Awalnya Jay tidak curiga, tapi begitu dipikirkan ulang dia menjadi menyimpulkan kalau Jungwon sedang...
Hamil?
"Jungwon, kamu ngerasa ada yang aneh sama badan kamu?" tanya Jay ketika mereka sampai di ruang keluarga.
"Nggak, kok. Kamu mikirnya aku hamil, ya?" Jungwon tertawa begitu melihat ekspresi Jay yang terkejut karena Jungwon mengetahui isi otaknya.
"Mama juga udah bilang gitu ke aku. Makanya aku beli testpack, hasilnya negatif. Garisnya satu, aku nggak hamil," papar Jungwon sambil mengajak main Jean yang duduk di pangkuannya.
"Kaget aku. Padahal aku nggak sengaja keluar satu kali di dalam-- aduh!"
"Jay jaga omongan kamu, ada Jean!" Jungwon melotot.
Lagipula Jungwon masih ingin fokus mengurus Jean dengan benar. Jika memang Jay ingin menambah momongan mungkin saat Jean sudah lumayan besar, sehingga mereka bisa memastikan Jean tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Jean melempar mainannya dan menarik baju kaos yang Jungwon kenakan. Dia merengek agar Jungwon membuka sebagian bajunya untuk dia menyusu. Jungwon menghalangi tangan Jean yang ingin mengangkat sedikit kaosnya. Jean justru semakin memperkeras tangisannya, dia menoleh ke arah Jay untuk meminta bantuan.
"Jay, kamu tolong buatin Jean susu, ya. Aku takutnya dia malah nular sakit."
"Tapi dia maunya langsung dari kamu."
"Aku lagi sakit, kalau Jean sakit juga gimana?"
Jay akhirnya mengalah dengan membuatkan susu untuk Jean. Takaran susunya pun berbeda dari awal, jika tadinya Jean memakai botol sangat kecil. Sekarang anaknya itu menggunakan botol susu yang sedang, Jean juga menjadi lebih sering haus dan lapar.
"Makasih." Jungwon mengambil botol susu yang dipegang Jay, kemudian dia sodorkan kepada Jean.
"Jean ngerti, ya, sayang.. Mama lagi sakit, nanti kalau udah sembuh boleh kok nyusu sama Mama lagi. Sekarang jeda dulu, ya."
Jean menatap Jungwon dengan mata bulatnya yang berair. Dia memegang botol susu yang disodorkan Jungwon menggunakan tangan mungilnya, Jean sudah bisa mandiri dengan memegang botol susunya sendiri.
"Pintarnya.. Anak siapa sih?"
"Anak kita," sahut Jay memeluk Jungwon dari samping.
"Pintarnya Jean nurun dari aku, kalau dari kamu nanti bego," sindir Jungwon bercanda.
"Nggak apa-apa bego, yang penting ganteng terus udah nikah sama kamu," ujar Jay melantur. Dia menciumi leher Jungwon manja, sama sekali tidak takut akan tertular sakit.
"Untung beneran ganteng. Coba kalau jelek, kamu udah aku tendang dari daftar Papanya Jean."
~JENTAKA~
Sekedar info, beberapa chapter terakhir nanti, nggak akan up setiap hari XD
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fiksi Penggemar"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
