Santai ... Diresapi tiap deret kalimat dan dialog yang ada di chapter ini, awas nanti kebawa emosi ☕
~JENTAKA~
Langit berwarna merah gelap. Dini hari yang mencurigakan. Gemuruh bersahutan datang dari arah barat, angin berhembus kencang sampai menyesatkan rintik air menuju jendela. Alam yang seperti ini semakin merusuhkan pikiran Jungwon yang sudah kacau.
Baru pukul tiga pagi, masih terlalu dini untuk menghabiskan waktu dengan pikiran yang memberatkan. Percakapan dengan supir pribadi keluarga yang menjemput Jay di bandara masih terngiang jelas dalam kepalanya. Rasanya tidak mungkin.
Tapi kenyataannya, Jay membohonginya. Lelaki itu tidak menampakkan diri saat jam kepulangannya tadi, ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Berkali-kali Jungwon menekan ikon telepon, tapi tidak ada satu pun yang terangkat. Atau, setidaknya tersambung.
Kemana suaminya itu pergi? Seharusnya Jay sudah pulang sejak tadi-tadi.
Jean tertidur satu kamar dengannya. Sudah beberapa hari ini begitu, karena Jungwon kesepian jika tidur seorang diri. Anaknya itu baru terlelap dua jam, mendadak Jean sangat rewel dan terus menggumamkan 'Papa'.
Jungwon menurunkan satu persatu kakinya ke lantai, dia berjalan menuju balkon dan menghirup oksigen di pagi hari yang terasa sejuk. Hujan sudah reda, hanya tinggal menunggu rintik-rintik kecil itu berhenti. Angin dingin serasa menembus kulit sampai ke tulang, tapi itu tidak menyurutkan niat Jungwon untuk mencari ketenangan.
Tenang. Mungkin kata itu hanyalah semu. Otaknya bercabang ke segala arah, termasuk keterlambatan Jay dan kenapa ponsel suaminya itu tidak bisa dihubungi.
"Jay kok nggak bisa dihubungin, ya?" gumam Jungwon lirih.
Kecewa memang ada, tapi yang terpenting adalah Jay pulang dengan selamat. Perasaan takut kehilangan itu tiba-tiba menyeruak kembali, Jungwon jelas tidak tenang jika memikirkan Jay berpaling.
Ponsel di atas meja menyerukan dering dari kejauhan. Jungwon tergesa masuk kembali karena menyangka yang meneleponnya adalah Jay yang ingin meminta maaf sebab pulang terlambat.
Jungwon harus termakan harapannya sendiri karena yang meneleponnya adalah Yoongi. Dia menggeser ke ikon hijau dan menempelkan ponselnya ke telinga.
"Jungwon? Jay sudah pulang? Mama telfon tumben sekali tidak tersambung."
"Belum, Ma. Jay belum pulang dari semalam, Jungwon khawatir dia kenapa-kenapa."
"Anak itu.." Yoongi menggeram marah. Dia terbangun dan tiba-tiba teringin untuk menelfon Jungwon.
"Padahal seharusnya dia sudah pulang sejak sore. Kalau nanti Jay sudah pulang, kabari Mama. Biar Mama tampar wajahnya."
"Iya, Ma. Jungwon tutup, ya?"
Jungwon mematikan panggilan itu dan membawa ponselnya menuju ranjang. Siapa tahu nanti Jay mengabarinya, Jungwon tidak ingin terlewat satupun kabar dari Jay. Dalam hati dia selalu merapalkan jika Jay baik-baik saja. Ponsel Jay mungkin kehabisan daya, sehingga tidak bisa mengabarinya jika dia tidak bisa pulang tadi malam.
Tingg!
Satu notifikasi masuk, berasal dari nomor asing. Dari pop-up terlihat kalau nomor itu mengirimkan sebuah video berdurasi lima belas detik. Sempat ragu, tapi rasa penasaran lebih mendominasi. Akhirnya Jungwon melihat video itu setelah melirik thumbnail-nya yang sebatas layar hitam.
"Ck, sinyalnya lemot banget," sungut Jungwon menaikan ponselnya ke atas. Video itu hanya berputar-putar karena belum selesai diunduh.
"Video apa, sih?" gumamnya penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jentaka ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Denger, ya. Gue cuma mau anak itu yang mati, bukan lo." *** Jungwon Baskara, siswa kelas 2 SMA, anggota ekskul taekwondo yang mumpuni dari segi kepintaran, juga merupakan murid beasiswa. Sebuah kejadian saat acara study tour membuatnya terancam dik...
