Joanna'spov
Aku tau aku salah. Aku tak seharusnya menampar gadis itu dan meneriakinya seperti itu. Tapi dia pantas mendapatkannya. Dia pantas.
Aku memutuskan untuk memasuki ruangan dimana William sedang istirahat. Saat pintu kubuka, aku melihat William langsung terbangun dari tidurnya dan menatap ke arah pintu dengan antusias. Setelah ia melihatku, senyumnya sedikit memudar. "Hei Jo, kupikir tadi Kylie.
Lagi-lagi Kylie. Apa diotaknya hanya ada nama Kylie yang berputar-putar?
"Hei, Will." Aku mencoba bersikap biasa saja. "Bagaimana keadaanmu?" tanyaku. Aku berjalan mendekat ke arahnya
"Kurasa semakin baik.
"Baguslah." Kataku. Aku memberi sedikit jeda. "Ayo pulang ke Idris.
Alis William terangkat. "Pulang?
"Yeah, pulang." Tegasku. "Kita tidak akan selamanya disini kan? Lagipula orangtua gadis itu akan pulang besok. Mereka bisa jantungan jika melihat kita.
Dahi William berkerut. Ia terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu. Bahkan dalam keadaan sedang berpikir seperti itupun, William terlihat menawan
William Durtmant, kapan kau bisa melihatnya
Kapan kau bisa melihatku seperti aku melihatmu dan kau melihat Kylie?
Kita sudah bersama-sama bertahun-tahun. Melawan segala macam iblis bersama. Di ambang kematian bersama. Bersenang-senang bersama. Dan kau masih tidak melihatku? Bahkan setelah mengenal gadis itu kau terasa semakin jauh..
"Kupikir aku tidak akan pergi kemanapun." Ucapnya tegas.
TIDAK!
"Apa maksudmu?" Aku berusaha untuk menjaga suaraku agar tetap tenang. "Idris rumah kita."
Ia menatapku lurus. "Rumahku adalah Kylie. Aku tidak pernah merasa seperti ini terhadap seorang gadis, Jo!"
"Dia hanya manusia fana biasa!" teriakku. "Dia-"
"Dia bukan hanya manusia fana!" potong William. "Dia luar biasa bagiku, Jo!"
Aku benci ini. Aku benci situasi ini. Aku sudah terbiasa dengan William yang tidak memperdulikan gadis-gadis yang mengejarnya di Idris. Tapi kali ini? Dia jatuh cinta setengah mati dengan manusia fana! Aku akan kehilangan William!
"Aku mencintai Kylie, Jo." Bisiknya pelan, tapi aku bisa mendengarnya. "Sangat mencintainya."
"Dan apakah dia membalas perasaanmu?!" teriakku parau. "Apakah dia juga mencintaimu?"
"Aku akan menunggunya mencintaiku."
"Kau menunggu sesuatu yang tidak pasti! For god's sake Will apakah kau tidak bisa sekali saja melihatku?!"
William mengangkat alisnya lagi. "Apa maksudmu? Kita sudah bertahun bersama-sama dan aku selalu melihatmu. Bagaimana bisa aku tidak melihat-"
"Tak bisakah kau menatapku seperti kau menatap Kylie?!" Teriakku. William memandangiku dengan aneh. Sebelum ia bisa mengucapkan sesuatu, aku mendahuluinya. "Aku mencintaimu Will! Sudah 10 tahun aku mencintaimu! Aku yang selalu ada untukmu, bukan gadis yang baru saja masuk ke kehidupanmu itu! Aku jatuh cinta padamu, William dan ini sangat menyiksaku!"
William tak berkedip menatapku. Bagus, Joanna. Kau baru saja kehilangan William selama-lamanya karena pernyataanmu barusan.
"Kenapa aku?" tanyanya dingin. "Kau sahabatku."
"Aku tidak tau! Seandainya bisa memilih aku tak ingin mencintaimu karena aku tau kau tidak akan pernah mencintaiku!" jawabku.
Dia menatapku lama sedangkan aku berusaha mati-matian agar tidak menangis. Aku tidak pernah menangis sebelumnya, bahkan waktu pemakaman ayahku aku tidak menangis. Dan rasanya akan bodoh jika aku akhirnya menangis hanya karena orang yang kucintai, tidak mencintaiku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unbelievable
VampireVampire dan Pemburu Iblis alias Shadowhunters, tiba-tiba saja masuk ke dalam kehidupanku. Merusaknya sekaligus mewarnainya. Tapi yang kutahu pasti hanya satu hal : Aku jatuh cinta dengan mahluk bertaring sialan itu.
