39 / Forever

3.1K 404 40
                                        

Double update. Komen.
Thanks 6k votesnya!

~JENTAKA~

Jungwon terbangun saat matahari sudah terbenam seluruhnya di ufuk barat. Cahaya rembulan menyelinap malu-malu melewati tirai jendela yang dibiarkan sedikit terbuka. Jungwon mengerjapkan matanya sejenak dan mengalihkan pandangan ke penjuru ruangan yang tampak sepi.

Cklek..

Pintu terbuka memperlihatkan Jay dengan nampan berisi makanan dan minuman di atasnya. Jay menaruh nampan itu di atas nakas dan tersenyum ke arah Jungwon.

"Udah mendingan?" Jay membantu Jungwon duduk.

"Emangnya aku kenapa?" Jungwon balik bertanya.

"Kamu pingsan tadi sore. Aku panik banget sampe nelfon dokter pribadi keluarga. Eh, taunya cuma kecapean aja, badan kamu nggak kuat abis kontraksi."

"Sekarang ayo makan, kamu belum makan apapun dari siang." Jay mengambil piring berisi nasi yang dia bawa.

"Buka mulutnya." Jay menyuapkan satu sendok nasi beserta lauknya. Dia bahkan tidak ragu untuk meniup pelan nasi itu jika masih panas.

"Makannya pelan-pelan aja, kalau kurang nanti aku ambilin lagi. Masih banyak di meja makan." Jay terus menyuapkan makanan itu hingga tersisa sebagian.

"Buka mulut lo."

Jungwon bergeming sebentar karena terkejut, apa Jay sedang sakit? Kenapa perilakunya berubah? Dia membuka mulutnya dengan ragu saat sendok berisi bubur itu mengarah pada mulutnya. Dia mengunyah bubur itu pelan dan menelannya.

"Makan yang banyak biar cepet sembuh, terus nggak nyusahin gue lagi."

"Kamu juga makan." Jungwon mengambil satu sendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Jay.

Jay menahan tangan Jungwon yang ingin menyuapkan bubur. "Jangan, gue nanti muntah lagi."

Sekelebat ingatan itu hadir dan mengingatkan dirinya tentang awal pernikahan mereka. Saat Jay masih bersikap dingin dan perduli di saat yang bersamaan. Dia merasakan pipinya basah karena menangis, Jungwon segera menghapusnya karena tidak ingin Jay khawatir.

"Kenapa? Makananya kurang enak?" Jay bertanya karena Jungwon terlihat memandangi dirinya tanpa berkedip.

"Aku nyusahin kamu terus, ya?" Bukannya menjawab, Jungwon justru bertanya hal random pada Jay.

"Kamu ngomong apa sih? Ngaco banget." Jay menaruh piring bekas makan Jungwon di atas nakas.

"Aku ngerasa nyusahin kamu terus. Buktinya sekarang aku udah nggak bisa jalan jauh, sering tumbang begini. Sakit-sakitan." Kepalanya tertunduk semakin jauh, Jungwon hanya takut jika Jay lelah dengannya.

"Mulai sekarang mending kamu kurangin nonton drama nggak jelas. Kamu sama sekali nggak nyusahin aku, Jungwon. Kamu susah begini juga karena ulah aku." Jay mengelap air mata di sudut mata Jungwon dengan ibu jarinya. Bibirnya menarik senyuman tipis dan menggenggam tangan Jungwon yang basah oleh keringat.

"Yang bener itu kamu lebih susah daripada aku. Stop berfikiran negatif, kamu bisa minta apa aja selagi aku mampu."

Jungwon mengulurkan kedua tangannya, mengkode Jay agar memeluknya. Jay menarik Jungwon pada pelukan, dia mengusap-usap punggung Jungwon dan membiarkan Jungwon menangis tanpa suara di dadanya.

"Sebentar lagi kita jadi orang tua. Aku jadi ayahnya, kamu jadi ibunya.." gumam Jay di telinga Jungwon.

"Jadi, ayo belajar mengubah sifat buruk kita dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk dia nanti."

"Jay.. Jangan terlalu serius, aku kaget dengarnya," ucap Jungwon menyandarkan kepalanya di bahu Jay.

"Kok gitu?" Jay juga ikut menyandarkan kepalanya di bahu Jungwon.

"Iya, kamu berubah banget sekarang. Aku inget deh waktu kamu marah-marah ke aku cuma karena aku nggak sengaja nendang pulpen kamu keluar kelas."

