11 - Memories That Once Existed

26 2 4
                                    

Sabtu, 16 November 2013.

"Ini... di mana...?" tanya Inaya sesaat membuka matanya pelan.

Inaya kemudian bangkit dan memperhatikan sekelilingnya cemas. Di hari yang cukup terik, ia kini berada di tengah suasana yang cukup ramai oleh orang-orang yang berjalan melewati gerbang panjang dengan gapura yang besar.

"Kamu berada di dalam ingatanmu yang terlupakan," kata suara itu yang kini berada di sebelah Inaya.

Inaya terkejut ketika melihat sumber suara itu dengan wujud seperti bola yang melayang di udara dan dikelilingi oleh angin kencang. Ia mengelus dadanya pelan, ia cukup takut dengan sosok sejenis hantu.

"Jangan takut, aku tidak akan menggigitmu," kata suara itu dengan nada bercanda, spontan Inaya kehilangan rasa takutnya. "Kenapa? Apa candaanku barusan tidak bagus? Padahal aku mempelajari itu dari kehidupan sehari-hari kalian, loh."

"Itu tidak penting," keluh Inaya menghembus napasnya pelan. "Sebenarnya kamu ini siapa dan apa? Lalu apa yang ingin kamu tunjukkan padaku di sini?"

"Baiklah, lupakan soal candaan tadi," jawab suara itu kemudian kembali dengan nada serius. "Kami tidak punya nama yang pasti, jadi kamu bisa memanggilku Roh Udara, atau Dara saja."

"Roh Udara..., berarti yang dicari Theta selama ini...," kata Inaya menatap Dara tidak percaya.

"Soal Theta akan aku jelaskan nanti." Dara kemudian melayang ke belakang Inaya. "Sekarang coba perhatikan dari arah belakangmu."

Tidak lama, matanya seketika melebar melihat seorang anak perempuan berlari menggendong ransel tebal dan terkesima saat melihat gerbang gapura itu. Inaya geleng-geleng kepala tidak percaya. Ia melihat dirinya sendiri dalam wujud ketika ia masih SMA.

"Di-Dia itu... aku...?" tanya Inaya kemudian memegang kepalanya yang terasa sakit.

"Bagaimana? Apa kamu mulai mengingatnya? Dia adalah kamu 10 tahun yang lalu," ungkap Dara mencoba meyakinkan Inaya. "Perhatikan apa yang terjadi berikutnya. Perlahan kamu pasti akan mengingat semuanya."

Inaya pun ikut memperhatikan dan mengikuti arah perginya dirinya sendiri yang masih muda itu, dirinya yang kala itu sangat aktif dan antusias dengan acara yang ada di hadapannya.

Perlahan Inaya mulai mengingat di mana ia berada saat ini, yaitu lokasi pertandingan bela diri dalam acara pekan olahraga. Ia sekali lagi memasang wajah tidak percaya sambil memegang dadanya pelan. Terlebih karena acara ini diadakan di Stratas Pulau, yaitu kota di mana Theta berasal.

Kali ini Inaya berada pada ruang terbuka yang sangat luas tepat sebelum memasuki gedung olahraga yang sudah dipenuhi ribuan manusia yang lalu lalang. Ia mendapati Inaya muda yang terdorong sana-sini hingga kacamatanya terjatuh.

"Aduh..., kacamataku...," kata Inaya muda meraba-raba tanah di tengah keramaian.

Di kala Inaya muda mencari kacamatanya, tiba-tiba ransel beserta dirinya ditarik oleh seseorang dari belakang sampai membuatnya terperanjat. Usai tarikan itu berhenti, spontan ia menendang ke arah belakang hingga terasa adanya respons tangkisan dari orang tersebut.

"Hentikan! kamu salah paham!" seru orang itu, lalu menyerahkan kacamata yang dicari-cari Inaya muda.

"Ka-Kacamataku...," kata Inaya muda langsung mengambil kacamatanya.

Sesaat Inaya muda memakai kacamatanya kembali, kini di hadapannya terlihat jelas seorang lelaki yang menatapnya datar.

"Merangkak di tengah keramaian itu berbahaya, yang ada kamu nanti malah terinjak-injak," kata lelaki itu tampak mengelus-elus lengan kirinya.

Faith in You : The SeekerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang