6 / Accident

5.2K 637 31
                                        

~JENTAKA~

"Jungwon!"

Jungwon menoleh, dia melihat kearah seseorang yang sedang berlari sambil menenteng tasnya. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya itu penting.

"Satu jam lagi ada latihan sama kakak pelatih, hari ini lo ditantang lawan anak kelas sebelah."

Jungwon membola, bukannya hari ini tidak ada jadwal latihan? Tapi kenapa kakak pembina tiba-tiba memajukan jadwal secara dadakan.

"Serius?" Jungwon mengeratkan pegangan pada tali tasnya. Cuaca sedang panas-panasnya, dia takut tidak kuat dan berakhir pingsan.

"Iya, kapan sih gue bohong?"

"Makasih, ya, Hesa. Aku ambil baju dulu di loker, nanti aku nyusul ke lapangan."Jungwon berkata ragu.

Heeseung segera berlari meninggalkan Jungwon, dia mencari anggota lain yang terlanjur keluar pagar. Sialan sekali hari ini pengeras suara di ruang auditorium mati, jadi mereka terpaksa memakai tenaga lebih besar.

Jungwon memutar badan dan berjalan ke arah lokernya. Dia mengambil baju taekwondo yang ada di dalam sana, lalu bergegas ke toilet untuk berganti pakaian.

***

"Latihan fisik kita hari ini adalah mengelilingi lapangan sebanyak lima kali."

Jungwon menjatuhkan bahunya, terkejut. Dia menatap sang pelatih ekskul taekwondo yang bersedekap dada sumbang. Seharusnya dia sudah biasa, lari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mengelilingi komplek sekolah.

Namun, masalahnya adalah sekarang dia tidak sendiri. Jungwon harus memikirkan nyawa lain yang ada di perutnya. Sebelumnya Jungwon tidak pernah menolak perintah sang pelatih, tapi sekarang dia harus, demi keselamatan anaknya.

Dia mengangkat tangannya yakin. "Pak, saya izin tidak ikut berlari dalam latihan kali ini."

Sang pelatih terlihat heran, tidak biasanya Jungwon membantah. "Alasannya?"

"S-saya sedang tidak enak badan."

Sang pelatih nampak berfikir sejenak. "Kamu harus tetap lari, tapi saya kurangi jadi dua putaran saja."

Jungwon tahu apa yang dikatakan pelatihnya adalah keharusan, dia tidak bisa lagi menolak atau membantah. Jungwon hanya menganggukkan kepala, dia mengerti jelas.

"Bagus. Kita mulai latihannya dari ... Sekarang!"

Jungwon berada pada barisan tengah langsung mengikuti anak di depannya yang berlari, dia meyakinkan diri kalau dia dan anaknya akan baik-baik saja, tidak akan ada masalah yang serius selagi dia bisa menjaga tubuhnya.

"Ayo-ayo cepat! Jangan lemas, kalian ini belum makan atau bagaimana?!"

Jungwon tetap pada langkahnya, dia tidak mempercepat atau memperlambat. Dari belakang seseorang menabrak bahunya dengan sengaja, dia berlari mendahului Jungwon yang sedikit menepi karena takut terjatuh.

"Oke, kita pasti bisa." Jungwon bergumam sambil menatap perutnya, dia lanjut berlari dengan langkah sedang.

Putaran pertama awalnya baik-baik saja, tidak ada hal yang mencurigakan. Namun, di putaran kedua Jungwon mulai merasakan pening di kepala, langkah kakinya pun terasa semakin berat. Jungwon bersimpuh di lapangan basket sambil memegangi kepalanya yang sakit.

"Jungwon, hei. Tolong teman kalian, jangan diam saja!"

Anak-anak lain berlari ke arah Jungwon, terutama Heeseung yang langsung mengelap keringat Jungwon dengan sapu tangan.

"Rileks, Jungwon." Heeseung menempatkan kedua tangannya di bawah kepala dan lutut Jungwon, lalu menggendong Jungwon ke tepian lapangan yang tidak terkena sinar matahari untuk berteduh.

Anak lainnya mengambilkan air putih dan memberikannya ke Jungwon. Heeseung membantu Jungwon untuk minum dengan mengangkat sedikit kepala pemuda itu.

Jungwon terbatuk-batuk, wajahnya memerah. Dia mencengkram baju Heeseung dan berusaha untuk duduk sendiri.

Heeseung sudah siap dengan minyak kayu putih di tangannya. Dia akan membuka sabuk hitam Jungwon dan membalurkan minyak ini ke perut Jungwon.

Jungwon menepis tangan Heeseung yang sudah membuka sabuknya. Dia menjauhkan minyak kayu putih itu dari jangkauan penciumannya. Baru menghirup minyak itu sedikit saja dia sudah mual duluan.

"Gue cuma mau balurin ini ke perut lo, Jungwon." Heeseung menahan tangan Jungwon yang terus menolak.

Jungwon mati-matian menahan mual, disaat seperti ini Jungwon berharap bisa meninju wajah Heeseung dan melarikan diri. Tapi sayangnya itu tidak mungkin, untuk berdiri saja dia lemas.

"Kalo dia nggak mau, jangan dipaksa, bego." Heeseung menumpahkan minyak kayu putih itu di lantai, dia kaget karena seseorang menarik pundaknya hingga dia terjatuh ke belakang.

Jay datang dan menyampirkan jaketnya ke pundak Jungwon hingga menutupi perut pemuda itu.

"Biar gue yang bawa dia ke rumah sakit." Jay tidak mengatakan itu dengan nada sukarela, melainkan nada terpaksa yang dibuat-buat.

"UKS sekolah ada, kenapa lo ngotot banget bawa dia ke rumah sakit?" Heeseung berdiri.

Jay mengeraskan rahangnya. "Diem, jangan bacot. Lo emang mau tanggung jawab kalo Jungwon kenapa-kenapa?"

Jungwon menarik celana seragam Jay, mengkode lelaki itu agar berhenti beradu argumen dengan Heeseung. Jay merunduk dan menggendong Jungwon menuju mobilnya di tempat parkir. Dia mendudukkan Jungwon di kursi samping kemudi.

"Jay, aku takut.." Jungwon memegangi perutnya. Jay hanya melirik sekilas dan menancap gas keluar dari pekarangan sekolah.

"Jangan lebay," ujar Jay tajam. Lelaki itu bahkan mengemudikan mobilnya secara ugal-ugalan, tidak mempedulikan kondisi Jungwon yang lemah.

"Kamu mau bawa aku ke rumah sakit?" Jungwon menahan tubuhnya yang terhuyung ke depan saat Jay menginjak rem secara dadakan.

"Dih, kepedean bener lo. Gue cuma nggak suka aja lo dipegang-pegang sama si Hesa."

Jungwon memegang erat sabuk pengaman, kecepatan mereka sekarang sudah stabil. "Kamu cemburu?"

"Najis, gue cemburu sama lo? Ngimpi aja lo sana!" Jay berkata kasar, bahkan dia enggan menoleh untuk menatap Jungwon.

"Oh, yaudah. Kan aku cuma tanya, kenapa kamu ngegas banget?" Jungwon tiba-tiba meringis saat merasakan keram pada perutnya. Aneh, padahal tadi baik-baik saja.

"Jangan pura-pura, Jungwon." Jay mendadak ikut panik, pasalnya Jungwon sampai mencengkram sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Dilihat dari ekspresi wajah Jungwon, sepertinya pemuda itu tidak sedang mendramatisir.

"Aku nggak apa-apa, serius. Mendingan kita pulang sekarang, Jay." Jungwon menahan rasa sakit itu dengan menggigit bibirnya.

"Lo nyari mati, ha?!"

"Kamu pengen anak ini mati 'kan? Kenapa kamu peduli?! Biarin aja anak ini mati supaya kamu puas!" Jungwon membalas dengan berteriak, emosinya memuncak sampai pangkal kepala.

Jay mengeratkan genggaman pada setir kemudi, dia membanting stir ke kanan untuk memutar balik ke arah rumah sakit terdekat yang sempat terlewati.

"Kita ke rumah sakit sekarang. Jangan kepedean, gue cuma nggak mau diceramahin Papa kalo sampe anak itu keguguran."

~JENTAKA~

Jentaka ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang