Bab 16: Pergi Dan Kembali

7 1 0
                                    

Tiba dimana hari terakhir libur sekolah. Hari ini juga, Papa dan Mama Gebby harus kembali di sibukkan dengan pekerjaan mereka. Sebagai orang tua yang berkarir, Mengharuskan mereka untuk sering meninggalkan Gebby sendirian di rumah. Meskipun begitu, Mama dan Papa Gebby berjanji akan sering pulang.

"Za, Papa sama Mama harus berangkat ke Singapura lagi. Masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan di perusahaan Papa. Kamu di rumah jaga diri baik-baik ya. Kalo ada apa-apa langsung hubungin Papa. Kamu harus ngerti keadaan Papa" ujar Papa Gebby menasehati

Gebby pun tidak banyak bicara. Ia hanya mengangguk memberi jawaban.

"baru sebentar gua ngerasain hangatnya keluarga. Sekarang udah harus kesepian lagi," batin Gebby

"Sebentar lagi pesawat bakal take off. Kamu jaga diri ya Za," ujar Mama Gebby sembari memeluk dirinya

Setelah Mama dan Papa nya pergi. Gebby pun pulang dengan taksi yang sudah Ia pesan.
Sendiri lagi, kesepian lagi.
Ah ia bahkan sampai lupa kalau sekarang ia mempunyai Mahesa sebagai pacarnya.
Setidaknya ia tidak merasa benar-benar kesepian.

Tibalah di mana semua murid mulai masuk sekolah kembali.
Seperti biasa, Mahesa menjemput Gebby ke rumahnya untuk berangkat bersama.

Sesampainya di sekolah, Gebby pun lantas turun dari atas motor. Dengan sangat telaten, Mahesa lantas melepaskan helm yang Gebby pakai dikepalanya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Cantik," ujar Mahesa setelah merapikan rambut Gebby

Mendengar itu, pipi Gebby pun merona karena malu. Gebby tetap gadis biasa, mau secuek apapun sikap nya,  ia tetap bisa merasa baper jika dipuji.

Setelahnya Mahesa pun menggandeng tangan Gebby dan berjalan menuju kelas untuk menaruh tasnya

"bangsa ini akan maju, apabila generasi muda nya mudah di atur. Tetap mengikuti peraturan yang ada di setiap tempat dan organisasi. Dan lagi, boleh kita terbawa arus kemodern an zaman yang ada. Tapi jangan sampai apa yang sudah menjadi turun temurun dari nenek moyang kita terlupakan dan musnah. Harus bisa mengimbangi dari zaman ke zaman. Jadi Bapak minta, untuk seluruh murid di SMA ini agar bisa lebih memperhatikan dan mengikuti peraturan yang ada. Sekian dari Saya,  terima kasih." ujar Pak Hadi selaku kepala sekolah memberikan amanat upacara

Setelah upacara selesai dan bel masuk sudah berbunyi, semua murid pun masuk kedalam kelas masing-masing dan mulai belajar.

"Gebby, silahkan maju dan Jelaskan materi tentang barisan aritmatika!" ujar Bu Yeni sembari menunjuk Gebby

Gebby pun mengangguk dan langsung  berdiri dari duduknya dan menjelaskan materi tersebut.

"barisan aritmatika adalah barisan dengan selisih/beda (b) antarsuku yang berurutan yang tetap. Bentuk umumnya adalah U1,U2,U3,..,Un-1'Un
Atau a+(a+b)+(a+2b)+...+(a+(n-1)b)" ujar Alisa dengan tegas menjelaskan materi tersebut

"terima kasih Gebby. Silahkan duduk" ujar Bu Yeni

Gebby pun mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.

TRIIINGGGGG!

Bel istirahat pun berbunyi yang artinya jam pelajaran telah selesai.

"baik anak-anak. Karena jam pelajaran sudah selesai, kalian boleh istirahat," ujar Bu Yeni lagi

"Baik bu!!" jawab semua murid dengan serentak.

