Tujuh belas

4 1 0
                                        

"Zel!"

Teriakan dari temannya yang tidak lain adalah Yuki. Zelda tersenyum ke arah Yuki, lalu melanjutkan jalannya menuju kelas. Yuki dan Zelda memgarah ke bangku masing-masing. Sesampainya di kelas, Zelda memicingkan matanya pada sebuah coklat dan mawar yang ada di mejanya.

Dari siapa? Ia menelisip ke jengkal benda itu, dan ternyata dugaannya benar, siapa lagi kalau bukan Angkasa yang sok romantis. Hahaha

Zelda menghembuskan napas perlahan, membuka kertas yang ada pada bunganya.

Untuk seseorang yang lembut hatinya, Zelda🤍
Angkasa

Zelda tersenyum kecil melihat tulisan itu. Bisa-bisanya dia sekarang menjadi kekasihnya. Memang, untuk saat ini dia memilih diam, tidak mempublikasikan statusnya dengan Angkasa.

"Ciyee, dari siape nii, Aksa ya?"

Sontak Zelda melihat ke sumber suara, ia melotot, kok tau? Apa Angkasa memberitahukan hal ini ke Gisti?

"Serius dari Aksa?"

Zelda menutup mulutnya sambil senyum tipis dan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah itu memang benar. "Gemoy banget si Zelll, gimana Aksa ga sukaaa!!" Gisti mencubit pipi Zelda yang sontak membuat muka Zelda cemberut. Sangat lucu sekaliiii.

Zelda tiba-tiba mencoba berbisik ke Gisti. "Sebenernya, a-a-ku."

"Apaan Zel?"

Kenapa gagu jadinya?

"E-e i-i-tu."

"Et dah, apaan?"

"Aku jadian sama Kak Angkasa."

"What?"

Sontak Gisti di bungkam dengan tangan Zelda yang sudah ketar ketir takut banyak yang mendengar. Benar saja, satu kelas menuju ke arah mereka berdua.

"Hehe, santai teman teman, lagi shock nih hehe." Gisti meringis seolah ga punya salah.

"Bisa-bisanyaaa, gimana cerita tuh Zel?" Melanjutkan dengan bisik-bisik. Rempong banget nih.

"Jadi gini..."

Zelda bercerita hingga bel masuk berbunyi. "Pokoknya, aku dukung apapun pilihan kamu Zel. Sipp, bakalan aku buktiin apa yang kamu pilih itu benerrr."

"Semoga ya Gis."

****
Pov Angkasa

Lama bener nunggu cewe gue nih. Perasaan dari tadi dah bel pulang, tapi kenapa ga keluar keluar nih anak. Hehe, cewe gue.

Lucu juga, baru punya cewe yang bener-bener jadi pacar. Mana ini cewe beda banget dari apa yang gue pengen, tapi gapapa, apasi yang ga buat Zelda.

"Zell!"

Sontak matanya yang lucu itu kayak kaget banget ada gue disini. Dia lucu banget, agak metah mukanya. Malu kali yaa punya pacar kayak gue, secara apa yang bisa dibanggain.

"Ciyee, duluan yee, selamat pacaran."
Busettt sepupu gue nih. Suka banget nyomblang, untung dia cuma bisik-bisik. Bisa berabe kalau temen kelas Zelda denger, secara Zelda pengen ga di publish dulu tentang kita berdua.

Setelah semua anak udah pulang, gue mutusin buat ngobrol sama Zelda. "Kakak mau ngapain?"

Ish, andai ajah ga usah panggil kakak. Apa gitu kek, ayang. Ih kok ayang. Beb, ihhh bayangin Zelda panggil beb ajah kek manggil temen cewe yang deket sama dia. Hahaha, biarin panggil kakak dulu aja deh.

ZeldaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang