Jumat, 20 Oktober 2023.
"Huft... Bu Lisa suka banget mendadak-dadak kalau ada perlu sesuatu. Aku belum sempat sarapan lagi," keluh Diana sambil mengelus perutnya pelan.
"Aku juga belum, Na. Sepulang dari bantu-bantu shift malam aku langsung datang ke sini," balas Ulya ikut mengelus perutnya.
"Tapi tumben Bu Lisa memanggil kita berdua sekaligus, apa mungkin ada hubungannya dengan pekerjaan kita, ya?" kata Diana mengira-ngira. "Aku sih berharap ada hubungannya dengan gaji atau tambahan akomodasi UKS."
"Ahaha... kalau aku tidak mau terlalu berharap lebih, sih. Setidaknya aku harap bukan hal yang buruk," balas Ulya.
Hingga ruang staf guru mulai terlihat dari kejauhan, mereka juga melihat Theta yang sudah berada di depan pintu ruang staf.
Belum sempat Ulya memanggil Theta, fokusnya justru teralihkan ke arah Inaya yang baru saja keluar dari ruang staf. Dari sudut pandang Ulya, Inaya tampak terkejut dan panik saat melihat Theta, kemudian dengan cepat pula Inaya pamit dan langsung berlari meninggalkan Theta.
"Mmm... mereka berdua kenapa, ya?" tanya Ulya heran, sementara Diana geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
"Kenapa tidak tanyakan saja langsung ke orangnya?" saran Diana sembari mendekati Theta.
Theta menoleh ke arah Ulya dan Diana. "Apa kalian dipanggil Bu Lisa juga?"
"Iya. Kamu juga dipanggil, Ta?" balas Ulya memastikan.
"Begitulah, sepertinya beliau akan membahas sesuatu yang merepotkan," jawab Theta sudah berprasangka buruk.
"Huft... pupus sudah harapanku kalau kamu juga ikut terlibat," keluh Diana sambil menyindir Theta.
"Sejak kapan aku menjadi penghambat harapanmu?" tanya Theta menatap Diana datar.
"Ahaha... sudah, sudah. Ayo kita tanyakan saja langsung ke orangnya," ajak Ulya menengahi mereka berdua.
Mereka memasuki ruang staf dan berlanjut ke ruang kepala sekolah. Mereka berdiri sejajar mendengarkan apa yang sebenarnya ingin Lisa ungkapkan. Apakah kenaikan gaji untuk Diana? Sayangnya harapan itu jauh dari kata terwujud.
"Menjadi wali murid dalam studi tur?" tanya Ulya bingung.
"Nah, kan...," singkat Theta sudah menduganya.
"Kalau kamu sudah terlibat, pasti yang terjadi bukanlah hal yang baik," sindir Diana.
"Masih juga membahas soal tadi?" balas Theta kembali menatap Diana datar.
"Huft... kalian selalu saja seperti ini," keluh Lisa dengan kebiasaan bertengkarnya Theta dan Diana yang tidak tahu tempat.
"Tapi kenapa harus kami, Bu? Lalu siapa yang akan menjaga UKS nantinya?" tanya Ulya mempertimbangkan.
"Sebagian guru harus tetap di sini, dan ada 3 kelas yang walinya masih banyak jam mengajar besok. Soal UKS tidak perlu terlalu dipikirkan, ditinggal sehari saja tidak masalah. Justru aku lebih mengkhawatirkan hal-hal tidak terduga yang bisa saja terjadi saat studi tur nanti," jawab Lisa.
"Sepertinya anda sudah mempertimbangkan segalanya," kata Theta tersenyum tipis, sementara Ulya tidak mengerti maksud dari ucapannya.
"Tentu saja, tapi di antara kalian bertiga, kamu sebenarnya hanyalah opsi terakhir, Ta," sindir Lisa, seketika membuat Diana tertawa lepas.
"Ya, ya, aku hanyalah sisa," keluh Theta menghembus napasnya kesal.
"Baiklah, mungkin itu saja yang bisa aku sampaikan saat ini. Selebihnya kalian akan tahu besok pagi bersama wali lainnya. Terima kasih sudah menyempatkan waktu kalian kemari," kata Lisa kemudian mengizinkan mereka keluar kecuali Diana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Faith in You : The Seeker
FantasyKehidupan yang kamu dambakan itu... Dengan mudahnya lenyap tepat di hadapanmu, Tidak ada harganya lagi. Frustrasi? Depresi? Bukan... Kata-kata tidak dapat mewakili perasaanmu kala itu, Bisa hidup setelah semua itu terjadi pun... Sungguh merupakan su...