Di Kantin

"Sa, apa kabar?" ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping sembari menggelayut kepada Mahesa

Mahesa yang merasa tak asing dengan suara itu pun lantas menoleh. Melihat siapa orang itu, Mahesa pun kaget. Perasaannya cemas dan campur aduk.  Kecewa dan emosi yang selama ini telah Ia kubur dalam-dalam pun kembali memuncak. Dengan nafas memburu, Mahesa pun menyentak tangan seseorang itu.

"ngapain lo disini? Belum puas?" tanya Mahesa sangat dingin

Gebby yang memang sedari tadi memperhatikan pun semakin bingung. Tidak biasanya Mahesa bersikap sangat dingin seperti ini. Apalagi yang ada di hadapannya ini adalah perempuan, Mahesa akan sangat menghargai seorang perempuan. Mahesa yang Ia kenal adalah orang yang ramah dan cerewet. Lalu mengapa saat bersama perempuan ini, Mahesa sangat berubah. Dan lagi, siapa perempuan itu? Mengapa tiba-tiba datang dan langsung memeluk tangan Mahesa? Sedekat itukah? Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa, itu yang ada di fikirannya saat ini.

"Sa! Kok kamu gitu sih. Aku balik lagi kesini, demi kamu Sa," ujar perempuan itu lagi.

"Maaf. Lo siapa ya?" tanya Karin yang memang sudah sangat kesal melihat tingkah orang asing yang tiba-tiba datang dan menganggu makan siang nya

"oh ada orang ternyata. Kenalin gua Gladis. Pacarnya Mahesa!" ujar Gladis dengan tegas memperkenalkan dirinya

Mendengar itu, Gebby kaget bukan main. Perasaannya campur aduk, Ia tak percaya. Meskipun begitu, Ia harus tetap tenang. Jangan sampai terbawa emosi yang malah menimbulkan keributan di kantin.

"maksudnya gimana ya?" tanya Gebby masih dengan nada rendah

"Lo ga denger? G.U.A. P.A.C.A.R M.A.H.E.S.A!" ujar Gladis dengan penuh penekanan dan sikap percaya dirinya

Setelah beberapa detik Mahesa terdiam karena kaget dengan kehadiran Gladis. Akhirnya Ia pun sadar. Melihat raut wajah Gebby dan yang lainnya berubah dan tak terbaca, Mahesa pun semakin marah kepada Gladis.

"Kita gak ada hubungan apa-apa lagi! Semenjak lo pergi ngilang dan tau-tau jadian sama Axel, gua anggep semuanya udah selesai. Jadi stop ganggu hidup gua!" ujar Mahesa

"Gua udah punya pacar. Lo liat, dia bahkan lebih segalanya dari pada lo." ujar Mahesa sembari menggenggam tangan Gebby sekali lagi menegaskan

"apa-apaan ini! Gak Sa! Kita ga pernah selesai dan lo gak boleh punya pacar! Pacar lo itu gua, bukan dia!" ujar Gladis dengan nafas memburu sembari menunjuk Gebby

Ditunjuk seperti itu, Gebby lantas menurunkan tangan Gladis sembari memperlihatkan wajah datar nan dinginnya.

"gak usah nunjuk gua. Dan satu lagi, lo gak berhak ngatur hidup Mahesa. Dia berhak milih untuk kebahagiaan dia." ujar Gebby dengan penuh penekanan

"heh mak lampir! Gak usah mimpi deh lo! Lo itu cuma masa lalu nya Mahesa. Liat! Bahkan Mahesa aja udah gak mau sama lo! Cih geli banget deh gua," ujar Karin

"Lo paling tau gua kan, Sa? Kalo gua gak bisa dapetin lo. Berarti gak ada satupun orang yang boleh dapetin lo juga." ujar Gladis dengan smirk di wajahnya dan setelahnya pergi meninggalkan Mahesa dan yang lainnya.

Melihat itu Mahesa semakin yakin kalau Ia harus berhati-hati terutama dalam menjaga Gebby. Ia paling tau bagaimana sifat buruknya Gladis, jika apa yang di inginkannya tidak terkabul. Ia akan menghalalkan segala cara agar mendapatkan apa yang Ia inginkan dan tidak akan membiarkan siapapun menggagalkan aksinya.

RUANG WAKTUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang