Bab 23: Terbongkar (2)

2 1 0
                                    

"Sa...." lirih Karin

"gua butuh waktu," ujar Mahesa lalu pergi meninggalkan Gebby dan yang lainnya

Setelah Gladis pergi dari hadapan mereka, suasana pun semakin menjadi menegangkan. Gebby dan Wisnu yang masih diam dalam fikirannya masing-masing dan Mahesa yang masih dalam kecewa yang semakin dalam, karena semuanya terbongkar dan ternyata Ibu temannya sendiri yang menjadi tersangka dalam kejadian beberapa tahun yang lalu.

Gebby pun menatap Karin dengan tatapan kecewa. Namun meskipun begitu, Gebby tidak bisa langsung menilai begitu saja. Ia ada di antara Mahesa dan karin, diri nya bingung harus bagaimana

"gua bakal coba bilang sama Mahesa. Tapi apapun keputusan Mahesa nanti, gua gak bisa jamin, Rin. Ini juga pasti bakal berurusan sama keluarga Tante Anggun," ujar Gebby

"gua minta maaf atas nama nyokap gua, Za. Hiks gua gak tau apa-apa," ujar Karin dalam tangisnya

"gua percaya sama lo, Rin. Lo gak salah, lo cuma korban di sini. Nu, jagain Karin ya. Gua susul Mahesa dulu," ujar Gebby dan setelahnya pergi menyusul Mahesa

Sudah bisa di tebak jika Mahesa sekarang berada di rooftop sekolah.
Ia pun segera menghampiri Mahesa di sana.

"Sa..." panggil Gebby pelan saat sampai di rooftop

Mahesa pun hanya diam tak menoleh apalagi menjawab. Gebby pun mendekatinya dan mengelus pundak Mahesa. Saat di lihat, ternyata Mahesa sedang merokok. Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu itu, Mahesa menjadi seorang perokok aktif. Namun, setelah kenal dengan Gebby, Ia mulai mengurangi rokoknya. Ia hanya akan merokok di saat-saat tertentu seperti sedang banyak fikiran saja.

"kamu ngerokok, Sa?" tanya Gebby

"kali ini aja," ujar Mahesa

"hufftt. Sa, kamu marah sama Karin?" tanya Gebby berhati-hati karena takut menyinggung Mahesa

Mahesa pun mematikan rokoknya dan menoleh ke arah Gebby. Ia menatap dalam-dalam kedua bola mata Gebby.

"gak ada orang yang gak marah ketika dia tau kalo Ibu dari temennya sendiri yang udah ngebunuh calon adiknya, By." ujar Mahesa

"maaf," ujar Gebby sembari menunduk

"marah itu pasti. Tapi aku udah berusaha buat gak marah sama ini semua. Tapi satu yang susah buat aku kontrol, By," ujar Mahesa

"apa, Sa?" tanya Gebby

"rasa kecewa," ujar Mahesa dengan pandangan lurus ke depan menatap hamparan gedung-gedung tinggi sejajar

"Sa, aku tau kamu kecewa banget kali ini. Boleh aku kasih masukan?" tanya Gebby

Mahesa pun hanya mengangguk.

"kita harus bahas masalah ini sama orang tua kamu, Sa. Gimana pun juga Mama Papa kamu berhak tau, mereka juga ngerasa kehilangan," ujar Gebby

"itu yang lagi aku fikirin," ujar Mahesa

"Sa, maaf kalo mungkin aku salah. Menurut aku, Karin gak salah. Dia cuma korban di sini, yang nabrak Tante Anggun saat itu emang Tante Suci. Tapi Karin gak ikut, dia juga gak pernah tau siapa yang di tabrak Mama nya waktu itu. Karena Tante Suci juga langsung pergi gitu aja," ujar Gebby

"dan ninggalin nyokap gua yang udah gak berdaya sambil ngerintih kesakitan di perutnya," ujar Mahesa dengan tatapan marahnya saat mengingat kejadian itu

"iya, Sa. Sama kan sama calon adik kamu, dia cuma korban di sini. Dia gak tau apa-apa, aku yakin Tante Suci juga nyariin orang yang udah dia tabrak setelah beberapa waktu. Dia pergi gitu aja karena dia panik, dia takut," ujar Gebby

Saat ini, Gebby, Karin, Wisnu dan Gladis sedang berada di rumah Mahesa. Di sana sudah ada Mama Karin dan orang tua Mahesa. Mama Karin memang seorang single parrent. Sejak usia Karin masih menginjak 12 tahun, Mama nya sudah bercerai dengan Papa Karin.

Saat ini Mama Mahesa sedang menangis dalam pelukan Mahesa karena terkejut mendengar berita itu. Ada Gebby juga di samping kanan Mama Mahesa. Gebby dan Mahesa terus saja menenangkan Mama nya, sedangkan Mama Karin mulai menjelaskan semua kejadian dengan di samping kanan dan kiri nya ada Karin dan Wisnu.

"bisa jelaskan semuanya?" tanya Papa Mahesa masih bisa mengontrol emosi nya

"Maaf, saya minta maaf. Waktu itu saya sangat mengantuk, lalu tidak sengaja menabrak seseorang. Sempat saya melihat ke arah dia, tapi karena terlalu panik akhirnya saya pergi begitu saja. Saya gak tau kalau itu istri anda," ujar Mama Karin meminta maaf sembari menangis dan terus di tenangkan oleh Karin

"lalu kamu dapat video itu dari mana Gladis dan apa maksud kamu mencari tau tentang kehidupan Mahesa, Karin, Wisnu dan Gebby?" tanya Papa Mahesa

Sudah terbongkar jika Gladis mencari tau latar belakang dari Gebby dan yang lainnya. Maka dari itu, Ia berada di sana juga untuk di tanyai lebih lanjut oleh Papa Mahesa.

"saya dapat dari CCTV pihak supermarket, Om." ujar Gladis

"tentang motiv kamu mencari tau latar belakang mereka?" tanya Papa Mahesa sembari menunjuk Mahesa dan yang lainnya

"saya gak terima karena Mahesa lebih pilih Gebby! Saya pacar Mahesa, Om. Saya kenal Mahesa lebih dulu dari pada Dia! Itu kenapa saya mau ngehancurin mereka, karena Wisnu dan Karin selalu ikut campur urusan saya." ujar Gladis sembari menunjuk Gebby dan yang lainnya

"tapi gak gitu juga, Dis! Emang nya dengan cara itu lo bisa dapetin gua? Gak akan!" ujar Mahesa membentak Gladis

Papa Mahesa pun hanya memijat pelipisnya lelah. Ia bingung dengan masalah ini.

"Ma..." ujar Papa Mahesa pelan kepada istri nya

"aku ikhlas, Mas. Jangan hukum dia, jangan bahas masalah ini lagi. Jangan buat anak kita sedih di alam sana. Aku marah, aku kecewa. Tapi percuma, semuanya udah terjadi. Belajar ikhlas untuk apa yang udah kejadian, dia juga bilang gak sengaja karena ngantuk. Dan kamu Mahesa, jangan salahkan Karin. Dia gak salah, dia gak tau apa-apa," ujar Mama Mahesa

Mama Karin pun langsung berlutut dan terus mengucapkan terima kasih dan maaf kepada Mama Mahesa. Papa Mahesa yang melihat kebaikan istri nya pun hanya tersenyum tulus.

"jangan sampai di ulangi lagi, itu membahayakan dirimu dan orang lain," ujar Mama Mahesa lalu memeluk Mama Karin

Mereka semua yang melihat itu pun menangis haru, terkecuali Gladis yang sekarang sudah memasang wajah kesalnya.

"Gladis, apa yang kamu lakukan itu salah. Anak saya berhak menentukan pilihannya dan kamu tidak bisa mengatur anak saya," tegas Papa Mahesa

"gak! Mahesa punya aku, Om. Sialan lo! Awas lo Gebby, gua gak akan tinggal diam!" teriak Gladis

Kemudian di seret keluar oleh satpam rumah Mahesa.

RUANG WAKTUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang