21 / Care

4K 540 56
                                        

Sesuripris! Double up <3

Sebelum baca, vote dulu. Komen juga banyak-banyak!

~JENTAKA~

"Saya sangat menyayangkan keputusan ini, tapi Jungwon akan tetap kami keluarkan dari sekolah."

Yoongi menganggukkan kepalanya, dia juga mengerti akan situasi ini. Yang penting Jungwon sudah dinyatakan naik ke kelas tiga, dan sisanya akan dilanjutkan dengan homeschooling.

"Saya mengerti, tapi tolong rahasiakan hal ini untuk seluruh siswa-siswi. Biar kami yang akan mengekspos pernikahan Jay dan Jungwon nanti saat situasinya sudah tepat."

Yoongi mengajukan permohonan pada pihak sekolah, tentu saja mereka menyetujui permohonan Yoongi. Bagaimanapun reputasi sekolah ini akan ikut tercoreng bila kabar kehamilan Jungwon tersebar ke penjuru sekolah.

"Dan untuk Jay, dia akan saya pindahkan ke sekolah lain. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika selama ini Jay merepotkan kalian."

Yoongi memangku dua buku rapor tebal bersampul abu-abu seraya tersenyum manis. Kira-kira setengah jam lalu dia baru saja selesai menghadiri pembagian rapor anak dan menantunya itu.

"Semoga Jay bisa mendapatkan sekolah yang cocok dengannya."

Yoongi beranjak dari duduknya, dia berdiri sambil memberikan rapor itu ke Jay di sebelahnya. Lelaki itu terkejut, sebab tadi dia sedang memainkan game di ponselnya.

"Tapi, meskipun Jay sudah keluar, saya akan tetap menjadi donatur di sekolah ini."

Kepala sekolah ikut berdiri dan menjulurkan tangannya ke depan untuk berjabat tangan dengan Yoongi. Sebenarnya dia tidak rela kalau Jungwon harus keluar dari sekolah ini akibat ulah Jay, tapi apa boleh buat. Jungwon sedang hamil dan harus memiliki banyak waktu luang.

"Baiklah, saya permisi. Terimakasih karena bapak sudah meluangkan sedikit waktu untuk kami."

"Sama-sama. Tolong sampaikan salam saya untuk Jungwon."

Yoongi menunjukkan jempolnya dan keluar dari ruangan kepala sekolah. Dia menarik tangan Jay sedikit kuat menuju parkiran, Jay mengikuti langkah lebar Yoongi di depannya dengan malas.

"Aduh! Kenapa sih, Ma?" Jay menahan tangan Yoongi yang memukuli dirinya dengan brutal.

"Nilaimu itu loh.. Pas KKM semuanya!" Yoongi menunjukkan rapot Jay.

Jay mendecak dan melirik ke arah supirnya yang ketahuan diam-diam tertawa.

"Bapak nyetir yang bener, jangan ketawa mulu."

Yoongi menggeplak kepala bagian belakang Jay dengan rapot di tangannya. Sebenarnya Jay itu menuruni gen siapa sih? Perasaan dia dan Jimin tidak sebodoh ini di sekolah dulu.

"Kena lagi.." Jay mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya.

Yoongi menggelengkan kepala, usia anaknya memang masih sangat muda. Wajar kalau Jay masih labil dan bersikap kekanakan, tapi masalahnya adalah Jay akan menjadi ayah sebentar lagi. Anaknya itu harus mengurangi sikap semena-menanya dan belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa untuk menjadi kepala keluarga.

"Kalau anakmu lihat, Mama yakin dia pasti malu punya orang tua bego sepertimu."

"Biarin, yang penting nanti dia harus nurunin kegantengan Jay."

Sudahlah, bicara hal serius pada Jay hanya akan membuang waktunya lebih lama. Anak ini terlalu santai dalam menghadapi masalah, tak heran sampai pernah menyuruh Jungwon menggugurkan anaknya sendiri.

"Kamu itu harus lebih dewasa, Jay. Sebentar lagi kamu jadi Ayah, panutan anak kamu," ucap Yoongi serius.

Jay merasakan atmosfer yang berbeda saat Yoongi mulai membawa-bawa tanggung jawabnya kelak. Meski berat, tapi ini adalah sebuah keharusan yang tak boleh Jay anggap candaan. Yoongi benar, dia harus mendewasakan diri dan lebih meluangkan waktunya untuk Jungwon-- untuk anaknya juga.

"Jay nggak janji, tapi Jay bakal usahain yang terbaik buat keluarga Jay nanti."

"Mama tunggu usaha kamu, Jay."

***

Jay melihat gelagat yang aneh dari para asisten rumah tangganya yang terus menunduk. Raut wajah mereka terlihat seperti menahan sesuatu, menyembunyikan lebih tepatnya.

"Jungwon."

Jay membuka pintu kamarnya dan memanggil Jungwon, rupanya sang pemilik nama sedang bersandar sambil memainkan ponselnya. Saking asyiknya Jungwon bermain ponsel, dia tidak menyadari kehadiran Jay yang sudah ada tepat di sampingnya.

"Won?"

Jungwon langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Dia merapikan sedikit bajunya yang tersingkap sebatas perut dan berdehem untuk menghilangkan rasa gugup. Sejak kapan Jay di sini?

"Eh, tadi aku baca di grup kelas. Katanya bakal ada guru pengganti Bu Gita, ya?"

Jungwon mengalihkan topik pembicaraan dengan baik, dia menjadikan topik guru pengganti ganteng yang sedang hangat di grup angkatan.

"Oh itu ... Kayaknya sih bener, soalnya tadi gue nanya kepsek katanya bakal ada guru cowok baru."

Jungwon menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia juga sudah tahu. Namun, tadi itu situasi darurat sekali. Bahaya kalau Jay mengingat lagi apa yang dia mainkan tadi.

"For your information, art rumah hari ini aneh banget. Lo tau nggak mereka kenapa?"

Tertutup masalahnya yang satu, kini Jay menanyakan masalah yang kedua.

"A-aku mau cerita, tapi janji jangan marah, ya."

"Tergantung."

Jungwon cemberut, dia mengambil bantal dan menaruhnya di atas paha. Jungwon menumpukan tangannya di atas bantal seraya menopang kepala.

"Aku tadi jatuh, tapi nggak apa-apa kok, serius!"

Jungwon menampilkan raut wajah yang sangat meyakinkan, tapi meski begitu tetap membuat Jay terkejut dan memegang pundak Jungwon dengan kedua tangannya.

"Jatuh di mana? Keras nggak? Ada yang sakit? Berdarah?"

Pertanyaan itu beruntun keluar dari mulut Jay, dia meneliti penampilan Jungwon dari atas sampai ke bawah. Dia takut terjadi sesuatu dengan pemuda itu yang disembunyikan dalam kata 'nggak apa-apa', jika mamanya tahu bisa bahaya!

"Ihhh kan aku bilang nggak apa-apa, cuma kepeleset sedikit waktu jalan ke depan.."

"Tapi tetep aja jatuh!" Jay menaikan nada bicaranya. Sekarang dia menjadi lebih protektif dengan kandungan Jungwon, anggap saja penebusan dosa karena pernah menginginkan anaknya mati, dulu.

"Sekarang ganti baju lebih tertutup, gue tunggu di luar lima belas menit dari sekarang."

Jay berkata, lalu beranjak pergi meninggalkan Jungwon. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Jungwon bertanya dengan nada berteriak.

"Kenapa aku harus ganti baju? Emangnya kita mau kemana?!"

Jay membalikkan badannya. "Ke dokter kandungan, kita cek kandungan sekalian liat jenis kelamin anak lo."

Jungwon terpaku di tempatnya, jadi Jay benar-benar khawatir pada anaknya? Dia kira Jay hanya berpura-pura peduli karena masih ada di lingkungan rumah.

"T-tapi serius aku baik-baik aja, Jay."

"Nurut aja apa kata suami. Mumpung kita berdua ada waktu luang, jadi gue mau nemenin lo bulan ini."

~JENTAKA~

Follow, ya! Biar nggak ketinggalan info cerita Jaywon terbaru, soalnya tahun depan aku mau publish dua cerita--gatau kalo nanti--hihiw.

Aku tunggu notifnya <3

Jentaka ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang