Kamis, 05 Oktober 2023.
Theta perlahan mulai siuman dari tidur panjangnya. Sorotan matahari pagi dari jendela di sebelahnya membuatnya sulit untuk membuka matanya. Ia pun berbalik menghadap ke arah berlawanan dan tampak sesosok wanita yang menunggunya. Di saat penglihatannya mulai jelas, ia bisa melihat wajah Kania yang tampak lega menatap dirinya.
"Kania? Ini... di rumah sakit, ya?" tanya Theta melihat sekelilingnya pelan.
"Iya...," jawab Kania tersenyum lembut, tetapi dengan tatapan yang begitu sayu.
Theta mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya, tetapi seketika seluruh tubuhnya terasa ngilu.
"Jangan banyak bergerak dulu, Ta," kata Kania dengan lembut mendorong badan Theta untuk kembali baring ke posisi semula. "Jangan memaksakan dirimu dulu. Istirahat saja untuk beberapa hari ini."
"Kamu... tidak berangkat kerja hari ini?" tanya Theta memperhatikan jam dinding yang menunjukkan jam 7.
"Huft... kamu dalam kondisi seperti ini pun masih saja khawatir dengan orang lain," keluh Kania dengan kebiasaan Theta yang menurutnya tidak berubah sejak dulu. "Sebentar lagi aku mau berangkat, kok. Selama tidak ada yang menjagamu, kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh, ya."
Theta mengangguk pelan menuruti pesan dari Kania. Sesaat Kania bangkit dari kursinya, Theta kini bisa melihat sweater-nya yang terbentang di senderan kursi yang barusan diduduki Kania.
"Kan, boleh minta tolong ambilkan sweater-ku di kursi itu?" pinta Theta menatap ke arah sweater-nya.
"Ini... sweater-mu...?" tanya Kania tiba-tiba muram.
"Iya. Bisa sekalian dilipat dan ditaruh ke meja sebelah sini? Kalau dibiarkan di situ nanti malah kusut disender-sender orang lain," pinta Theta sambil menepuk-nepuk meja di sebelahnya.
Kania hanya mengangguk pelan dan melipat sweater itu, lalu meletakkannya sesuai dengan permintaan Theta. Hanya dengan mengucapkan salam, Kania langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi kepada Theta.
Theta merasa heran dengan Kania yang pergi begitu saja. Kania yang ia kenal memang sangat pendiam, sehingga sulit untuk menebak apa yang ada di pikirannya. Namun, jika sudah ditambah dengan perilaku yang tidak biasa, itu berarti ada yang tidak beres dengan perasaannya.
Tidak ingin terlalu memikirkannya di tengah kondisinya saat ini, Theta lebih memilih untuk istirahat kembali. Namun, baru saja ia ingin memejamkan matanya, ia mendengar pintu bergeser dengan langkah seseorang yang mendekatinya.
"Sehat?" tanya Diana bertolak pinggang.
"Tentu saja tidak," jawab Theta menatap Diana datar. "Kenapa kamu tidak ke sekolah?"
"Kontrak pekerjaan utamaku itu menjagamu, apa kamu lupa? Ditambah aku juga dokter di rumah sakit ini," balas Diana tampak cemberut.
"Aku serasa dihantui," kata Theta pelan, tetapi terdengar oleh Diana.
"Ngomong apa barusan?" tanya Diana dengan mencubit keras kaki Theta.
Di tengah kondisi mereka yang begitu berisik, sekali lagi pintu bergeser dengan kedatangan Gamma yang seketika sungkan untuk terlibat dengan mereka berdua. Namun, sesaat Gamma ingin keluar, kerah baju belakangnya sudah ditarik oleh Diana hingga dirinya tercekik.
"Mau pergi ke mana lagi kamu, Gamma?" Tanya Diana meninggi.
"Ke mana saja, asalkan tidak ada kamu," jawab Gamma blak-blakan, seketika kerahnya ditarik semakin kencang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Faith in You : The Seeker
FantasyKehidupan yang kamu dambakan itu... Dengan mudahnya lenyap tepat di hadapanmu, Tidak ada harganya lagi. Frustrasi? Depresi? Bukan... Kata-kata tidak dapat mewakili perasaanmu kala itu, Bisa hidup setelah semua itu terjadi pun... Sungguh merupakan su...