Kamis, 26 Oktober 2023.
Pagi itu, walaupun Theta dibolehkan untuk istirahat dalam sehari di apartemennya, ia tetap datang ke sekolah untuk menemui Bu Lisa. Ia tidak mau membuang-buang waktu lagi, karena baginya masih banyak informasi yang perlu ia telusuri kembali.
"Apa kamu memaafkanku...?" Tanya Lisa usai menjelaskan situasinya yang sebenarnya kepada Theta.
Theta menghela nafasnya lega.
"Anda tidak perlu minta maaf, karena bagiku rahasia anda tidak sebanding dengan segala dukungan yang anda berikan selama ini." Kata Theta tersenyum tipis. "Dan justru aku merasa bersyukur karena tujuan kita sejalan dan saling membantu satu sama lain."
Lisa kini ikut menghela nafasnya lega.
"Kamu ini, malah lebih pemaaf dibanding Alif. Kalau Alif pasti sudah memarahiku dulu." Kata Lisa malah mengeluh.
"Aku ya aku, Pak Alif ya Pak Alif. Lagi pula beliau marah juga karena sayang dengan anda." Kata Theta santai.
"Ja-Jangan sembarang bicara!" Seru Lisa gelagapan.
Lisa mengalihkan pembahasan dengan memberikan Theta semacam berkas yang tidak begitu tebal.
"Karena aku tidak perlu merahasiakannya lagi, mungkin ini bisa sedikit membantumu. Berkas itu berisi data nama pendatang dari Stratas Pulau yang menetap di kota ini dari 10 tahun yang lalu."
Theta membuka isi berkas itu dan membacanya cepat. Satu per satu wajah yang ia lihat semuanya adalah orang asing, kecuali hanya orang-orang yang memang sudah pernah ia temui di kota ini.
"Seth, 2017. Kyou, 2018. May, 2019. Ulya, 2020. Kania, 2021. Diana, 2022." Kata Theta menyebutkan nama dan juga tahun kedatangan mereka.
"Apa ada yang kamu curigai?" Tanya Lisa.
"Mungkin saja." Kata Theta kemudian meletakkan berkas itu di atas meja. "Tapi aku merasa pesan Pak Alif itu memiliki makna yang lebih kompleks."
"Maksudnya?" Tanya Lisa tidak mengerti.
"Aku belum begitu yakin. Jadi aku belum bisa mengatakannya sekarang." Jawab Theta mengelus dagunya pelan.
Lisa mengangguk pelan, memaklumi alasan Theta.
"Oh, aku hampir lupa. Sabtu nanti bakal ada acara perayaan ulang tahun sekolah yang kesebelas. Orang-orang dari luar sekolah juga akan hadir meramaikan acara ini."
Theta mengangguk-angguk paham, karena sebelumnya ia melihat murid-murid yang sibuk mengerjakan sesuatu di luar kelas. Tapi di sisi lain, ia merasakan firasat yang tidak enak.
"Tunggu dulu... anda tidak akan memberi tugas yang aneh-aneh lagi, kan?" Tanya Theta memastikan.
"Tentu saja tidak! Lagi pula tugas mana yang kamu sebut aneh itu?!" Keluh Lisa bersedekap tangan, menenangkan dirinya kembali. "Justru sebaliknya, aku ingin kamu istirahat dulu sejenak dari pekerjaanmu di sini. Dengan begitu kamu bisa fokus mengulas ulang semua informasi yang telah kamu dapat, dan bisa mencari sisa pecahan informasi yang masih hilang."
"Oh... terima kasih kalau begitu...." Kata Theta garuk-garuk kepala, sementara Lisa cemberut melihat responsnya. "Tapi kalau informasi yang aku cari ada di sekolah? Mau enggak mau aku tetap mesti melayani anak-anak yang butuh bantuan, bukan?"
"Ya, boleh-boleh saja tetap membantu mereka. Setidaknya kamu tidak terkurung di dalam ruanganmu untuk melayani mereka semua." Jawab Lisa.
Theta diam sejenak, berpikir apa ada hal lain yang perlu ia bahas dengan Lisa sebelum Lisa mulai menghilang lagi entah ke mana. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan pencariannya, tetapi hanya penasaran karena ada kaitannya dengan Lisa dan Inaya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Faith in You : The Seeker
FantasíaKehidupan yang kamu dambakan itu... Dengan mudahnya lenyap tepat di hadapanmu, Tidak ada harganya lagi. Frustrasi? Depresi? Bukan... Kata-kata tidak dapat mewakili perasaanmu kala itu, Bisa hidup setelah semua itu terjadi pun... Sungguh merupakan su...