"Daritadi aku nanya ke diri aku sendiri. Ini bener Jay? Jay yang nyebelin satu sekolah itu? Aku masih nggak percaya kalo orang di depan aku sekarang ini adalah orang yang sama. Aku bangga sama kamu, Jay."

Jungwon melingkarkan tangannya pada punggung tegap Jay dan menyembunyikan wajahnya di leher suaminya itu. Jungwon mengucapkan terimakasih pada Jay karena sudah bisa menerima kehadiran anak mereka serta mengubah pola pikirnya menjadi lebih dewasa. Perubahan besar seperti itu harus diberi apresiasi agar semakin berkembang.

"Kamu nggak perlu bilang makasih, ini udah kewajiban aku sebagai suami dan ayah bagi anak kita. Mau seberat apapun rintangan aku diluar, aku akan tetap pulang ke kalian. Ke rumah aku yang sebenarnya."

"Jay hiks kamu ganteng banget kalo bijak begini.."

"Cup, cup. Iya aku emang ganteng, tapi kamu nggak usah sampe nangis-- aduh, sakit Jungwon!" Jay mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Jungwon.

"Jangan kepedean, ya!" Jungwon bersungut. Bukannya terlihat menyeramkan, justru Jungwon sangat terlihat menggemaskan dengan bibir yang tertekuk ke bawah.

"Kalau diingat-ingat ternyata kita dari awal ketemu itu berantem terus, loh. Nggak di kantin, nggak di kelas, di luar sekolah juga sama aja. Tapi, ternyata kita malah jadi suami-istri begini, takdir Tuhan itu lucu banget." Jay tertawa hambar di akhir kalimatnya.

"Kita berantem juga karena kamu yang mulai. Pokoknya kamu itu nyebelin banget, mana kalo lewat di depan aku sok ganteng. Cih, makan tuh famous-famous nggak berguna," sindir Jungwon dengan nada cemburu.

"Kamu mau tau satu rahasia aku nggak?" Jay melepas pelukan keduanya. Dia menyandarkan Jungwon dengan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung Jungwon.

"Apa?" Jungwon menyahut sembari mencari posisi nyaman untuknya bersandar.

"Aku sering berantem sama kamu itu bukan tanpa alasan, Jungwon. Aku cuma nggak suka kamu deket sama Hesa." Jay menatap Jungwon dari samping.

Jungwon yang mendengar itu reflek menoleh ke arah Jay dengan tatapan tanya. Sejujurnya dia hanya bingung, Jay bilang tidak suka jika dia dekat dengan Heeseung. Apa jangan-jangan Jay cemburu?

"Aku nggak ngerti, perasaan kamu terlalu rumit. Kamu marah kalau aku deket sama Hesa karena nggak suka? Kamu juga diemin aku berhari-hari cuma karena Hesa. Sebenernya perasaan kamu buat aku itu gimana? Jangan bikin aku bimbang, Jay." Jungwon berkata lirih. Jay seperti menarik-ulur hatinya, kadangkala bersikap manis dan bisa saja mendiaminya begitu saja.

Mungkin ini adalah saatnya Jungwon tahu tentang perasaannya. Jay menarik nafas dan menghadapkan wajah Jungwon agar melihat ke arahnya.

"Aku cinta kamu, Jungwon. Aku pengecut karena nggak berani bilang ini dari dulu. Dan soal aku yang nggak suka kamu dekat sama Hesa, itu karena aku cemburu. Sekarang kamu udah ngerti perasaan aku buat kamu, 'kan?"

Degg..

"S-sejak kapan?" Jungwon terbata.

"Sejak kamu kelas sepuluh. Aku harap kamu nggak benci aku setelah ini."

"Buat apa aku benci kamu? Justru aku seneng banget kamu jujur begini. Itu berarti, waktu kita ngelakuin itu, kamu udah cinta sama aku. Makanya Tuhan nyatuin kita lewat anak ini, walau awalnya karena kesalahan." Jungwon tersenyum sangat manis dan membelai wajah sampai rahang Jay.

Jay menahan tangan Jungwon dengan tangannya. Dia mengyelipkan jari-jari mereka hingga bertautan, kemudian dibawa mendekat ke arah bibirnya untuk dikecup lembut. Jungwon menatap Jay, kemudian berkata sesuatu sebagai balasan dari pengakuan cinta Jay barusan.

"Aku juga cinta kamu ... Jangan pernah tinggalin aku, ya?" balas Jungwon.

"Nggak akan pernah. Selamanya hati aku cuma buat kamu, Jungwon."

~JENTAKA~

Chapter depan 40 aww.
Siapin diri kalian, besok kita nambah anggota baru! 👀

Jentaka ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang