"Satu hari nanti, kamu pasti bisa meninggalkan Busan, Sayang." Tama tertawa lirih, menjawil pelan ujung hidung putra kecilnya yang memandang dengan sepasang mata rusa yang berbinar-binar. "Suatu saat nanti pula, kamu pasti bisa memahami mengapa setiap pertanyaan tidak segera menemukan jawabannya."
Banyak orang berkata, kata-kata yang diracik ke dalam kalimat itu bisa menciptakan banyak hal tanpa batasan—luka, kesedihan, kebahagiaan, perjuangan, nostalgia, atau malah harapan. Mungkin inilah maksudnya. Mungkin inilah yang manifestasi nyatanya. Di sana, memandang ikan koi yang berada di dalam kolam ikan, memalingkan wajah kembali pada ekspresi sayu sang ibu serta tubuh kurusnya yang kian mengering dari hari ke hari, Jeon Jungkook kecil mengerjap. Jelas terlihat ragu. "Sungguh? Meskipun Ayah tidak akan mengizinkannya?"
"Memangnya siapa yang bilang kalau ayahmu tidak akan memberikan izin?"
"Semua orang." Ia menggeliat resah. Jungkook ingat bahwa abangnya selalu mewanti-wanti agar tak ada yang membicarakan mengenai ayah di depan sang ibu. Namun kini kalimatnya terlepas begitu saja, meluncur jatuh seperti runtuhnya kuncup bunga cherry blossom di halaman belakang. "Banyak orang berkata kalau Kak Jimin tidak akan bisa meneruskan pekerjaan Ayah. Kak Yoongi juga mengatakan kalau bekerja di kebun itu keras. Harus tekun. Jadi kalau bukan aku yang melakukannya, lantas siapa? Kalau aku pergi meninggalkan Busan, memangnya tidak apa-apa?"
Tama bisa merasakan semilir angin musim semi yang menelisik masuk melalui pintu geser yang dibiarkan terbuka, menyentuh pipinya. Padahal musim semi tengah merona sempurna, namun tetap saja hatinya terasa sebeku permukaan danau di musim dingin. Sepasang netra tersebut memandang jauh, seolah semua kenangan, memori, serta momen berharga yang pernah dilaluinya tengah diputar kembali ke dalam udara. Butuh beberapa sekon bagi Tama untuk kembali ke dalam presensi, mengusap sang putra tersayang yang masih berbalut seragam sekolah, melirik satu plastik berisi batu kecil yang Jungkook kumpulkan sepanjang perjalanan menuju ke rumah.
Sang ibu menyahut hangat, "Kamu tahu, Jung, Ibu dulu pernah memiliki seorang teman baik." Perempuan tersebut mencoba bergerak dari tempatnya bersandar. Namun perut membuncit yang dibalut selimut tebal miliknya malah mengirim rasa sakit luar biasa hingga ia menahan napas mati-matian. Tetap saja, Tama mampu berkata lembut, "Namanya Song Hera."
"Song ... Hera?"
"Iya. Namanya menyerupai seorang dewi Yunani yang menjadi istri dari para pemimpin dewa, Zeus. Kisahnya, Hera merupakan Dewi Pernikahan yang menggenggam erat kesetiaan serta mencintai suaminya tanpa syarat. Padahal Zeus kerap bermain-main dengan para perempuan." Tama tersenyum, menggerakkan tangan meminta Jungkook mendekat.
Patuh, bocah lelaki tersebut merangkak menghapus jarak, menghampiri ibunya yang terduduk setengah berbaring di atas tumpukan kasur—tepat berada di kamar belakang yang menghadap halaman. "Bagi Ibu, Hera yang Ibu kenal ... terlihat benar-benar setegar Hera yang semua orang tahu. Ia tidak mudah menyerah, tidak mudah berpaling, tetap percaya dengan apa yang dipercayainya. Terkadang saat melihatnya ... kamu tahu, Jung, Ibu ingin menjadi sepertinya."
Ingin menjadi sepertinya? Mengapa?
Mengapa Ibu ingin menjadi seperti orang lain?
Bungkam, Jungkook mengatupkan bibir rapat. Ia tidak mengerti dengan apa yang ibunya katakan—bahkan jika ditelaah kembali, ia jelas membutuhkan bertahun-tahun untuk benar-benar memahami kalimat tersebut. Namun sesuatu di dalam hatinya terkoyak. Hancur. Berubah menjadi kepingan. Menggeleng, ia mendesis, "Tapi aku menyukai Ibu apa adanya, kok. Ibu baik. Ibu hangat. Ibu tidak pernah marah."
Kali ini, Tama tertawa hangat. Ia mengusap pipi tembam di hadapannya gemas, menyahut lucu, "Sungguh? JungJung ternyata sesuka itu pada Ibu?"
"Iya!" Bocah lelaki tersebut mengangguk berulang-ulang, menandas tanpa keraguan. "Itulah mengapa, Bu, ayo cepat sembuh. Agar Ibu bisa kembali lagi ke Rumah Utama. Agar Ibu bisa berkumpul lagi dengan semua orang. Padahal aku sudah mengumpulkan banyak kerang biru bersama Kak Jimin dan Lilith. Masa Ibu tidak ingin melihat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Somersault
RomanceSebenarnya, Song Jian mengerti bahwa pernikahannya dengan Jeon Jungkook takkan berjalan normal, apalagi terasa semanis dan sehangat yang semua orang pikirkan. Tetapi dunia yang perempuan tersebut genggam memiliki dinding yang tak bisa dihancurkan se...
