Braaakk
Jingga menjatuhkan dirinya ke kasur hotel setelah 10 jam perjalanan dari Jakarta - Semarang akhirnya mereka sampai di hotel yang sudah Jingga booking di daerah kawasan Simpang Lima Semarang. Sebetulnya perjalanan mereka bisa lebih singkat karena mereka berangkat di hari kerja dan juga terima kasih kepada pembuat jalan tol trans jawa yang membuat perjalanan jadi lebih cepat. Namun sepanjang perjalanan Jingga dan Gading banyak berhenti untuk beristirahat.
"Kamarnya dapet yang queen size yah kasurnya?" Tanya Gading begitu memasuki kamar hotel.
"Iya nih, salah gue juga nggak pesen twin bed dari awal, apa mau gue tanyain kalau ada kamar twin bed yang kosong?" Tanya Jingga.
Jingga baru sadar kalau ia tidak memesan kasur yang twin bed, mungkin karena Jingga dan Gading juga sudah terbiasa tidur di kasur yang sama selama mereka menikah dan selama itu juga belum ada hal-hal aneh yang terjadi.
"Lo nyaman nggak tidur sekasur sama gue?" Tanya Gading.
"Lah selama ini lo pikir kita tidurnya gimana di rumah?" Tanya Jingga.
"Ya itu kan karena terpaksa, kalau sekarang kan bisa milih.. Kalau misalnya lo nggak nyaman tidur sekasur sama gue ini adalah kesempatan lo untuk minta ganti kamar twin bed" Ujar Gading.
"Lo sendiri gimana?" Jingga kembali bertanya pada Gading.
"Gue sih.. Biasa aja, mungkin udah kebiasa juga ya tidur sekasur sama lo" Jawab Gading sambil mencopot jam tangan, gelang dan cincin nikahnya dan ditaruh di meja rias.
"Ding, tapi lo emang udah biasa yah tidur sama cewek?" Tanya Jingga sambil mendudukkan dirinya di kasur.
"Maksud lo gue PK gitu?" Tanya Gading sambil melirik ke arah Jingga.
"Nooo, bukan gitu maksud gue, soalnya pas malam pertama kita nikah itu lo nggak ada canggung-canggung nya sama sekali, bahkan lo bisa tidur dengan nyenyak" Jawab Jingga.
"Gue malem itu minum antimo biar cepet tidur" Jawab Gading singkat.
"Hahahahahaha gue pikir lo emang sesantai itu tidur sekasur sama cewek" Jawab Jingga.
"Lo sendiri juga kayaknya nggak pernah canggung tidur sekasur sama gue?" Tanya Gading.
"Lo nggak tau aja Ding gue malam pertama baru bisa tidur jam 3 pagi, hari-hari berikutnya juga.. Tapi lama-lama gue udah mulai kebiasa sih, apalagi lo kalau tidur nggak ribut, anteng banget kayak anak bayi" Jawab Jingga tertawa sambil mengingat Gading yang selalu tenang kalau tidur, nggak gerak-gerak, nggak ngorok atau tarik-tarikan selimut.
"Gue kalau tidur rese nggak Ding?" Tanya Jingga.
Gading hanya terdiam, pasalnya sang istri kalau tidur sukanya tiba-tiba meringkuk kearah Gading walau awalnya mereka tidur punggung-punggungan, bahkan tidak jarang tiba-tiba Jingga memeluk lengan Gading.
"Nggak kok, tapi..." Jawab Gading
"Tapi apa?" Tanya Jingga.
"Lo kalau tidur kalau bisa jangan pakai piyama yang dress ya, jangan pakai daster juga.." Ujar Gading.
"Wait.. jangan bilang kalau pas tidur baju gue keangkat-angkat?" Tanya Jingga sambil melotot. Gading hanya diam sambil masih sibuk dengan barang-barangnya di koper.
"Ding jawab.. kalau tidur baju gue keangkat-angkat?" Tanya Jingga sekali lagi.
"Iya, tapi tenang aja kok gue nggak pernah macem-macem, pasti gue langsung selimutin lo" Jawab Gading singkat namun kali ini Gading tidak mau melihat wajah Jingga yang pasti sudah merah padam. Jingga merasa sangat malu apalagi mengingat kalau semua baju tidur dia modelnya hanya dress dan daster.

KAMU SEDANG MEMBACA
AMBER PATIO - COMPLETED
FanfictionJingga si baker yang idealis, independent, punya bakery shop sendiri tapi masih single di usia 30 tahun. Gading si penganut tidak percaya sama pernikahan, pemilik coffee shop hits di Jakarta Selatan. Tiba-tiba keduanya di pertemukan di sebuah perjod...