Satu per satu anak tangga Theta langkahi dengan tenang. Inaya yang berada di belakangnya terus terfokus menatap ke arah hawa sihir di atasnya yang sama sekali tidak berpindah tempat, seakan telah menanti kehadiran mereka berdua.
Meskipun Inaya siap, ia tetap saja merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi nantinya. Tidak hanya soal tindakan apa yang akan diambil oleh Theta, namun juga soal kebenaran lainnya yang bahkan Gamma pun tidak diberitahu.
Sesampainya mereka di lantai tepat di mana hawa sihir itu berasal, mereka bisa melihat Edel dari kejauhan yang sedang berdiri di depan pintu yang mengarah ke teras balkon rumah sakit.
Tanpa ada keraguan, Theta berjalan tenang mendekati Edel yang terlihat tertunduk dan sedikit memalingkan wajahnya. Hingga tepat di hadapan Edel, Theta hanya berdiri diam menanti Edel sendiri yang mulai bicara.
"Apa kamu yakin... dengan pilihanmu ini, Ta...?" Tanya Edel pelan.
"Apa yang aku cari adalah sebuah kebenaran. Apa pun yang terjadi pasti akan ada jalan keluarnya, dan itu lebih baik daripada membiarkan makhluk yang seharusnya tidak ada di dalam diri kita ini terus membuat kerusakan." Jawab Theta tenang.
"Jadi... kamu sudah tahu, ya...?" Kata Edel tetap tidak berani menatap Theta.
"Tidak sepenuhnya." Jawab Theta menatap langit-langit ruangan. "Beritahu aku, ada berapa pecahan Roh Sihir Utama selain kita bertiga?"
Edel bergeming tidak langsung meresponsnya. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum memberanikan dirinya untuk menjawab.
"Lima." Singkat Edel.
Theta menghela nafasnya cepat.
"Kalau begitu semuanya jadi masuk akal." Kata Theta kini berjalan mendekati pintu yang berada di belakang Edel.
Tepat sebelum Theta membuka pintu itu, ia menundanya sejenak dengan memberi dua lembar kertas yang berisikan pesan Asih dan peta buatan Edel.
"Lain kali kalau mau menjadi pembohong yang lebih andal lagi, coba ganti dulu gaya tulisanmu yang unik itu." Sindir Theta membuat Edel tidak berkata apa-apa lagi. "Nanti kita bicara lagi setelah ini. Aku harap kali ini kamu tidak pergi ke mana-mana lagi."
Inaya tidak begitu mengerti dengan apa yang Theta dan Edel bicarakan, namun ia merasa iba melihat Edel yang tampak gemetar menahan air matanya yang mengalir.
"Susul Theta, Nay..." Kata Edel sambil mengusap kedua matanya. "Ada yang harus kamu saksikan juga di sana...."
Inaya mengangguk pelan, lalu menyusul Theta yang tampak sedang menunggunya juga. Dari kejauhan, Inaya bisa melihat seorang wanita yang memegang pagar pembatas sambil melihat pemandangan kota.
"Dia... siapa, Ta...?" Tanya Inaya memegang dadanya pelan, merasakan sesuatu yang familier di dalam benaknya.
Theta menghela nafasnya sejenak, lalu mengambil langkah pelan ketika mendekati wanita itu.
"Lama tidak berjumpa..., Asih...." Kata Theta tenang.
Asih seketika menoleh ke arah Theta dengan wajah terkejut, dan dengan cepat pula ia memalingkan wajahnya dari Theta.
"Jika Edel membiarkanmu lewat..., artinya kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya, bukan...?" Tanya Asih memastikan.
"Ya." Singkat Theta mengangguk pelan.
Asih mengepal kedua tangannya gemetar, lalu mencoba untuk menatap Theta.
"Aku... sudah mengingat semuanya. Aku juga mengingat... kejadian kabut tebal 10 tahun yang lalu...." Kata Asih seketika membuat mata Inaya melebar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Faith in You : The Seeker
FantasyKehidupan yang kamu dambakan itu... Dengan mudahnya lenyap tepat di hadapanmu, Tidak ada harganya lagi. Frustrasi? Depresi? Bukan... Kata-kata tidak dapat mewakili perasaanmu kala itu, Bisa hidup setelah semua itu terjadi pun... Sungguh merupakan su...