Bab 19: Rumah Gladis

2 1 0
                                    

Tentang kehidupan Gladis, Ia memiliki adik kembar perempuan yang berusia 13 tahun. Rumah yang terasa begitu hangat bagi kedua adiknya, namun tidak dengan Gladis. Bunda nya selalu membandingkan dirinya dengan adik-adiknya, sering kali Gladis mendapatkan peringkat di sekolah sebelumnya, namun Bunda nya seperti tak melihat itu. Hanya Ayah nya yang memberikan kasih sayang kepada dirinya. Entah apa salah Gladis, entah apa yang pernah Ia perbuat kepada Bunda nya hingga membuat Beliau membenci dirinya hingga saat ini. Sejak kecil Ia sudah merasakan kasih sayang yang berbeda antara Ayah dan Bundanya, orang tuanya pun sering bertengkar hanya karena dirinya. Bunda nya yang sering memarahinya dan Ayah nya yang selalu membela. Untungnya, Adik-adiknya itu peduli kepadanya. Jadi Ia tak begitu merasa sendiri. Namun meskipun begitu, Ia juga ingin merasakan hangatnya pelukan Ibu. Sejak kecil Ia tak pernah merasakannya. Itulah yang menjadikan Gladis menjadi sosok trouble maker, nekat dan keras kepala. Ia hanya butuh perhatian, terlebih dari orang yang Ia cintai.

Saat ini, Gladis sedang berada di balkon kamarnya. Menatap indahnya gedung-gedung tinggi yang berjejeran. Memikirkan bagaimana caranya Ia bisa mendapatkan Mahesa kembali dan mendapatkan perhatian Bundanya. Saat sedang melamun, tiba-tiba Sheila-adiknya, masuk dan menghampiri dirinya.

"Kak Adis lagi ngapain?" tanya Sheila yang baru sampai di samping Gladis

"eh, ini lagi liatin pemandangan aja, Shei." ujar Gladis

"Kak Adis ada masalah? Kenapa muka nya kaya bingung gitu," tanya Sheila lagi

"gak papa Shei. eemm, itu Kak Adis cuma lagi mikir jawaban soal sekolah Kakak," elak Gladis

Tidak mungkin jika Ia mengatakan yang sebenarnya kepada adiknya itu.

"Kak," panggil seorang anak perempuan dari pintu kamar Gladis

"kenapa, Chil?" tanya Sheila kepada Chila-adik kembarannya

"Kak Adis di panggil Bunda di bawah," ujar Chila

Gladis pun mengangguk dan segera turun menghampiri Bundanya. Ia tak boleh terlambat sedikit pun, bisa-bisa Ia di marahi lagi oleh Bundanya.

"Bunda manggil Adis?" tanya Gladis saat sampai di hadapan Bunda nya

"apa ini? Kamu itu bodoh banget sih, Dis. Cuma dapet nilai 80, jangan malu-maluin keluarga bisa gak? Liat adik-adik kamu, mereka pinter-pinter. Liat Sheila juara 2 renang, juara main piano, murid terpintar di sekolah nya. Chila, pinter main bulu tangkis, ikut lomba apa aja. Sedangkan kamu apa? Bikin malu keluarga aja bisanya. Kamu itu harusnya bersyukur udah Bunda sekolahin, bukannya main-main gini, Dis!" bentak Erika-Bunda Gladis

"maaf Bunda. Tapi itu nilai terbesar di kelas Gladis," ujar Gladis

"masih bisa jawab kamu!" bentak Bunda nya lagi sembari memukulkan sapu yang ada di samping nya

"au sakit Bunda. Ampun, sakit Bunda," rintih Gladis

Gladis tidak menangis, Ia sudah terbiasa di pukuli Bunda nya jika Ayahnya sedang bekerja seperti ini.

"makanya jangan malu-maluin. Kamu tu gak tau di untung Gladis, pergi kamu." ujar Bunda Gladis

Gladis pun segera pergi dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia pergi memasuki kamar mandi dan menghidupkan shower sembari duduk di bawahnya. Sakit, sakit hati nya saat Bunda nya berbicara seperti tadi. Luka di badan nya tak sebanding dengan rasa kecewa nya.

"Kak Adis! Kak! Kak Adis buka!" teriakan suara adik-adik nya dari luar kamar. Sudah menjadi hal biasa bagi Gladis di banding-bandingkan seperti itu oleh bunda nya.

Setelah itu, Ia pun mematikan shower dan mengganti pakaiannya yang basah. Kemudia mengambil buku diary nya dan mencurahkan segala yang Ia rasakan selama ini.

Tuhan..
Aku tak pernah menyalahkan mu
Namun...
Jalanku semakin tak terarah
Aku sudah lelah
Oleh garis takdir yang membuatku lemah
Bolehkah aku menyerah?

Hatiku seakan teriris
Mata yang kian menangis
Takdir yang semakin sadis
Pandang mata melihat miris

Antarkan aku ke puncak kehidupan
Biarkan aku bertemu kebahagiaan
Agar hati merasa tenang
Agar diri merasa menang

1 Des 2021
Gladis

Malam pun tiba. Saat ini jam masih menunjukkan pukul 9 malam, sebentar lagi Ayah nya akan pulang.
Gladis pun masih mengerjakan tugas sekolah nya. Kali ini, Ia harus bisa mendapatkan nilai yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Jangan sampai Bunda nya marah lagi kepada diri nya, Ia sudah lelah harus berpura-pura terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang.
Saat sedang mengerjakan tugas, tiba-tiba pintu kamar nya terbuka dan terlihat sosok Ayah nya yang masuk menghampiri Gladis.

"anak Ayah lagi ngerjain tugas?" tanya Herman-Ayah Gladis sembari mengelus surai Gladis dengan lembut

"Ayah... Ayah baru pulang? Ayah udah makan?" tanya Gladis

"iya, ini baru aja pulang. Ayah mau nya makan sama Adis," ujar Ayah nya

"iya Yah. Ayah mandi dulu, nanti Adis temenin Ayah makan," ujar Gladis kepada Ayah nya.

"eh kok nemenin doang. Ikut makan dong," ujar Ayah nya

Gladis pun hanya tersenyum kecut. Pasti nanti akan ada Bunda nya. Bunda nya itu tidak pernah mau jika Gladis ikut makan bersama mereka, maka dari itu Gladis selalu makan paling akhir atau makan di luar. Agar Bunda nya tidak merasa terganggu oleh dirinya.

Ayah nya yang paham akan apa yang Gladis fikirkan pun hanya menghela nafas pelan. Ia tahu betul apa yang anak nya ini takut kan, pasti istri nya.

"kamu anak Bunda juga. Jadi gak perlu takut, kamu berhak ikut makan bareng sama Ayah, Bunda dan adik-adik kamu." ujar Herman

"tapi, Yah-"

"Ayah gak terima penolakan, Gladis." ujar Ayah Gladis dengan penekanan

Jika sudah seperti itu, Gladis tidak bisa apa-apa lagi. Artinya, Ia harus menuruti perintah Ayah nya.

Gladis pun hanya mengangguk setuju.

"ya udah, Ayah mandi dulu. Nanti ayah panggil kalo udah selesai," ujar Ayah Gladis

Setelah sosok Ayah nya sudah tak terlihat lagi. Gladis pun menyenderkan kepala nya ke kursi yang Ia duduki.

"kapan gua bisa rasain kasih sayang dari Bunda, kaya apa yang gua rasain dari Ayah..." ujar Gladis

Setelah beberapa saat, akhirnya Ayah nya pun memanggil dirinya untuk makan malam. Sedikit takut dengan Bunda nya, Gladis pun mulai menuruni tangga dan menuju meja makan, sudah ada Ayah, Bunda dan adiknya di sana.

"maksud kamu apa, Mas? Kan aku pernah bilang, kalo aku gak mau anak itu makan bareng kita!" ujar Bunda Gladis saat baru saja Gladis akan duduk

"diam, Erika. Saya yang minta Gladis untuk ikut makan. Saya kepala keluarga di sini," ujar Herman

RUANG WAKTUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang